Kamis, 17 Maret 2011

PARTAI DEMOKRAT DAN POLITIK SBY

Sumber Foto: static.inilah.com

(Dimuat dalam Kompas, 16 Maret 2011).

          Hiruk pikuk tuntutan para petinggi Partai Demokrat (PD) agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghukum Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera berakhir sudah. SBY tampaknya lebih memilih mempertahankan Golkar dan PKS tetap berada dalam pangkuan koalisi ketimbang memenuhi tuntutan itu. Mengapa?
        Sinyal terakhir Presiden SBY yang disampaikan dalam rapat kabinet terbatas pekan lalu mengisyaratkan hal itu. Presiden menegaskan tidak ada perombakan kabinet dalam waktu dekat. Itu artinya, tidak ada perubahan formasi sekretariat gabungan parpol koalisi pendukung pemerintah seperti dikehendaki para petinggi PD. Kendati diwarnai riak-riak konflik akibat “kenakalan” Golkar dan PKS, Presiden SBY memilih mempertahankan pasangan lama ketimbang mencari mitra politik baru yang “kesetiaannya” belum teruji pula.
        Pengalaman Kabinet Indonesia Bersatu I (2004-2009) memperlihatkan, betapa pun Presiden SBY hampir selalu diganggu oleh manuver Golkar dan PKS melalui hak interpelasi dan hak angket , hal itu tidak mengurangi komitmen dua parpol tersebut untuk mendukung SBY menyelesaikan masa bhaktinya. Menjelang Pemilu 2009 Golkar yang mencalonkan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto memang sempat “patah arang” dengan PD dan SBY, tetapi kemudian bergabung kembali ke dalam koalisi parpol pendukung SBY. Di sisi lain, meski sempat kecewa karena kadernya belum dipercaya sebagai calon wakil presiden oleh SBY, relasi PKS-SBY kembali harmonis ketika PKS memperoleh empat kursi menteri dalam KIB II (2009-2014).
Problem Demokrat
        Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kemarahan para petinggi PD terkait ulah Golkar dan PKS yang mengambil sikap berlawanan dengan Setgab Koalisi dalam pengajuan hak angket pajak di DPR. Apalagi ini merupakan perlawanan kedua oleh Golkar dan PKS di DPR setelah angket skandal Bank Century pada awal 2010. Karena itu wajar saja jika mereka meminta Presiden SBY mengeluarkan kedua parpol dari koalisi sekaligus mencopot para menteri dari Golkar dan PKS.
        Namun demikian para petinggi PD yang marah, kecewa, dan geram itu melupakan tiga hal. Pertama, kontrak koalisi berlangsung antara pimpinan parpol dan SBY sebagai presiden terpilih Pemilu 2009. Dalam kaitan ini, meskipun PD merupakan basis politik SBY, ia berkedudukan setara dengan lima parpol lainnya yang akhirnya tergabung dalam Setgab Koalisi. Konsekuensi logisnya, SBY lebih “berhak” menilai komitmen dan loyalitas parpol anggota koalisi daripada para petinggi PD lainnya.
        Kedua, sulit dipungkiri bahwa SBY yang meraih sekitar 60,8 persen suara dalam Pemilu Presiden 2009 memiliki legitimasi politik yang jauh lebih besar dibandingkan PD yang hanya meraih sekitar 26,5 persen kursi DPR. Apalagi, faktor penting kemenangan PD dalam pemilu legislatif yang lalu lebih karena popularitas SBY sebagai figur sentral partai ini ketimbang misalnya kemampuan mesin partai dalam memobilisasi dukungan. Itu artinya, sikap politik petinggi PD belum tentu representasi dari sikap politik SBY. Sebaliknya sikap politik SBY hampir pasti menjadi sikap politik PD.
        Ketiga, Presiden SBY sangat sadar akan posisinya sebagai figur sentral partai sekaligus selaku pemimpin koalisi. Kesadaran itulah yang menjelaskan mengapa SBY harus tampak “marah besar” terhadap mitra koalisi, kendati hal itu tidak berarti SBY hendak memenuhi tuntutan politik para petinggi PD lainnya. Strategi ini diperlukan SBY agar tidak tampak didikte secara internal, sekaligus untuk memberi ruang bagi dirinya untuk bernegosiasi kembali dengan parpol mitra koalisi secara eksternal.

Politik SBY
        Bagi Presiden SBY, membangun kemitraan baru dengan parpol calon anggota koalisi yang baru tidaklah sesederhana yang dibayangkan para petinggi PD yang lain. Bisa saja SBY, baik secara langsung maupun melalui para utusannya, terus menjalin kontak dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati dan Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo. Namun belum tentu ada “setrum politik” di balik komunikasi yang dikatakan sering terjalin tersebut. Tidak ada ada jaminan bahwa PDI Perjuangan dan Gerindra lebih setia dalam mengamankan SBY hingga Pemilu 2014.
        Penjajakan atas mitra baru koalisi tampaknya diperlukan SBY untuk menguji komitmen dan loyalitas mitra lama, Golkar dan PKS, apakah benar-benar hendak keluar dan meninggalkan koalisi, atau ingin bertahan di dalamnya. Ketika para petinggi Golkar dan PKS secara publik menyatakan ingin bertahan dalam Setgab Koalisi, betapa pun dilakukan penataan ulang atasnya, SBY tentu memilih untuk mempertahankan dua parpol “nakal” tersebut ketimbang mencoba mitra baru yang memerlukan negosiasi baru dan komitmen baru pula.
        Tampaknya cara berpikir seperti inilah yang tidak diperhitungkan para petinggi PD, sehingga kini mereka bungkam seribu basa ketika Presiden SBY menegaskan tidak ada perombakan kabinet dalam waktu dekat. Sebab itu artinya, tidak ada perubahan formasi koalisi seperti diinginkan para “dayang” SBY di internal PD.
        Jadi, problem terbesar PD saat ini adalah fakta bahwa parpol ini lebih merupakan personifikasi sosok SBY daripada persekutuan ide tentang perubahan bagi bangsa kita–seperti sering didengungkan selama ini. Para petinggi PD boleh saja marah, kecewa, dan geram atas perilaku Golkar dan PKS, tetapi dua parpol bandel ini tetap diperlukan SBY untuk mengamankan pemerintahannya hingga 2014.
        Semua ini tak hanya menggarisbawahi begitu lebarnya kesenjangan kepemimpinan internal PD. Lebih jauh lagi, hal ini menggambarkan dominannya kepemimpinan personal di tengah kebutuhan bangsa kita akan melembaganya kepemimpinan institusional. Soalnya, kegagalan parpol dan juga negara lazimnya bermula ketika kepemimpinan dan kekuasaan politik semakin personal.

Sabtu, 12 Maret 2011

USTADZ HILMI MOMEN RESHUFFLE SUDAH LEWAT


 (Sumber: www.vivanews.com, 09 Maret 2011)
            VIVAnews - Pernyataan Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hilmi Aminuddin atau yang akrab disapa Ustad Hilmi memperkuat pernyataan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq. Bahwa hingga kini, PKS belum diundang untuk bertemu Presiden guna membahas kelangsungan koalisi. Hilmi bahkan mengatakan, momen perombakan kabinet sudah lewat. 
            "Momentumnya sudah lewat. Sudahlah, jangan membuat rakyat terbebani," kata Ustad Hilmi kepada wartawan, Rabu, 9 Maret 2011. Menurut Hilmi, posisi PKS hingga kini adalah berkomitmen untuk menopang koalisi pemerintahan SBY. Tetapi, katanya lagi, semua sangat bergantung kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Yang berhak mengeluarkan atau tidak itu Pak Presiden," ujar Hilmi. Bagi PKS sendiri, semua terlihat baik-baik saja, tidak ada masalah pelik yang dirasakan membelit.
            Hilmi juga menegaskan, PKS hanya memperhatikan pernyataan-pernyataan yang langsung dikeluarkan Presiden SBY selaku Ketua Sekretariat Gabungan Koalisi dan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. "Suara di luar SBY tidak kami perhatikan," dia menegaskan.
            Maka itu, PKS sudah meminta empat menterinya di Kabinet Indonesia Bersatu II untuk fokus bekerja dan tidak terbebani isu perombakan kabinet. "Kami sudah sampaikan kepada menteri-menteri (PKS) agar jangan terganggu oleh statement-statement orang lain."
Hingga kini, dari semua partai anggota koalisi, hanya PKS yang belum bertemu Presiden SBY. Pertemuan terakhir berlangsung antara SBY dengan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, kemarin di Wisma Negara, Kompleks Istana Kepresidenan. (kd)• VIVAnews.

SBY:  KABINET INI BUKAN TEMPAT GILIRAN
TRANSKRIPSI PENGANTAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SIDANG KABINET PARIPURNA
KANTOR PRESIDEN, 10 MARET 2011
Kantor Presiden, Jakarta, Kamis, 10 Maret 2011

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Para peserta Sidang Kabinet yang saya cintai,
            Alhamdulillah, hari ini kita dapat kembali melaksanakan Sidang Kabinet untuk mengagendakan beberapa hal penting. Dalam catatan di sini, sesungguhnya cukup banyak materi yang akan diacarakan dan dibahas dalam Sidang Kabinet hari ini, antara lain, di bidang politik, hukum, dan keamanan adalah pembahasan atau presentasi kepada saya tentang Rancangan Undang Undang tentang keamanan nasional dan Rancangan Undang Undang tentang intelijen negara.
            Dua undang-undang yang penting, tetapi harus tepat, sehingga ketika dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan kemudian diundangkan, itu benar-benar menjawab berbagai persoalan di dalam kehidupan bernegara, sekaligus tetap menegakan demokrasi di negeri tercinta ini.
            Kemudian di bidang kesejahteraan rakyat, sebenarnya ada sejumlah masalah, yaitu rencana pemulangan tenaga kerja Indonesia bermasalah dari Saudi Arabia. Kemudian penjelasan dan kemudian langkah-langkah yang kita lakukan menyangkut susu formula berbakteri dan satu lagi adalah masih di bidang kesra, sistem jaminan sosial nasional.
            Saya terus mengikuti dan menteri-menteri terkait juga sudah melapor kepada saya, tiga hal di bidang kesra itu dan juga sudah saya berikan direction. Tetapi saya berpesan tadi, karena wapres masih berada di luar negeri. Demikian sejumlah yang relevan dengan permasalahan di bidang kesra ini, maka ini kita tunda beberapa hari mendatang, agar lebih lengkap. Dengan catatan, semua tetap dilaksanakan, dijalankan, sebagaimana yang telah saya berikan arahan beberapa saat yang lalu. Sehingga hari ini kita akan fokus kepada mendengarkan presentasi tentang dua RUU yang penting, yaitu keamanan nasional, yang kedua adalah intelijen negara.

Saudara-saudara,
            Sebelum kita masuk kepada agenda utama Sidang Kabinet hari ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan perkembangan situasi politik akhir-akhir ini dan ini penjelasan saya yang resmi kepada jajaran Kabinet Indonesia Bersatu II, termasuk Dewan Pertimbangan Presiden dan semua jajaran yang berada dalam lingkup kabinet. Dua hal, satu, menyangkut isu yang terus santer diangkat di berbagai media massa dan bahkan juga mengisi ruang-ruang publik, utamanya di Jakarta dan juga di beberapa kota atau daerah yang lain. Kemudian setelah reshuffle, isu yang berkenaan dengan koalisi yang juga terus dibicarakan oleh masyarakat luas.
            Saya memandang perlu untuk memberikan penjelasan kepada saudara, karena meskipun saya menahan diri untuk tidak merespon, apalagi bereaksi terhadap isu-isu politik sehari-hari, tetapi dalam perkembangannya sering menyentuh para menteri, yang menurut pendapat saya, kalau tidak saya jelaskan bisa mengganggu konsentrasi tugas kita, tugas saudara, yang juga tiap hari terus dilakukan.
            Pertama, menyangkut isu reshuffle. Ini sudah berminggu-minggu sebenarnya dan arahnya memang menurut saya ada yang kurang logis begitu, karena tetap pada satu titik, saudara-saudara, seolah-olah saya dipaksa, diharuskan, didikte untuk segera melaksanakan reshuffle. Dan kemudian apa yang saya dengarkan mengapa lambat. Ini sesungguhnya ganjil, karena reshuffle itu bukan tujuan, reshuffle itu boleh disebut sarana. Reshuffle dilakukan, manakala ada alasan dan urgensi.
            Pada periode Kabinet Indonesia Bersatu I dulu, saya melaksanakan 3 kali reshuffle, itu pun dengan alasan dan ada urgensi yang memang harus dilakukan reshuffle seperti itu. Tetapi mengharuskan presiden harus reshuffle, harus cepat, bahkan dengan jadwal sendiri, tentu sesuatu yang kurang logis, apalagi kalau mengerti sistem pemerintahan kabinet presidensial. Semua tahu bahwa pengangkatan dan pemberhentian menteri atau anggota kabinet itu adalah prerogratif presiden.
            Presiden tentu dapat melakukan reshuffle sekali lagi, manakala ada alasan, ada urgensi, dan memang diperlukan, agar kabinet itu tetap efektif atau semakin efektif di dalam menjalankan tugas-tugasnya.
            Saudara, saya belum pernah, belum pernah mengatakan, bahwa ya bulan depan akan ada reshuffle, minggu ini akan ada reshuffle, karena arahnya sekarang kenapa tidak segera, apa yang dipikirkan, mengapa lambat, dan seterusnya. Belum pernah. Meskipun saya juga pernah menyampaikan bahwa sangat bisa dilakukan reshuffle, manakala sekali lagi, evaluasi yang saya lakukan dibantu oleh wakil presiden terhadap kinerja kabinet ini yang rujukannya dalah kontrak kinerja dan pakta integritas memang meniscayakan saya untuk melaksanakan reshuffle itu.
            Tetapi sebelum saya mengatakan ya, saya akan melakukan reshuffle atau ini penataan ulang keanggotaan Kabinet Indonesia Bersatu II, maka tentu tidak bisa setiap jam, setiap acara, setiap talk show terus menodong agar presiden melaksanakan reshuffle segera.

Saudara-saudara,
            Masih berkaitan dengan reshuffle, sekarang banyak beredar di media massa sejumlah nama yang dikatakan ini nama-nama menteri yang akan diganti dengan penjelasan mengapa si A diganti, mengapa si B diganti, mengapa si C diganti. Kemudian dimunculkan, lah ini yang layak-layak mengganti. Siapa background-nya begini, yang lain background-background-nya begitu, sehingga itu tepat untuk menjadi menteri ini, menteri itu, dan seterusnya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Menteri Sekretaris Negara kemarin, bahwa nama-nama yang beredar itu, baik yang disebut-sebut akan diganti ataupun yang disebut-sebut sebagai calon pengganti, tidak berasal dari saya. Saya pun tidak tahu-menahu darimana itu keluar.
            Mengapa ini penting? Di waktu yang lalu, hal ini juga terjadi. Banyak beredar nama, ini calon menteri x, ini calon menteri z, ini calon menteri y, dan sebagainya yang saya tidak tahu. Ketika beliau-beliau itu yang diramaikan, yang diunggulkan katakanlah untuk menjadi menteri-menteri itu tidak menjadi menteri, maka sangat tidak senang, bahkan ada yang mengirim SMS kepada saya mengapa mempermainkan saya, mengapa berbohong, mengapa ini dan itu, sesuatu yang sama sekali saya tidak tahu. Saya hanya menginginkan jangan sampai ada apa-apa, karena beredarnya nama-nama itu, karena memang saya sungguh tidak tahu, dan yang jelas nama-nama itu tidak berasal dari saya.
            Saya meminta kepada masyarakat luas untuk sabar, jernih, dan tetap logis, terutama bagi mereka yang terus menggoreng isu reshuffle ini dengan persepsinya sendiri-sendiri. Saya akan melakukan reshuffle, manakala itu sungguh diperlukan ya, tidak perlu harus dipaksa-paksa, harus minggu ini, harus minggu depan. Percayalah bahwa semua itu ada tujuan, ada alasan dan ada aturannya, manakala reshuffle harus saya lakukan.
            Saya juga mengingatkan kabinet ini bukan tempat giliran, bukan tempat untuk ganti-berganti. Marilah kita mendidik diri kita masing-masing. Jadi manakala ada anggota kabinet yang karena satu dan lain hal tidak berlanjut, yaitu karena situasi, bukan karena harus giliran, ini sudah cukup, giliran yang lain. Ini sudah saatnya, kita ambil yang lain, tidak begitu, tidak ada di dunia ini, tidak sistem pemerintahan yang kabinetnya dibikin semacam tempat giliran, ganti-berganti. Semuanya tentu ada alasan, manakala mesti dilakukan pergantian dalam kabinet.
            Oleh karena itu, sebelum ada apa pun menyangkut reshuffle ini atau bahasa terangnya, sebelum saya misalnya harus melaksanakan reshuffle, maka saya minta seluruh menteri tidak terpengaruh oleh isu apa pun. Jalankan tugas sebaik-baiknya, penuhlah dengan, berkonsentrasilah atas tugas saudara-saudara semua.
            Yang kedua, menyangkut koalisi. Saya sedang bekerja untuk menata kembali koalisi yang ada ini. Tentu pekerjaan menyangkut penataan kembali koalisi ini tanpa meniggalkan tugas dan kewajiban saya untuk menjalankan roda pemerintahan. Ya yang kita jalankan sekarang ini, mengatasi masalah dan tugas-tugas lain.
            Komunikasi politik telah dan sedang saya lakukan dengan para pimpinan partai-partai politik yang berkoalisi, ganti-berganti, termasuk pihak-pihak lain yang patut saya ajak berkomunikasi, meskipun tidak menjadi bagian dari koalisi.
            Saya telah melakukan evaluasi selama satu setengah tahun ini tentang koalisi. Saya juga banyak sekali mendapatkan pandangan, usulan, dan rekomendasi dari berbagai kalangan dan saya berkesimpulan memang koalisi ini harus dibenahi, harus ditata kembali. Pembenahan dan penataan kembali sesungguhnya tidak luar biasa. Kita kembalikan saja kepada apa sih hakekat kita berkoalisi. Ini bagi partai-partai politik yang berkoalisi.
            Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno, yang kemudian menjadi Presiden pertama kita dalam pidato yang bersejarah, yang kemudian dikenal dengan Pidato 1 Juni, pidato lahirnya Pancasila. Beliau menyitir Ernest Renan, ketika mendefinisikan what is a nation? Apakah bangsa itu? Dari banyak sekali definisi tentang bangsa, Bung Karno menyitir Ernest Renan mengatakan bangsa itu tiada lain adalah kehendak, mereka yang punya kehendak untuk bersatu, untuk bersama-sama, kehendak.
            Jadi hakekat koalisi itu, ya mereka-meraka yang berkehendak untuk berkoalisi, untuk bersama-sama. Kalau sejak awal punya kehendak, maka the spirit, sikapnya, jiwanya, perilakunya yang mencerminan memang berkoalisi. Sama saja, ayo kita beroposisi. Kehendaknya ya beroposisi, ya jiwanya, ya sikapnya, ya perilakunya, ya statement-nya, dan sebagianya memang beroposisi. Kita kembalikan ke situ, publik juga melihat, apakah the spirit is still alive untuk bersama-sama berkoalisi, apakah semangat dan kehendak itu tetap ada, tetap eksis begitu.
            Saya membawa copy dari kesepakatan partai-partai politik yang bergabung dalam koalisi dengan Presiden Republik Indonesia, sekali lagi sebagai Presiden Republik Indonesia tentang code of conduct atau Tata Etika Pemerintahan Republik Indonesia 2009-2014, karena ini dalam kapsitas saya sebagai presiden, maka forum ini juga tidak keliru. Kalau saya harus sampaikan juga dalam posisi saya sebagai presiden yang menandatangani kesepakatan koalisi ini.
            Saya hanya mau membacakan alenia pertama saja, yang tentu sangat penting dan ini mendasari dari semua kesepakatan koalisi, mendasari apa yang harus dilakukan oleh jajaran koalisi. Bunyinya begini, pada hari ini, Kamis tanggal 15 Oktober 2009, kami pimpinan partai politik x, jadi masing-masing, telah bersepakat untuk berkoalisi, untuk berkoalisi, bukan untuk masing-masing, bukan untuk beroposisi dan mendukung penuh suksesnya pemerintahan SBY-Boediono 2009-2014, baik di bidang eksekutif maupun dalam bidang legislatif.

            Itu bunyinya, baik di bidang eksekutif maupun di bidang legislatif. Kemudian ada 11 butir, sehingga tugas saya sesungguhnya tidak sangat berat untuk melakukan pembenaran dan penataan kembali koalisi ini karena saya hanya ingin mengembalikan kepada sekali lagi, kehendak dulu, semangatnya, komitmennya, ya jiwanya, ya artinya tercermin dalam kebersamaan di antara koalisi sekali lagi, dalam bidang eksekutif dan bidang legislatif untuk mendukung penuh suksesnya pemerintahan yang saya pimpin ini.

Saudara-saudara,
            Apa yang saya kerjakan ini memang juga tidak ada keharusan rampung dalam satu minggu. Saya menerima banyak sekali desakan-desakan segera, segera, segera. Ini beda manakala ada krisis bencana alam, jam itu pun kita melakukan sesuatu. Ada krisis yang berat misalnya, ada ancaman musuh, ya segera. Ini kan kabinet masih ada, politik masih berjalan, kok kenapa harus dibikin satu hari selesai, dua hari selesai. Bisa keliru malahan. Mari kita hormati dan kita pahami bahwa ini sesuatu yang tidak boleh serampangan karena emosional, karena jengkel, karena itu, tidak boleh. Boleh kita jengkel, boleh kita emosional, tapi jangan mengambil keputusan pada saat seperti itu. Setelah jernih, setelah tenang, baru kita melakukan segalanya.
            Saya tadi punya catatan kecil, karena masuk kepada saya, kembali ke reshuffle. Dibanding-bandingkan dulu itu, bisa kok menteri ganti sebulan, bulan depan ganti. Bisanya sih bisa, tetapi saya memilih untuk tidak seperti itu. Ada yang mendengar talk show. Saya juga dengar kebetulan yang mengatakan era dulu malah presiden sepenuhnya yang menentukan menteri, tidak perlu harus dari partai-partai, bisa semua profesional. Konteksnya berbeda. Sekarang ini demokrasi multi partai dengan meskipun sistem kabinet presidensial, tapi demokrasi multi partai.
            Beda dengan sistem kabinet presidensial barangkali ada mayoritas tunggal di DPR barangkali lebih 70% sebuah partai yang mendukung, yang mencalonkan sang presiden. Demikian juga di MPR barangkali amat kuatnya dengan demikian, bisa saja katakanlah apa yang menjadi keinginan presiden, tentu set-up-nya berubah, situasinya berubah. Oleh karena itu, tidak boleh kalau dulu begini, sekarang juga harus begini, berbeda-beda. Semua punya tujuan yang sama, pemerintahan efektif, tugasnya dapat dilaksanakan, politiknya lebih stabil, sehingga pembangunan bisa berjalan.
            Saya ingin memberikan pengertian kepada kita semua, agar realisitik kalau memberikan kritik atau komentar ataupun pandangan-pandangan karena memang sekali lagi, situasi yang berbeda, kondisinya berbeda, pertimbangan dan cara berpikir kita pun tentu berbeda-beda.

Saudara-saudara,
            Itu yang ingin saya sampaikan dua hal. Satu, reshuffle dan satu masalah koalisi dan saya tidak ingin memberikan penjelasan lagi kepada teman-teman wartawan, cukup ini saja, supaya saya bisa bekerja yang lain, bisa memikirkan yang lain, karena semua itu ada konteks dan ada prosesnya masing-masing.

Saudara-saudara,
            Dua hal inilah yang ingin saya sampaikan sebelum kita memasuki Sidang Kabinet kita. Setelah break, saya persilakan kepada Menko Polhukam untuk memberikan pengantar kemudian Menko Kesra, Pak Agung Laksono nanti kita tunda, barangkali Senin atau Selasa setelah nanti, ya setelah acara berikutnya lagi.
Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretariat Presiden

Kamis, 10 Maret 2011

Inilah Babak Akhir Drama "Gonjang-Ganjing Koalisi"

Akhir Drama Reshuffle & Kegagalan Demokrat
Oleh: R Ferdian Andi R
{Sumber; www.inilah.com, Rabu, 9 Maret 2011 | 14:14 WIB}

            INILAH.COM, Jakarta - Drama reshuffle kabinet berakhir tanpa kejelasan apapun. Tidak ada format ulang koalisi sebagaimana dihembuskan pihak Istana dan Demokrat. Partai Demokrat harus memetik hikmah dari proses ini secara baik.
            Gagal. Itulah kata yang tepat diberikan kepada Partai Demokrat. Partai berlambang Mercy inilah yang mula-mula bersuara keras terkait perubahan komposisi kabinet dengan melakukan evaluasi Kabibet Indonesia Bersatu (KIB) II.
Partai Demokrat memanfaatkan momentum usul hak angket yang gagal disepakati dalam sidang paripurna DPR 22 Februari 2011 lalu. Nyatanya hingga sepekan setelah pernyataan Presiden SBY terkait rencana evaluasi kabinet dan beragam manuver politik Istana seperti mendekati PDI Perjuangan dan Partai Gerindra, tidak membuahkan hasil.
            Alih-alih melakukan reshuffle kabinet, Presiden SBY justru melakukan pertemuan dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie yang menyepakati Golkar tetap berada dalam barisan koalisi.
Wakil Sekjen DPP PKS Mahfudz Siddiq menilai kesepakatan antara Presiden SBY dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie menunjukkan sikap presiden sama sekali tidak terpengaruh provokasi elit Partai Demokrat.
            "Ini pertanda bahwa Presiden SBY mengambil keputusan tanpa terpengaruh oleh provokasi dari elite Partai Demokrat," katanya melalui pesan singkat kepada INILAH.COM, Rabu (9/3/2011).
            Situasi seperti ini, dalam pandangan Mahfudz, merupakan pelajaran penting bagi Demokrat yang selama ini agresif menyerang Partai Golkar karena pilihan sikap politiknya mendukung usul hak angket mafia pajak.  "Banyak yang harus diperbaiki dari gaya dan cara Demokrat berkomunikasi dengan sesama unsur koalisi. Istilah saya, gaya dan cara komunikasi Demokrat, tidak SBY banget gitu loh!" cetus Mahfudz.
            Sementara terpisah, Wakil Sekjen DPP PPP Muhammad Romahurmuziy juga meyakini, setelah pertemuan Presiden SBY dengan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie tidak akan terjadi reshuffle kabinet. "Sebaiknya Istana dan khususnya Partai Demokrat tidak lagi melontarkan sinyal-sinyal yang missleading," pinta Romi melalui BlackBerry Messenger (BBM), Rabu (9/3/2011).
            Sebelumnya, Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Poltak Sitompul menegaskan pihaknya akan merasa dipermalukan jika pada akhirnya Presiden SBY tidak melakukan reshuffle kabinet sebagaimana yang diminta partainya. "Taruh dimana muka kita jika tidak terjadi reshuffle kabinet," cetus Ruhut dalam sebuah kesempatan.
            Hiruk pikuk reshuffle kabinet yang hampir dua pekan menyita perhatian publik ada baiknya segera dihentikan. Selain tidak produktif bagi penyelesaian persoalan mutakhir kebangsaan yang jauh lebih mendesak, bila wacana ini terus dintrodusir ke publik justru semakin mempermalukan muka Partai Demokrat dan tentunya Istana Kepresidenan di depan publik. Partai Demokrat harus lebih banyak belajar lagi. [mdr]

Mensesneg Sudi:
Tidak Ada Reshuffle Kabinet. Demokrat Pembohong!
{Sumber: http://www.rimanews.com/lRabu, 9 Mar 2011 05:50 WIB}


            JAKARTA, RIMANEWS - Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi mengatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum akan melaksanakan reshuffle Kabinet Indonesia bersatu (KIB) II dalam waktu dekat. "Untuk diketahui oleh rakyat Indonesia, hingga saat ini, Presiden belum pernah secara resmi bicara tentang dilaksanakannya reshuffle kabinet dalam waktu dekat," katanya dalam jumpa pers di Kantor Kepresidenan, Rabu (9/3/2011).
            Sudi menegaskan, selama ini SBY tidak pernah menyebut nama-nama menteri yang akan diganti dan nama-nama yang akan menjadi menteri.
"Meskipun, Presiden mengatakan sangat bisa reshuffle dilaksanakan manakala diperlukan," kata Sudi lagi.
            Oleh karena itu, menurut Sudi, nama-nama yang beredar di media massa jelas bukan berasal dari Presiden SBY. Dan juga tidak sepengetahuan dari Presiden SBY. "Dimasa lalu, dengan hal dan kasus yang sama, banyak yang marah kepada Presiden SBY ketika seseorang namanya sudah muncul di media massa, kemudian tidak menjadi menteri," ujarnya.
            Sebelumnya, politisi partai Gerindra Desmon Junaidi Mahesa mengatakan Partau Gerindra putus asa dan memilih untuk tidak lagi percaya pada SBY. “Mengapa kami harus berharap lagi pada SBY dan tawarannya. Masa kita percaya dengan orang yang plintat-plintut?” kata politisi partai Gerindra Desmon Junaidi Mahesa, Selasa (8/3/2011).
            Menurut Desmon, Bola Reshuffle sudah berada di tangan SBY. SBY tinggal menendangnya. Namun, keraguan berlebihan SBY menyebabkan Gerindra tidak bisa memahami semua keinginan Demokrat untuk berkoalisi dengan Gerindra. “Kalau mau reshuffle sekarang, secepatnya. Jangan menunggu-nunggu,” tegasnya. Dengan demikian, kata Desmon, Gerindra merasa semua keputusan soal berkoalisi dan tawaran menteri telah usai. Gerindra sudah tenang dan tidak lagi melakukan konsolidasi internal berlebihan untuk bahas soal koalisi dengan Demokrat.
            “Sudah tidak ada lagi pertemuan-pertemuan internal. Sudah selesai. Bagi kami, Demokrat itu pembohong,” ujarnya.(ian/inil)

Sikap Plintat Plintut SBY Sungguh Mengecewakan PPP, Demokrat Pembohong!
{Sumber: http://www.rimanews.com/Kamis, 10 Mar 2011 10:54 WIB}

            JAKARTA, RIMANEWS - Wasekjen DPP PPP Arwani Thomafi mengaku partainya tidak kecewa meski seandainya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) gagal melakukan reshuffle kabinet.
            "Tidak. Karena ukuran reward dan punishment bagi PPP tidak melulu reshuffle. Itu menabrak prerogatif Presiden. Tidak baik selalu memaksa dan mendorong-dorong Presiden untuk melakukan reshufle," ujar Arwani Rabu (9/3/2011) malam.
            Menurut anggota Komisi VIII DPR ini, penegasan Menseskab Sudi Silalahi bahwa tidak akan ada reshuffle dalam waktu dekat tentu mengecewakan bagi pihak-pihak yang sudah tak sabar dilakukan reshuffle.
            "Tentu ini mengecewakan bagi politisi dan pihak yang sudah ngebet dengan reshufle. Dari awal PPP mengembalikan sepenuhnya kepada SBY. Pak SBY pasti punya strategi jitu untuk memberikan reward and punishment terhadap dinamika di Setgab," terangnya.
            Namun, menurut Arwani, PPP menginginkan agar SBY melakukan evaluasi terhadap Sekretariat Gabungan (Setgab) koalisi. "Bagi PPP, yang penting dilakukan oleh SBY adalah mengevaluasi setgab. Apakah evaluasi harus berujung pada reshufle atau tidak, kita serahkan dan percaya penuh pada SBY," tandasnya.

Partai Demokrat Pembohong
            Politisi partai Gerindra Desmon Junaidi Mahesa mengatakan Partau Gerindra putus asa dan memilih untuk tidak lagi percaya pada SBY. “Mengapa kami harus berharap lagi pada SBY dan tawarannya. Masa kita percaya dengan orang yang plintat-plintut?” kata politisi partai Gerindra Desmon Junaidi Mahesa, Selasa (8/3/2011).
            Menurut Desmon, Bola Reshuffle sudah berada di tangan SBY. SBY tinggal menendangnya. Namun, keraguan berlebihan SBY menyebabkan Gerindra tidak bisa memahami semua keinginan Demokrat untuk berkoalisi dengan Gerindra. “Kalau mau reshuffle sekarang, secepatnya. Jangan menunggu-nunggu,” tegasnya. Dengan demikian, kata Desmon, Gerindra merasa semua keputusan soal berkoalisi dan tawaran menteri telah usai. Gerindra sudah tenang dan tidak lagi melakukan konsolidasi internal berlebihan untuk bahas soal koalisi dengan Demokrat.
            “Sudah tidak ada lagi pertemuan-pertemuan internal. Sudah selesai. Bagi kami, Demokrat itu pembohong,” ujarnya.(ian/inil)

Gerindra Merasa Diperalat SBY. Itulah Politik SBY. Jangan Blo'on Dong
{Sumber: http://www.rimanews.com/Kamis, 10 Mar 2011 09:25 WIB}
            JAKARTA,RIMANEWS- Gerindra menilai  SBY memperalat Gerindra untuk menekan partai lain, Itulah politik, siapa menipu dan memperalat siapa.  itulah politik, Gerindra jangan bloon. Anggota Komisi III Desmond J Mahesa dari fraksi Gerindra menegaskan bahwa partainya digunakan untuk menggertak partai lain seperti partai Golkar dan PKS.
            "Kami bicara tentang banyak hal yang menurut kami jadi alat ancaman. Kami dipakai untuk menekan partai lain. Tidak benar ini. Seolah dia (Demokrat) merangkul kami untuk menggertak PKS dan Golkar," ujar Desmond kepada wartawan di gedung DPR, Rabu (9/3).
Ketika ditanya apakah pemerintah terkesan berbohong dengan berupaya merangkul Gerindra dan Gerindra merasa dipermainkan, politisi partai Gerindra tersebut dengan lugas mengatakan citra SBY sebagai pembohong sudah melekat sejak awal.
           "Bagi kami sejak awal, sudah ada vonis bahwa ini pemerintahan pembohong. SBY track record-nya sebagai pembohong. Ada menteri yang dipanggil terus berubah lagi, hal begini sudah biasa, yang nampak di depan mata, dia berani menunjukkan trik kebohongan. Orang yang lagi berkuasa menggunakan jurus mabuk, dan Gerindra membaca ini sebagai orang mabuk," cetusnya.
           Gerindra konon meminta dua jatah menteri di Kabinet Bersatu jilid II SBY yaitu Menteri Pertanian dan Menteri BUMN. Namun, menurut Desmond partainya tidak meminta secara frontal. Gerindra hanya memberikan portofolio, selanjutnya diserahkan kepada presiden.

Isu Reshuffle Dianggap Cuma Gertakan

{sUMBER: TEMPOINTERAKTIF.COM, KAMIS, 10 MARET 2011 | 05:26 WIB}
            TEMPO Interaktif, Jakarta - Politikus PDI Perjuangan, Pramono Anung Wibowo, menyatakan perkiraan partainya benar bahwa semua manuver selama dua pekan terakhir ini hanya gertak-menggertak antarpartai koalisi. "Ini bagian dari bagaimana saling memiliki leverage, posisi, kekuatan, dan kedudukan," katanya di gedung DPR, Jakarta, kemarin. 
            Menurut dia, tawaran kursi menteri kepada PDI Perjuangan adalah bagian dari gertak sambal Demokrat terhadap Partai Golkar. "PDIP tak mau diposisikan sebagai bumper atau untuk menakuti-nakuti." Bekas Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan ini menuturkan, perombakan kabinet tak akan menghasilkan perubahan yang signifikan.
            Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menawarkan kursi menteri kepada partai banteng lewat Ketua PDI Perjuangan Puan Maharani, yang juga putri Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan Taufiq Kiemas. Pramono mengatakan tawaran itu adalah masa lalu. "Apa lagi yang mau dibuka?" ujar Pramono, yang juga Wakil Ketua DPR.
            Ternyata Presiden tak memberi sanksi apa pun bagi Golkar, yang sebelumnya dianggap pembangkang bersama Partai Keadilan Sejahtera. Dua partai koalisi itu mensponsori usul hak angket mafia pajak di DPR, yang akhirnya gagal. Sebelumnya, Golkar dan PKS menyorongkan hak angket Bank Century, yang berhasil lolos. 
            PKS, yang sebelumnya santer dikabarkan akan diusir dari koalisi, belakangan hanya akan dikurangi jatah kursi menterinya, yang semula empat. Partai Gerindra terang-terangan meminta dua kursi, yakni Menteri BUMN dan Menteri Pertanian, untuk bergabung dalam koalisi. 
            Menurut Ketua Pertimbangan Pusat PDI Perjuangan Taufiq Kiemas, keputusan menerima atau menolak tawaran Presiden ada di tangan Puan. "Ibu Mega menyerahkan keputusan kepada Mbak Puan,” ujarnya kemarin. "Puan belum menjawab." Puan dikabarkan meminta posisi Menteri Komunikasi dan Informatika, yang kini diduduki Tifatul Sembiring dari PKS. Namun Taufiq mengakui bahwa Presiden belum mengajak partainya berbicara secara resmi. “Belum dipanggil Presiden,” katanya.
            Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustopa, pada Ahad lalu, mengatakan PDI Perjuangan tak mungkin masuk koalisi. Alasannya, komunikasi dengan Megawati sulit tercapai, meski partainya sudah mendekati sejumlah elite partai ini, termasuk Taufiq. 
            Namun, dua hari lalu, sejumlah tokoh muda Demokrat membuka lagi peluang untuk PDI Perjuangan. Bahkan sangat mungkin jatah tiga menteri bakal diberikan, yaitu Menteri Sosial, Menteri BUMN, dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. "Platform PDI Perjuangan dengan Demokrat tak berbeda," ujar Ketua Departemen Keuangan Demokrat Ikhsan Modjo dalam keterangan pers. Hadir pula dalam acara ini Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan Demokrat Ulil Abshar Abdala dan Sekretaris Departemen HAM Demokrat Rachland Nashidik.
            Namun Ulil mengakui, tak mudah menjalin koalisi dengan PDI Perjuangan karena akan terganjal keputusan kongres dan sikap politik Megawati. Kalau koalisi dengan partai banteng gagal, konstelasi politik akan berubah. "Tapi ada batas untuk reshuffle dan tak bisa menunggu terlalu lama," katanya.
L Febriyan | Aditya Budiman | Jobpie S.

Mensesneg, Sudi Silalahi: Tidak Ada “Reshuffle”!

Sumber Foto: Harian Pelita

{Sumber: http://www.harianpelita.com/Kamis 10 Maret 2011 | 00:20}
        Mensesneg Sudi Silalahi menegaskan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak akan melakukan reshuffle kabinet dalam waktu dekat ini, pada saat yang sama Partai Gerindra mengaku hanya “diperalat” untuk menekan partai lain. 
        Penegasan tidak akan ada reshuffle disampaikan Mensesneg Sudi Silalahi dalam jumpa pers khusus di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (9/3). 
        "Jadi reshufle tidak dalam waktu dekat, tapi reshuffle itu bisa dilaksanakan kalau diperlukan," kata Sudi. Menurutnya, Presiden saat ini tengah melakukan evaluasi terhadap kinerja para menteri. Dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh UKP4 inilah, akan diputuskan apakah Presiden akan me-reshuffle kabinetnya atau tidak. 
        "Itulah gunanya saya sore ini (kemarin sore-Red) memberi penjelasan resmi. Bahwa Presiden sekali lagi belum pernah sampaikan dalam waktu dekat akan melakukan reshuffle. Kalau pun ada sekali lagi itu akan dilakukan sesuai kinerja dan integritas," tegasnya.
        Sudi menambahkan, Presiden belum pernah mengatakan secara resmi akan melakukan reshuffle. Kalau pun ada reshuffle, dasarnya kontrak kinerja dan pakta integritas. 
        "Kontrak kinerjanya karena masih panjang 3,5 tahun lagi. Kalau yang bersangkutan tidak bisa memperbaiki kontrak kinerjanya, bisa berakhir pada penggantian," kata Sudi.
        Setelah pertemuan antara Yudhoyono dengan Aburizal Bakrie (Ical), Selasa kemarin, drama soal perubahan koalisi dan reshuffle semakin ambruk. Meski belum bertemu dengan petinggi PKS, sejumlah kalangan meyakini “damai” serupa dengan Golkar juga akan terjadi dengan PKS. 
        Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq malah bercanda kemungkinan yang dipanggil Presiden Yudhoyono itu adalah partai yang bermasalah untuk menunjukkan partainya tidak bermasalah dengan Yudhoyono.
        Isu reshuffle sebagai isapan jempol itu semakin terlihat saat anggota Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri memastikan PKS tetap berada dalam koalisi. 
        Salim Segaf yang juga Menteri Sosial ini mengatakan bahwa tidak akan ada perombakan di koalisi, kemungkinan besar hanya menyegarkan kembali 11 Komitmen Koalisi. 
        “PKS tidak akan keluar dari koalisi,” tegas dia di sela-sela Raker dengan Komisi VIII DPR, di Gedung DPR, Jakarta, kemarin. Yang ketiban kecewa adalah Partai Gerindra, yang sebelumnya disebut-sebut ditawari dua kursi menteri. Masalahnya, hingga kemarin surat syarat koalisi yang mereka kirimkan ke Presiden Yudhoyono juga belum dibalas.
        "Kami ini jadi alat ancaman untuk partai lain. Tidak benar, tapi bagi kami biasa-biasa saja," kata anggota Komisi III DPR dari Gerindra Desmond J Mahesa. 
        Dia berkisah, pendiri partai ini, Prabowo, malah tertawa menanggapi kemungkinan tidak masuk dalam koalisi. "Gerindra ini miskin pengalaman, benturan ini akan memperkaya pengalaman kami," kata Desmond.
        Apakah partainya menganggap Demokrat bohong? "Bagi kami sejak awal soal bohong atau tidak sudah ada vonis pemerintah berbohong dan cenderung berbohong. Apa yang terjadi ini sudah karakter. Anggito Abimanyu itu kan sudah bukan rahasia lagi," sindirnya. Anggito Abimanyu adalah calon Wakil Menkeu yang dibatalkan pemerintah. 
        “Apa yang tampak di depan mata saja berani melakukan kebohongan, apalagi yang tidak,” tambahnya.  Sejak awal, lanjutnya, Gerindra berbicara apa adanya. Jika persiapan menteri untuk duduk di kabinet dikemukakan dinilai sebagai euforia, Desmond mempersilakan saja adanya penilaian itu. 
        "Politik itu ada yang pintar, ada yang bodoh. Ada yang berkuasa ada yang tidak. Ini sejak awal Gerindra membaca, yang berkuasa seperti menggunakan jurus mabok," kata Desmond.

Komentar Politisi 
        Melihat perkembangan ini, sejumlah politisi DPR juga mengaku telah mencium aroma tidak akan ada reshuffle kabinet sejak pertemuan Yudhoyono dengan Ical. 
        Pandangan itu antara lain disampaikan mantan Sekjen PDIP Pramono Anung dan Wasekjen PPP Romahurmuzy. "Sebenarnya ini hanya gonjang-ganjing, ancam-mengancam, gertak-menggertak. Ini hanya bagian dari keinginan mempunyai posisi, kekuatan, kedudukan, dan sebagainya," kata Pramono. 
        Wakil Ketua DPR ini juga mengungkapkan, evaluasi koalisi yang dilakukan Presiden SBY hanya bertujuan meluruskan bangunan koalisi yang mulai rapuh. "Dari awal kita tahu tidak ada hal yang sifgnifikan yang akan berubah. Padahal seharusnya SBY lebih fokus melakukan perbaikan karena ini periode kedua beliau," ucap Pramono. 
        Jika pun dilakukan reshuffle menteri, Promono menyakini, Presiden SBY hanya akan melakukannya sebagian kecil, dan tidak memenuhi ekspektasi publik. Pasalnya, jelas Pramono, Presiden SBY akan berhati-hati melakukan reshuffle karena bisa menuai respons keras dari mitra koalisi.
        Menurut Romy, panggilan akrab Romahurmuzy, isu reshuffle dipicu sejak munculnya UKP4 yang bertugas mengevaluasi menteri. Isu itu semakin kencang setiap ada pergolakan politik di DPR, seperti kasus Bank Century, dan terakhir kasus hak angket pajak.
        Dikatakan Romy, apabila Presiden tetap melakukan atau tidak melakukan reshuffle tidak mengubah peta koalisi. Dirinya berharap politisi Partai Demokrat (PD) menghentikan pernyataan-pernyataan yang tidak sejalan dengan Presiden. 
        "Tidak boleh lagi ada tipuan politik, karena biaya dan energinya sangat besar," tegas Romy. (cr-14/kh/jon)

PKS MERASA TAK MENANTANG, DEMOKRAT JANGAN JERUMUSKAN SBY

PKS Merasa Tak Pernah Tantang SBY
{Sumber: www.jpnm.com,
Rabu, 09 Maret 2011 , 21:57:00}

            JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menegaskan bahwa mengusung angket mafia pajak bukan berarti untuk menantang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku pimpinan koalisi. Presiden DPP PKS, Luthfi Hasan Ishaaq, menyatakan, persoalan yang ada sebenarnya karena PKS dengan Demokrat berbeda dalam memandang masalah pajak.
            Namun Luthfi menganggap perbedaan cara pandang itu pula yang dibesar-besarkan oleh kubu Demokrat. Dalam jumpa pers di ruang Fraksi PKS DPR, Rabu (9/3), Luthfi justru menegaskan bahwa PKS berkoalisi dengan Presiden SBY dan bukan dengan Demokrat.
            “Kami berkoalisi dengan SBY, bukan dengan PD. Kalau dengan PD kami sejajar dan oleh karena itu kami memiliki cara pandang sendiri dan PD pun demikian dalam melihat persoalan pajak," ujar Luthfi.
            Karenanya, PKS mengusung angket mafia pajak karena menganggap perlu upaya luar biasa dalam mengatasi persoalan pajak di tanah air. Sementara Demokrat, sebut Luthfi, ingin penyelesaian mafia pajak dengan cara biasa saja. "Kami melihat bahwa persoalan pajak harus diselesaikan dengan cara extraordinary, sementara Demokrat dengan cara biasa," ucapnya.
            Lebih lanjut dipaparkannya, justru Demokrat seolah-olah melemparkan bola panas ke arah SBY dengan meminta reshuffle. Hanya saja, kata Luthfi, bola panas itu justru menjadi dingin ketika sudah sampai di SBY. 
            Karenanya PKS menganggap reshuffle lebih karena keinginan Demokrat, dan bukan keinginan SBY. "Kalau sifatnya top down (dari SBY) dan merupakan keinginan SBY tentunya kami ikuti,” imbuhnya.
            Lantas bagaimana jika Presiden SBY memang menginginkan perombakan format koalisi? Luthfi mengatakan, PKS akan setia memegang aturan koalisi. Yang pasti, imbuhnya, PKS jelas ingin ikut merumuskan aturan koalisi itu.
            "Tentu PKS akan diajak dialog karena SBY figur yang dialogis. Jika ada perubahan code of conduct, tentu PKS akan diberi waktu mempelajarinya,” imbuh Luthfi.
Sedangkan Wakil Sekjen DPP PKS Mahfudz Siddiq menambahkan, banyak hal yang harus diperbaiki Demokrat dalam berkomunikasi dengan sesama anggota koalisi. Mahfudz menyebut ada perbedaan mencolok antara gaya dan cara politisi Demokrat dengan SBY.
            Karenanya, imbuh Mahfuz, PKS lebih menunggu pembicaraan soal koalisi dengan SBY langsung. “Posisi PKS tetap menunggu komunikasi antara SBY dengan pimpinan PKS,” pungkasnya.(ara/jpnn)

Wasekjen PKS, Mahfudz Siddiq:
Demokrat Jangan Jerumuskan SBY
Oleh: Windi WIDIA NINGSIH
{Sumber: www. inilah.com, selasa, 8 Maret 2011, 12:30 wib}

            INILAH.COM, Jakarta - Wasekjen PKS Mahfudz Siddiq menilai belum juga keluarnya keputusan Presiden SBY soal koalisi menunjukan desakan-desakan elit Partai Demokrat telah menjadikan blunder politik bagi Presiden SBY.
            "Inilah blunder politik yang dihadapi Presiden SBY akibat sikap dan manuver politik sejumlah elit PD. Mereka didorong oleh kemarahan sesaat, disisipi kepentingan-kepentingan tersembunyi, namun tidak mengkalkulasi implikasi serius yang harus ditanggung oleh Presiden SBY," tulis Mahfudz Siddiq dalam keterangan yang diterima wartawan, di Jakarta, Selasa (8/3/2011).
            Menurut Mahfudz, elit Partai Demokrat sudah melempar bola panas ke Presiden yang 'dipaksa' mengambil keputusan berat serta beresiko politik besar. Mahfudz menduga dalam desakan reshuffle terhadap Golkar dan PKS pastilah ada kepentingan-kepentingan elit demokrat untuk menggantikan posisi menteri-menteri yang keluar.
            "Jika alasan kinerja maka tidak otomatis bisa membidik menteri-menteri dari Golkar dan PKS. Jika gara-gara angket, maka bisa dipastikan Presiden SBY akan kehilangan dua partai pendukungnya di koalisi. Resiko yang terlalu berbahaya," tulisnya.
            Belum lagi, lanjut dia Presiden SBY akan dipusingkan dengan mencari unsur koalisi baru pengganti Golkar dan PKS, melalui tawaran politik ke PDIP dan Gerindra. "Ini bukan perkara mudah, dan kalaupun bisa diajak masuk namun dengan kompensasi yang sangat besar tapi juga rawan terhadap gejolak baru. Akhirnya, jika negosiasi dengan PDIP dan Gerindra gagal, Presiden SBY terperangkap dalam pilihan tidak ada pilihan (choice of no choice)," jelasnya.
            Dan jika Presiden SBY mengambil opsi melepas PKS namun tetap mempertahankan Golkar. Kesulitan yang akan dihadapi adalah membuat penjelasan rasional atas pilihan ini. Mahfudz juga menyakini bahwa Presiden SBY tidak mendapatkan penjelasan utuh dan obyektif tentang persoalan dan akar persoalan yang sebenarnya.
            Sejumlah unsur partai koalisi sudah sejak lama mengeluhkan pola komunikasi dan koordinasi koalisi yang dikomandani Demokrat, khususnya di DPR. Misalnya dalam kasus usul angket mafia pajak, setgab belum sampai pada kesepakatan bersama. Belum lagi sikap balik badan FPD sebagai penginisiasi usul tersebut. [bay]

Selasa, 08 Maret 2011

DI BALIK GONJANG-GANJING KOALISI, TERNYATA INILAH MASALAH SEBENARNYA

SBY Jadi Malu Sekali
PKS & Golkar Ditendang,

Kasus Pajak Group Ancora akan Meledak jadi Angket DPR?

{Kliping ini bersumber dari: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7352531}
Senin, 07/03/2011 15:36 WIB
PKS Tak Perlu Gusar, Golkar Tak Perlu Balas Dendam

          Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) hingga kini masih bersikap menunggu. Partai dakwah ini sedang menanti sikap apa yang akan diambil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), usai evaluasi atas koalisi yang dilakukan selama beberapa hari terakhir.
          Evaluasi terhadap partai koalisi dilakukan SBY merupakan buntut dari usulan hak angket mafia pajak yang digelontorkan di DPR. SBY dan Partai Demokrat (PD) merasa kecewa dengan sikap Golkar dan PKS yang berseberangan dalam bersikap terkait usulan hak angket tersebut.
          Sikap PKS dan Golkar yang berseberangan dengan PD, sebagai pimpinan koalisi bukan kali ini saja. Sebelumnya PD juga merasa terpukul dengan sikap kedua partai tersebut dalam kasus Bank Century. Namun kala itu PD dan SBY masih bisa memaklumi. Bahkan usai kisruh Century di DPR SBY kemudian membentuk sekretariat gabungan (Setgab) sebagai wadah menyatukan pendapat.
          Saat ini SBY sedang menimang-nimang perubahan dalam koalisi berikut kabinetnya. Ada kemungkinan beberapa menteri dari PKS bakal tergusur dengan masuknya Gerindra dalam jajaran koalisi.
          Sementara nasib Golkar masih menunggu kepastian sikap PDIP. Jika partai yang dipimpin Megawati sepakat bergabung, maka SBY tentu akan merelakan Golkar hengkang dari koalisi dan dari kabinet.
          Tapi akankah SBY punya keberanian mendepak PKS dan Golkar? "Harusnya SBY tidak usah takut. 60 Persen rakyat itu mendukung SBY. Tapi kalau mau reshuffle untuk kepentingan rakyat harus jelas. Jangan hanya pepesan kosong," jelas pengamat politik pengamat politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) J Kristiadi.
            Sumber detikcom di PKS malah menuding sikap PD yang menolak usulan hak angket justru yang perlu dicurigai. PD dituding ingin menghalangi upaya pemberantasan mafia pajak yang diduga melibatkan orang-orang di sekeliling istana.
          Namun sumber tersebut tidak mau menyebut siapa dan kasus apa yang diduga akan dilindungi. "Coba saja buka di google soal Ancora," begitu saran sumber tersebut melalui pesan singkatnya.
            Kasus dugaan pengemplangan pajak PT Ancora Grup yang melibatkan Ketua BKPM Gita Wirjawan, memang menjadi salah satu bidikan Hak Angket Mafia Pajak DPR. Para pengusul hak angket berkeinginan mengungkap kasus tersebut seterang-terangnya. Kalangan DPR menilai penanganan kasus Ancora dinilai sangat lamban sehingga perlu didorong lewat Panja Pajak DPR.
Namun upaya ini justru dianggap bakal menghancurkan reputasi SBY dan PD. Sebab selain punya hubungan khusus dengan SBY, Gita sangat dipercaya SBY untuk duduk sebagai Ketua BKPM. Bahkan Gita sempat ramai disebut bakal menjadi Meneg BUMN menggantikan Mustafa Abubakar.
Alasan itulah yang membuat sikap PD berubah. PD yang sebelumnya mendukung hak angket langsung berbalik arah ketika tahu salah satu agendanya membongkar kasus pajak PT Ancora Grup, bukan untuk mengungkap kasus mafia pajak yang dilakukan Gayus Tambunan semata.
Bila PKS akhirnya dikeluarkan dari koalisi, sementara Golkar tetap aman, keputusan SBY ini tentu saja mengherankan. Karena dua parpol tersebut sama-sama mendukung pembentukan Pansus Mafia Pajak. "Kalau PKS disingkirkan apa dosanya PKS? Ada 11 agrement, dan bila melihat itu sangat sulit menilai mana yang menyimpang. Lalu kenapa Golkar yang juga galak bisa bebas dari dosa itu?" kritis J Kristiadi.
Kristiadi mengimbau PKS tidak perlu gusar bila dikeluarkan dari koalisi. Sementara Golkar bila jadi didepak disarankan tidak perlu balas dendam. Berada di luar pemerintahan justru memberi peluang bagi PKS untuk menunjukkan sebagai partai yang berkarakter yang akan selalu bersikap adil dan profesional.
"PKS Tidak perlu takut. Perjuangan itu kan jangka panjang. Golkar tidak perlu balas dendam, ngapain balas dendam? Kalau kita punya niat luhur, di luar atau di dalam kekuasaan itu sama mulianya," pungkas Kristiadi.

Inilah Prioritas Panja Pajak Komisi III

           INILAH.COM, Jakarta, - Ketua Panja Mafia Pajak Komisi III DPR Tjatur Sapto Edy memastikan akan memproses kasus dugaan penyelewengan pajak yang dilakukan PT Ancora Mining Service (AMS). Hal itu dilakukan setelah panja memproses kasus Gayus Tambunan.
          "Semua laporan akan ditindaklanjuti, termasuk kasus Ancora. Kita sudah susun semua jadwalnya, kita kan harus ada skala prioritas," ungkap Tjatur Sapto Edy kepada wartawan, Selasa (1/2/2011).
Dia menegaskan, Panja akan melakukan pemeriksaan secara intensif agar semua pihak yang terkait ikut diusut, Sebab, belajar dari pengalaman sebelumnya, ada pihak-pihak yang diusut tapi ada juga yang tidak diusut.
"Kita akan memulai dengan memangggil Pak Ito (Komjen Ito Sumardi) ke Panja," ungkapnya. Menurut Tjatur, Panja akan bekerja hingga April 2011, sehingga selama tiga bulan ke depan semua pihak-pihak yang terkait akan dipanggil untuk dimintai keterangannya. Termasuk pejabat negara seperti Kepala BKPM Gita Wiryawan juga akan dipanggil terkait kasus Ancora.
"DPR kan punya upaya seperti dijamin konstitusi untuk memanggil para pejabat negara yang terkait kasus pajak. Kalau ada yang dipanggil tidak hadir, nanti akan ada upaya untuk menghadirkan. Kan DPR punya kemampuan untuk memanggil paksa, karena DPR punya hak untuk itu yang dijamin konstitusi," paparnya.
Setelah pemanggilan dan pemeriksaan selesai, kata dia, sekitar awal April atau akhir Maret, Panja akan memberikan rekomendasi-rekomendasi kepada lembaga penegak hukum, terutama jika terkait kasus pidana.
Koordinator Forum Masyarakat Peduli Keadilan (FMPK), Yosef Rizal menyambut baik rencana Panja memanggil Gita dalam kasus Ancora. Menurutnya, kasus ini sebetulnya tidak rumit jika pihak berwenang seperti Ditjen Pajak mau menyelidiki laporan keuangan Ancora.
"Jika berniat serius tidak sulit, karena banyak kejanggalan dalam laporan keuangan Ancora. Berdasarkan data yang kami telusuri, diduga kuat Ancora melakukan praktik pembukuan ganda. Selain itu, modus ini juga ditengarai dilakukan di perusahaan dalam group Ancora lainnya. Ini jelas pelanggaran hukum," ungkap Yosef.
Mengomentari pernyataan Gita yang menyatakan dirinya sudah melimpahkan wewenang di Ancora, Yosef menegaskan, Gita tidak bisa begitu saja lepas tangan dari kasus ini.
"Menurut informasi yang saya dapatkan, kira-kira dua sebelum dia dilantik sebagai Kepala BKPM, dia mengundurkan diri. Jadi, sekitar 20 Oktober 2009 dia mengundurkan diri. Sementara kasus pajak Ancora itu terjadi saat 2008, berarti dia masih menjabat pimpinan Ancora. Jadi dia tidak bisa lepas tangan," beber Yosef.
Anehnya lagi, ungkapnya lebih lanjut, AMS dilikuidasi sejak 27 Januari 2010 sebagaimana dilaporkan ke Ditjen Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan Ham.
"Ini menimbulkan pertanyaan yang cukup besar, kenapa perusahaan yang menurut laporan keuangan internalnya membukukan keuntungan cukup besar tapi tiba tiba ditutup. Ini sangat janggal. Jangan-jangan ini bagian dari skenario dia untuk menutupi borok-borok dia di masa lalu. Ini patut dicurigai sebagai upaya menghilangkan jejak hitam dan keborokan," tandasnya. [mah]

DUGAAN MANIPULASI PAJAK
Meski Disorot, Ancora Group Terus Ekspansi


          JAKARTA (Suara Karya): Kiprah Ancora Group makin menjadi sorotan banyak kalangan. Dugaan kasus manipulasi pajak oleh salah satu anak perusahaan ternyata tidak menyurutkan ekspansi Ancora Group.
Perusahaan multinasional milik Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita I Wirjawan ini diketahui terus melakukan pengembangan usaha yang cukup signifikan. Meski terindikasi melakukan penyelewengan kasus pajak, anak usaha Ancora Group justru terus bertambah.
"Dalam kurun waktu 2009-2010 saja, Ancora Group memiliki puluhan anak perusahaan. Jumlah ini cukup fantastis untuk seukuran perusahaan yang baru tiga tahun ini go public (melantai di Bursa Efek Indonesia)," kata pengamat pasar modal Yanuar Rizky kepada wartawan di Jakarta, Selasa (18/1).
PT Ancora Indonesia Resources diketahui baru terdaftar di BEI sejak medio 2008. Proses pencatatan saham dinyatakan bermasalah, sehingga mendapatkan sanksi dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam-LK).
"Menurut catatan saya, Ancora ini terdaftar di bursa efek melalui proses yang tidak benar. Jadi mengakuisisi perusahaan di bursa efek untuk kemudian menggunakan hasil penjualan sahamnya untuk membeli saham anak usahanya sendiri," ujarnya.
Hal ini yang dinilai oleh Bapepam-LK sebagai pelanggaran serius. Hingga akhirnya Ancora Resources yang terdaftar dengan kode OKAS harus membayar denda sekitar Rp 1 miliar. Rekam jejak Ancora sebenarnya tidak terlalu bagus dari sisi manajemen. Dalam bisnis portofolio, beberapa kali perusahaan ini melanggar aturan pasar modal.
"Pada right issue (penawaran saham lanjutan) pertama, mereka didenda Bapepam karena terindikasi melakukan ekspansi yang menimbulkan benturan kepentingan. Saya dengar di right issue yang kedua nanti, akrobat semacam ini akan dilakukannya lagi," ujar Yanuar.
Dengan performa seperti ini, sulit bagi perusahaan untuk menghindari penilaian negatif masyarakat, terutama kalangan investor. Apalagi, pemilik saham kelompok usaha Ancora merupakan investor asing yang dikenal mengedepankan manajemen perusahaan yang baik.
"Melalui jaringan multicapital investment, Ancora banyak menyerap dana asing dalam postur kepemilikan saham di beberapa anak perusahaan. Syaratnya tentu perusahaan harus bankable dan tidak melanggar aturan. Namun, sekarang potensi penggelapan pajak sudah di depan mata," tutur Yanuar.
Permainan pajak seperti ini tidak menutup kemungkinan juga dilakukan oleh anak perusahaan Ancora Group lainnya. Peluangnya cukup besar, mengingat pola pengawasan untuk wajib pajak swasta masih mengandalkan sistem penilaian sendiri (self assesment).
Sejak didirikan pada 2004 di bawah kendali Gita Wirjawan, Ancora Group terus mengembangkan bisnisnya. Lahan bisnis yang profit, seperti energi dan pertambangan, investasi dan keuangan, pelayaran, properti, dan telekomunikasi, terus dijajaki dengan membentuk beberapa anak perusahaan baru.
Dalam strategi bisnisnya, Ancora kerap mengakuisisi saham perusahaan-perusahaan yang dinilai prospektif. Ekspansi semacam ini sering menimbulkan masalah, karena prosesnya banyak menabrak aturan yang berlaku.
Sebelumnya, Forum Masyarakat Peduli Keadilan (FMPK) melaporkan dugaan penyelewengan pajak Ancora Mining Service ke Ditjen Pajak Kementeriaan Keuangan. Juru bicara FMPK Yosef Rizal mengatakan, laporan keuangan Ancora yang berakhir pada 31 Desember 2008 memiliki beberapa kejanggalan, sehingga aparat pajak perlu menelusuri potensi kerugiannya.
Kejanggalan tersebut antara lain tiadanya kegiatan investasi, namun terdapat penghasilan Rp 34 miliar. Meski tidak memiliki utang, namun ada pembayaran bunga Rp 18 miliar. Bahkan ditemukan bukti pemotongan pajak Rp 5 miliar, namun tidak ada kejelasan atas transaksinya itu.

Ancora Diadukan ke Ditjen Pajak Karena Dugaan Penyelewengan

          Jakarta - PT Ancora Mining Service diduga melakukan penyelewengan pajak. Perusahaan tambang ini diadukan ke Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak. Laporan ini dilakukan karena perusahaan ini diduga sewenang-wenang karena dimiliki oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan.
          "Komitmen Presiden SBY untuk menjalankan pemerintahan yang bersih pun sebaiknya dibuktikan, bukan cuma jadi alat pencitraan," ujar Juru Bicara Forum Masyarakat Peduli Keadilan, Yosef Rizal di kantor Pusat Ditjen Pajak, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (11/1/2011).
          Laporan itu dilakukan terkait beredarnya dokumen dugaan penyelewengan pajak yang dilakukan PT Ancora Mining Service. Dalam dokumen laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, dan laporan perubahan modal yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2008 ditemukan berbagai kejanggalan sehingga aparat pajak perlu menelusuri jumlah potensi kerugian negara yang diakibatkan perusahaan tersebut. Yaitu dengan cara menghindari pembayaran pajak.
          "Kuat dugaan, tindakan manipulasi laporan keuangan tersebut tidak terjadi sekali. Selain itu, tindakan serupa juga diduga dilakukan di sejumlah perusahaan grup Ancora yang menjamur ketika Gita menduduki posisi Kepala BKPM," tegas Yosef Rizal.
          Lebih lanjut Yosef Rizal menjelaskan, kejanggalan dalam dokumen neraca PT Ancora Mining Service per tanggal 31 Desember 2008 itu antara lain ,tidak terdapat pergerakan investasi atau tidak ada kegiatan investasi. Tetapi dalam laporan laba rugi tahun buku yang sama, perusahaan tersebut malah membukukan penghasilan Rp 34.942.600.000.
          "Di neraca yang sama, PT Ancora Mining Service mengaku tidak memiliki utang, namun anehnya dalam laporan laba rugi ditemukan pembayaran bunga sebesar Rp 18.346.170.191," ujar Yosef.
          Dikatakan Yosef, pada laporan fiskal per tanggal 31 Desember 2008 ditemukan bukti pemotongan pajak senilai Rp 5.331.840.000 dari sebuah perusahaan. Tetapi tidak ada kejelasan atas transaksi apa pemotongan pajak tersebut dilakukan. "Akan muncul pertanyaan, apakah potongan tersebut sudah benar-benar disetorkan?" jelasnya.
          Yosef mendesak agar aparat pemeriksa pajak dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memeriksa sebuah perusahaan tambang Middle East Coal (MEC) yang berbasis di Singapura dan Jakarta. MEC diketahui telah menyumbang dana sebesar 500 ribu dolar AS kepada Yayasan Ancora yang didirikan Gita Wirjawan.
          Berdasarkan surat PT Bank Mandiri kepada Middle East Coal Pte Ltd No: 4 Sp.JWM/1426/2009 tertanggal 15 Desember 2009 tentang penjelasan 'Transaksi Transfer Valuta Asing to Ancora' jelas terlihat adanya transfer sebesar US$ 500.000 dari Middle East Company ke Yayasan Ancora.
          "Perintah transfer ke Yayasan Ancora itu sendiri telah terjadi pada tanggal 27 November 2009, sebagaimana terlihat pada bukti telex Single Transaction Credit Master," ujarnya.
          Pada bukti telex dengan sender’s reference ':20:0912208002130802' itu, terlihat transfer terjadi pada tanggal 27 November 2009 senilai US$ 500.000 dari Middle East Indonesia beralamat di Sudirman Plaza-Plaza Marein Lt.20 Jalan Jenderal Sudirman Kav 76-78, dengan benerficiary customer (penerima kiriman dana) adalah Yayasan Ancora/Ancora Foundation. Juga dijelaskan melalui telex itu mengenai remittance information: MEC Sponsorship for Indonesia Pintar Program.
          Menurut Yosef Rizal, sumbangan itu mencurigakan karena selain tidak pernah dilaporkan pajak penerimaannya oleh yayasan bersangkutan, juga dinilai sarat kepentingan. Diduga hal ini terkait posisi Gita sebagai Kepala BKPM dan MEC yang memperoleh konsesi tambang di Kalimantan Timur.
          "Sebagai perusahaan multinasional, MEC punya yayasan sejenis dengan Yayasan Ancora. Kenapa harus menyumbang ke Ancora, bukan diberikan ke yayasan sendiri. Apalagi jika uang tersebut dapat digunakan untuk kepentingan rakyat di sekitar tambang. Ada motif apa ini?" tanya Yosef Rizal.
          Menurutnya, PT MEC yang memiliki investasi tambang di Kaltim, sebelum menyetor dana sponsor kepada Yayasan Ancora, juga telah menyetor dana sponsorship sebesar US$ 110.000 kepada PT Ancora Sports. Dana sponsorship itu dalam rangka pertandingan Golf President Cup yang digelar pada bulan Juli 2009, sebelum Gita menjabat Kepala BKPM.
          "Kita mencium gelagat tidak baik dari keanehan laporan keuangan dan transaksi tersebut. Jangan sampai ada motif dagang, suap, penyalahgunaan wewenang dan sebagainya di balik itu semua," tegasnya. (dnl/qom)

          Semakin lama issue reshuffle dan perombakan Setgab berjalan, semakin banyak yang bakal menggoreng masalah ini kesana-kemari. Menarik pula adanya dugaan kemungkinan keterkaitan kasus Angket Pajak itu dengan kepentingan bisnis Ancora yang disebut-sebut ada hubungannya dengan kepentingan Istana itu ...