Dirangkum Oleh: Ki MIS
 |
| Ilustrasi: Diantara Para Leluhur (Sumber: Google) |
I.
PANDUAN NORMATIF
Allah
berfirman:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Yâ
ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa
qabâ'ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun
khabîr”
“Wahai
manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di
sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Mahateliti.” (Q.S. Al-Hujuraat: 13).
Allah juga berfirman:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Fastajāba lahum rabbuhum annī lā uḍī'u 'amala
'āmilim mingkum min żakarin au unṡā, ba'ḍukum mim ba'ḍ, fallażīna hājarụ wa
ukhrijụ min diyārihim wa ụżụ fī sabīlī wa qātalụ wa qutilụ la`ukaffiranna
'an-hum sayyi`ātihim wa la`udkhilannahum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hār, ṡawābam
min 'indillāh, wallāhu 'indahụ ḥusnuṡ-ṡawāb”.
“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya
(dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang
beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, *(karena) sebagian kamu
adalah (keturunan) dari sebagian yang lain.* Maka orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung
halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh,
pasti akan “Aku (Allah) hapus kesalahan
mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah.” Dan di sisi Allah ada
pahala yang baik." (Q.S. Ali Imran: 195)
Allah juga
berfirman:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Tilka ummatung qad
khalat, lahā mā kasabat wa lakum mā kasabtum, wa lā tus`alụna 'ammā kānụ ya'malụn.”
“Itu adalah umat yang
lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu
usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang
telah mereka kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah: 134).
II. PRINSIP-PRINSIP
DALAM MENELUSUR SEDULUR PARA LELUHUR
Setidak-tidaknya
ayat-ayat di atas dapat dijadikan prinsip dalam proses “menelusur sedulur para
leluhur”. Maka seyogyakanya kita berikhtiar menelusur sedulur para leluhur itu
dengan prinsip-prinsip yang dilandasi ayat-ayat qauli di tersebut.
(1) Allah menciptakan manusia, lalu menjadikannya
berbangsa-bangsa, bersuku-suku, ber-keluarga-keluarga itu li-ta`arufu (untuk saling mengenal). Buah ta`aruf (saling mengenal) diharapkan bisa muncul sikap tafahum, saling memahami (atas kondisi dan perbedaan hamba-hamba Allah), serta tumbuh rasa
persaudaraan dan kekerabatan di antara mereka. Olehkarena itu, tujuan menelusur
sedulur para leluhur harus diarahkan dalam rangka saling mengenal, dan mengeratkan
kembali rasa persaudaraan di antara sesama sedulur dan antara orang-orang yang sebenarnya berkerabat itu. Sama sekali, bukan
untuk membangga-banggakan diri dan membangga-banggakan leluhur, apalagi sampai
mengkultuskan atau “menyembah” mereka. Na`udzubillahi min Dzaalik. Kami berlindung kepada Allah dari hal-hal semacam itu.
(2) Biasanya, jika
leluhur kita seorang ulama, da`i, tokoh pejuang Islam, maka seharusnyalah anak
keturunannya juga ada yang menjadi ulama, da`i, dan tokoh pejuang Islam juga. Ibarat pepatah Jawa, “kacang ora bakal ninggal lanjaranne (karakter dan sepak terjang anak cucu mesti
seiring dengan karakter dan sepak perjuangan orang tua/leluhurnya. Maka,
setelah mengetahui leluhur dan kerabat-kerabatnya, seyogyanya kita meneladani
sifat baik dan melanjutkan perjuangan mulia para leluhur kita.
(3) Dalam proses menelusur sedulur para leluhur, dapat
menggunakan metode studi pustaka dan arsip: meneliti tulisan tangan (manuskrip), atau ketikan
silsilah, tulisan-tulisan di web/webblog, buku cerita-cerita rakyat yang
relevan, dan tulisan-tulisan sejarah yang berkaitan. Dapat pula, menggunakan
metode lisan: cerita-cerita lisan (khususnya yang berkembang di
keluarga-keluarga bani) yang bersangkutan, wawancara tokoh yang mengerti, atau
croscek langsung ke tempat-tempat yang berkaitan. Atau cara-cara lain yang lazim
diakui kesahihannya.
(4) Dalam proses menelusur sedulur para leluhur, sebaiknyalah
kita menahan diri melakukan kritik individu terhadap pribadi leluhur dan
sedulur-sedulurnya, karena Allah mengingatkan “Baginya apa yang telah
diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan
dimintai pertanggungan jawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan”.
Olehkarena itu, kita seharusnya lebih menfocuskan pencermatan pada data-data nama,
rantai nasab/alur silsilah yang ada serta keterangan-keterangan yang terkait dengan
hal-hal tersebut.
Begitulah
seharusnya sikap kita semua. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk,
bimbingan, kesehatan, dan kemudahan dalam ikhtiar mulia “menelusur sedulur para
leluhur” kita. Allahumma Aamiiin. (Ki MIS).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar