Kamis, 26 Januari 2012

SERBA-SERBI TEMU KADANG KASEPUHAN NGAYOGYAKARTA

                                                         Reporter: MIS Al-Fary

               Suasana The CMC (“Cultural Movement Center”) Warungboto, Yogyakarta malam itu sangat berbeda. Pasalnya, Senin, 23 Januari 2012 malam itu, The CMC menjadi tuan rumah Pakempalan Kadang Kasepuhan alias Temu Kadang Kasepuhan Ngayogyakarta Hadiningkrat. Makanya, kadang kasepuhan dari berbagai penjuru DIY berdatangan bagai laron menyerbu lampu neon. Bahkan,  kadang kasepuhan dari Magelang, Ki Jamaluddin dan Ki Purlani serta dari Banjarmasin, Ki Raden Sukoco pun  menyempatkan diri hadir dalam forum “kangen-kangenan” yang penuh hikmah ini.

KADANG KASEPUHAN KINI LUEMU-LUEMU 
              Imamuna, Ngarso Dalem Ketua DPW PKS DIY, Ki Dr. Sukamta sangat bersyukur melihat sosok tampilan para kadang kasepuhan yang segar-segar lagi penuh kelakar itu. Rata-rata fisik para perintis gerakan tarbiyah DIY itu kini tambah “luemu-luemu”. “Konco-konco fillah koq bisa gemuk-gemuk begini ya? Padahal dulu ketika masih bujang pada kurus-kurus semua. Ini karena di-“diopeni oleh istrinya” atau “gara-gara diopeni oleh warung kuliner’’ ya? Ha ha ha....” Begitulah kira-kira kecamuk batinnya. (Maaf reporternya terlalu kreatif hingga “bisa memotret” kecamuk batin subyek beritanya. Maklum dari jurusan Sastra Indonesia bukan Ilmu Komunikasi/Jurnalistik sich.... he he he)
            “Saya teringat, dulu di jaman awal-awal tarbiyah, ikhwah yang punya sepeda motor itu masih sangat sedikit. Sehingga kalau mau liqo harus langganan pinjam sepeda motor ke Asrama Akhwat Mega-5, atau Akhwat Sendowo B-29 F. Alhamdulillah, kini semuanya sudah punya sepeda motor yang bagus-bagus. Bahkan, di halaman parkir CMC tadi, saya lihat banyak ikhwah kadang Kasepuhan membawa mobil bagus-bagus. Alhamdulillah semoga bisa barakah dan dapat digunakan melanjutkan perjuangan dakwah kita. Amiin,” ungkapnya penuh rasa syukur.
Inilah Foto Profil Ki Ir. Adul Aziz di FB
              Begitulah bila kadang kasepuhan bertemu, suasana ruang dalam The CMC malam itu jadi sangat gayeng. Di sana-sini, para kadang kasepuhan asyik bercengkrama sambil diselingi kelakar segar persis kayak pas masih muda, kecuali Ki Abdul Aziz dan Ki Suprih Hidayat. Ki Abdul Azis biasanya selalu “bersemangat badar” dan hobi obral cerita dengan retorika yang menggebu-gebu. Anehnya, malam itu kelihatan anteng, tenang dan agak sendu. Wau... ini mungkin karena kadang kasepuhan yang dulunya bernama Lek Waji alias Lek Darwaji itu kini telah memiliki istiqarun nafsi (ketenangan/ kestabilan jiwa). Namun, bisa jadi jangan-jangan sebenarnya beliau ini sedang “menyimpan bara kekangenan pada Ummu Habib dan putra-putrinya”. Maklumlah, demi tugas barunya sebagai Direktur ACT Pusat di Jakarta, beliau terpaksa harus sering berpisah dengan istri dan keluarganya di Jogja.
Inilah Foto Profil Ki Suprih Hidayat di FB: "Selalu Berduaan"
                Begitu pula Ki Suprih Hidayat, staf ahli DPR RI ini kini tampak lebih matang dalam meyampaikan gagasan mungkin karena setiap hari harus bergulat dengan Undang-Undang. Sayang sekali, fisiknya setiap pekan harus didera oleh perjalanan pulang-balik Jakarta-Jogja. Bisa dibayangkan betapa letihnya beliau. Saking seringnya dicengkram keletihan, sampai-sampai di wajahnya kini samar  mulai tergambar “wajah ke-kakek-annya”. Satu hal yang tak bisa disembunyikannya, kini matanya semakin sayu menahan kerinduan luar biasa pada Ummu Zaimah tercinta. Foto Profil di facebooknya yang “selalu berduaan” itu malah membuat konangan alias ketahuan bahwa sebenarnya beliau sering gundah karena harus sering berjauhan dengan jantung hatinya. (He he he. Semoga istiqomah Pak Suprih.... Allahu Akbar!)

KADANG KASEPUHAN “TERBELAH”?
             Suasana di ruang dalam The CMC malam itu terasa akrab penuh ukhuwwah. Lalu bagaimana suasana di halaman luar The CMC?
             Sungguh luar biasa dan sudah dapat diduga. Ustadz serba-bisa, guru kesederhanaan kita yang juga Ketua Dewan Syari`ah Wilayah, Ustadz Ma`ruf Amary, Lc. M.S.I. itu malah memilih sibuk mengurusi parkir bersama Pak Tenar dan Mas Agus Hermanto. Beliau menyambut kedatangan kadang Kasepuhan satu per satu dan menjadi “diregen” proses pemarkiran motor dan mobil kadang Kasepuhan yang baru tiba.
                 Akhirnya, trek-jentrek motor kadang Kasepuhan terparkir rapi di sebelah barat garasi The CMC. Reporter kadang Kasepuhan sempat menghitung kurang lebih berjumalah 22 motor, rata-rata motor bagus-bagus. Sementara, sekitar 11 mobil bagus-bagus berjajar rapi di halaman The CMC membentang dari ujung barat halaman masjid sampai meluber ke jalan kampung timur masjid. Sudah dapat diduga Ustadz juru “parkir yang sering siaran di TVRI Jogja” ini mengamati satu per satu mobil yang diparkir. Beliau juga tak lupa mencermati kelengkapan onderdil mobil-mobil kadang kasepuhan itu dan tentu saja sambil menaksir berapa harga jualnya, jika nanti dijual.  (Dasar makelar mobil profesional... he he he....).
                   Melihat fenomena di halaman parkir The CMC ini sangat membanggakan. Alhamdulillah, Burhanudin Muhtadi tidak sempat melihat fenomena ini. Jika beliau melihat, sudah pasti pengamat spesialis PKS yang tendensius itu akan berkoar-koar di media massa, bahwa kadang Kasepuhan Yogyakarta terbelah jadi dua faksi. Yang pertama, faksi sepeda motor yang menandakan adanya “faksi keadilan” di Yogyakarta. Dan kedua, “faksi mobil alus” yang menandakan adanya “faksi sejahtera” di Yogyakarta.  Munculnya “faksi mobil alus” ini akibat mereka mendapat kue pergerakan lebih banyak dari “faksi sepeda motor”. Padahal, jujur saja kue pergerakan kita yang sering disuguhkan di setiap kali liqo (snack liqo),  biasanya malah lebih sering dihabiskan oleh  “faksi sepeda motor”. He he he....
               Itulah kebiasaan Burhanuddin Muhtadi, seorang pengamat yang suka membikin opini negatif terhadap PKS selama ini. Kita tak tahu, apa motivasinya. Untuk mengecoh beliau jika melihat.... Sunan Kalicode sengaja berpose di  samping mobil alus milik kadang Kasepuhan, biar dikira termasuk “faksi mobil alus” (meskipun ada juga yang cuma alus bannya....he he he). Hal ini juga dimaksudkan sesekali numpang gagah di samping mobil kadang fillah. (Lho koq malah kelihatan kayak kakek-kakek ya? Jangan-jangan gara-gara kebanyakan makan telo iki.... He he  he....)  (MIS-Al Fary).

1 komentar:

  1. rupanya sunan kali code makin canggih membuat berita kreatif...semoga bisa terbit jadi buku...amin

    BalasHapus