Oleh: M. I. Sunnah
(Mantan Penyelia Seri Bacaan Muslimah, Ash-Sholihah)
Seorang abi (ayah) dari Warungboto marah besar pada anak gadisnya. Pasalnya, sang anak remajanya itu bersekiras menghadiri kegiatan sekolah dengan memakai baju dan celana ketat. Sang abi merasa tampilan anaknya telah melanggar nilai yang sudah berpuluh-puluh tahun diyakini abi-umminya sebagai tuntunan syar`i bagi seorang muslimah. “Jika tidak mau ganti pakaian yang longgar, nggak usah berangkat!” tegas da`i senior di Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta itu. Walhasil, karena sedang mengalami “masa gejolak remaja”, akhirnya sang anak memilih masuk kamar dan menangis sejadi-jadinya.
Tak kalah ketus dan tegasnya, seorang abi dari Kampung Depastel (Dekat Pasar Telo) juga pernah marah tiada terkira kepada anak gadisnya. Pasalnya, anak remaja putrinya itu nekat tidak mau pakai kaos kaki ketika ingin ikut ke Kantor abinya. “Jangan sekali-kali ke kantor abi jika tidak mau pakai kaos kaki!!!” katanya. “Abi malu sama ustadz-ustadz dan ami-ami di sana...,” imbuhnya. Walhasil, anak remajanya tidak bergeming sama sekali, maka terpaksa sang anak remajanya itu ditinggal di rumah sendirian. Duh, kasihan....
Pada saat kejaian, terbersit alam pikiran sang anak berfikir bahwa sikap Abinya itu terlalu berlebihan. “Cuma masalah kaos kaki saja diributkan. Toh, banyak teman-teman di sekolahku tidak pakai kaos kaki dibiarkan oleh bapak-ibunya.” Apalagi sang anak sering menyaksikan para bintang film Korea idolanya tidak berjilbab dan tidak selalu pakai kaos kaki. Begitu pula kebanyakan teman-teman di facebooks dan twetternya.
Sementara, dalam perjalanan ke kantornya, sang abi juga mikir-mikir dan mencoba instrospeksi diri. “Kenapa ya anak gadisnya tetap nekat tidak mau berkaos kaki. Padahal, ustadzah di SDIT dan SMPIT–nya dulu mestinya sudah menjelaskan tuntunan syar`i berbusana muslimah. Begitu pula Umminya. Apa abinya masih perlu menambahkan penjelasan tentang ahamiyah (urgensi) dan fadhilah memakai kaos kaki? Nun di sisi lain, terbetik pikirnya, “apakah sikap tegasku tadi berlebihan? Atau malah masih kurang tegas lagi? Lalu, bagaimana seharusnya?”
Ini hanyalah sejumput masalah kecil pewarisan nilai-nilai dakwah dalam keluarga para da`i. Tentu bukan sekedar bagaimana mewariskan kebiasaan berkaos kaki bagi anak gadis muslimahnya jika keluar rumah. Sebenarnyalah nilai-nilai dakwah itu sangat luas dan syumul (meliputi seluruh kehidupan). Olehkarena itu, pewarisan nilai dakwah ini mestinya juga menyangkut nilai aqidah, ta`abudiyah (ibadah), akhlaq, bahkan fikrah dan manhaj gerakan dakwah. Jika kesadaran akan pentingnya pewarisan nilai dakwah pada anak-cucu-buyut-cangkah ini terlambat, bisa jadi di kemudian hari orang tuanya harus menanggung akibat berat.
Memang salah satu ikhtiar orang tua bisa ditempuh dengan mengirim anak-anaknya ke pesantren/ma`had, atau sekolah-sekolah Islam terpadu, baik yang boarding school maupun yang fullday school. Tetapi, tidaklah bijak jika semua tugas pewarisan nilai dakwah itu hanya dipasrahkan total kepada lembaga-lembaga pendidikan Islam unggulan tersebut. Orang tua dan keluarga mestinya justru harus berperan di barisan terdepan dari proses pewarisan nilai-nilai dakwah ini.
Memang salah satu ikhtiar orang tua bisa ditempuh dengan mengirim anak-anaknya ke pesantren/ma`had, atau sekolah-sekolah Islam terpadu, baik yang boarding school maupun yang fullday school. Tetapi, tidaklah bijak jika semua tugas pewarisan nilai dakwah itu hanya dipasrahkan total kepada lembaga-lembaga pendidikan Islam unggulan tersebut. Orang tua dan keluarga mestinya justru harus berperan di barisan terdepan dari proses pewarisan nilai-nilai dakwah ini.
Berikut ini beberapa cerita kasus kecil maupun besar yang menandakan orang tua atau lembaga pendidikan Islam “formated” dan “antivirus” tersebut pun bisa “kecolongan”. Seorang abi dari Banguntapan bercerita, ketika hidup di Pesantren, ibadah dan akhlaq anaknya sungguh sangat luar biasa baiknya. Tetapi ketika liburan dan pulang ke rumah malah seperti “balas dendam”. Sang anak malah ogah-ogahan sholat dan baca Al-Quran, dia justru sering membuat onar dan ”nakali” adik-adiknya. Seorang abi dari Gamping tak habis pikir, anaknya yang disekolahkan di SDIT malah ketahuan “merokok” dengan lahapnya. Padahal dirinya tak pernah merokok dan semua ustadz di SDIT itu “haram” merokok. Ada lagi, kasus kecolongan lainnya, misalnya “anak ustadz jebul konangan berhobbi bocengan dan pacaran”, “anak ustadzah jebul tersangkut kasus narkoba”, dan “kasus-kasus naudzubillah” yang lebih parah lagi. Jadi, harus ada kerja sama sinergis antara orangtua, sekolah, dan berbagai elemen dakwah dalam proyek besar membangun peradaban Islami ini.
Dalam kasus lain, seorang abi dari Sekar Suli bercerita, “Menurut pengalamanku Pak Ilyas, saat anak-anak masih kecil biasanya ujian bagi orangtuanya lebih banyak bersifat fisik dan materi. Tetapi biasanya, ketika anak-anak kita sudah besar ujian bagi orangtuanya lebih banyak bersifat pemikiran dan ‘perang batin’. Sampai-sampai pikiran dan batin kita dibuat luuuelah sekali....”, katanya. Kemudian, seorang abi yang juga seorang guru agama ini menceritakan kisah “pemberontakan fikrah” anak sulungnya. Berkali-kali dia membawa buku-buku dari gerakan dakwah lain lalu mengajak berdebat abi-umminya. “Pernah anak saya membawa buku dan majalah berfikrah salafi Yamani, lengkap dengan argumen pembid`ahan dan dalil-dalil hisbalnya. Sudah saya jelaskan dengan argumen dari berbagi sisi dan pandangan. Tetapi tetap saja susah sekali dipahamkan. Akhirnya, saya pakai jurus tasamuh (toleransi). Ternyata suatu hari, dia malah mau keluar rumah pakai celana pendek. Ketika saya pertanyakan, dia berdalil, “Lho.... kan toleransi Bi.... Berarti keluar rumah pakai celana pendek boleh dong....”. “Pusing tenan aku Pak Ilyas....,” curhatnya.
Begitulah, tampaknya memang proses pewarisan nilai itu harus dimulai sejak dini, sebelum anak-anak kita menemukan pilihan jalan hidupnya sendiri. Masalahnya adalah bagaimana kiat-kiat pewarisan nilai dakwah dan tarbiyah itu dalam keseharian keluarga kita?
Seorang abi dari Sewon yang berprofesi sebagai sopir antar-jemput anak sekolah dengan penuh semangat bercerita. “Mula-mula kami paksa anak-anak bangun jam 3 dini hari. Kami suruh mereka mandi, sholat malam, dan sholat subuh berjama`ah di masjid. Saya dan istri harus tegel dan mau juweh, maksudnya selalu “cerewet terus” agar anak-anak kami bisa menjalankan amaliyah seperti itu. Sebab jika tidak, kerjaan antar-jemput saya jadi kacau. Soalnya agar tidak bolak-balik, anak saya harus berangkat ke sekolah bareng saya, sambil gerilya menjemput anak-anak pengguna jasa antar-jemput dan mengantar mereka ke sekolah masing-masing. Alhamdulillah, akhirnya, sekarang anak-anak saya sudah terbiasa bangun jam 3 dini hari, mandi, sholat malam, sholat subuh berjamaa`ah di Masjid, sarapan pagi dini hari, dan berangkat sekolah bareng abinya kerja antar-jemput”.
Sementara, keluarga yang lain tak tega (ora tegel) memaksa anak-anaknya bangun dini hari, apalagi untuk memaksa menjalankan sholat malam dan sholat subuh berjamaah di masjid. Walhasil, anak-anak mereka terbiasa bangsawan, “biasane tangi awan” alias terbiasa bangun kesiangan. Keluarga yang demikian biasanya sangat toleran dengan kemalasan dan ketidakdisiplinan anak mereka serta sangat permisif terhadap penyimpangan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan tak Islami. Dalilnya, “Toh mereka masih belum dewasa, dan masih terus berproses.... Apalagi bapak-ibunya dulu sadar dan kenal tarbiyah kan baru ketika masa mahasiswa. Biarkan mereka mengalami 'masa jahiliyah' dan “kebentur-bentur dulu.... Nanti kan akhirnya sadar kayak kita-kita juga". Demikianlah pandangan penganut “paham biarkan seribu bunga berkembang” ini. Tentu, masih ada segudang lagi alasan pembenar lainnya yang melandasi sikap orangtua tipe ini.
Orang tua lain lagi, mengambil prinsip pewarisan nilai itu lebih dapat menancap, berbiak, dan berkembang jika dilakukan dengan qudwah (contoh teladan) orangtuanya. Mana mungkin anak kita rajin mengaji, jika kita sendiri ogah-ogahan membaca Al-Qur`an. Mana mungkin anak kita rajin sholat malam dan sholat berjamaah di masjid, jika mereka tidak melihat bapak-ibunya melakukan amaliyah ini. Sebaliknya, jika orang tuanya rajin sholat malam dan rajin sholat berjama`ah di masjid, cukup dengan kedipan mata saja tentu anak-anak mereka sudah mau bersegera melaksanakannya.
Ada pula seorang abi dari Jomblangan, Banguntapan yang membiasakan diri dan mengajak seluruh anggota keluarganya mengaji/membaca Al-Qur`an setiap bakda Maghrib sampai Isya dan bakda sholat Subuh. Karena dilakukan dengan sungguh-sungguh dan berkelanjutan (kalau pas di rumah dan nggak kunker lho), Alhamdulillah keluarga dan anak-anaknya dapat istiqomah mengamalkan kebiasaan terpuji ini. Bahkan, kayaknya mereka sangat menikmati. Di balik jurus pewarisan tradisi Islami ini, kebiasaan itu ternyata merupakan “warisan” keluarga Kiai Zaenal Mahmud, suwargi ayahanda sang abi. Nah, bagaimana dengan keluarga kita? Pertanyaan ini tampaknya lebih tepat tidak kita jawab dengan kata-kata, melainkan seyogyanya kita jawab dengan amaliyah nan nyata.
Penggal cerita-cerita di atas hanyalah beberapa model sederhana pewarisan nilai dakwah pada keluarga da`i. Kiranya masih belum cukup memadai untuk menginspiri perjalanan keluarga para aktivis di Negeri ini. Oleh karena itu, sharing dan berbagi pengalaman antar keluarga aktivis dakwah sangat diperlukan. Apalagi jika proses sharing itu bisa didampingi oleh para ahli atau pakar yang berkompeten secara berkala. Sungguh hal ini sangat dianjurkan, mengingat permasalahan seputar pewarisan nilai da`awi ini selalu bervariasi dan senantiasa berkembang hari demi hari. (MIS).
Penggal cerita-cerita di atas hanyalah beberapa model sederhana pewarisan nilai dakwah pada keluarga da`i. Kiranya masih belum cukup memadai untuk menginspiri perjalanan keluarga para aktivis di Negeri ini. Oleh karena itu, sharing dan berbagi pengalaman antar keluarga aktivis dakwah sangat diperlukan. Apalagi jika proses sharing itu bisa didampingi oleh para ahli atau pakar yang berkompeten secara berkala. Sungguh hal ini sangat dianjurkan, mengingat permasalahan seputar pewarisan nilai da`awi ini selalu bervariasi dan senantiasa berkembang hari demi hari. (MIS).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar