Minggu, 22 Januari 2012

REVITALISASI TARBIYAH HARAKIYAH

Oleh: MIS AL-FARY

              Islam itu nidzomusy-syaamil fi madhohiru hayati (sistem hidup yang menyeluruh dalam kehidupan nyata). Jika berangkat dari perspektif ini maka dalam proses perealisasian ajaran Islam  dalam kehidupan nyata tak bisa ditawar lagi dibutuhkan gerakan dakwah yang syamilah (menyeluruh) pula. Agar gerakan dakwah syamilah itu dapat menjalankan tugas eksistensialnya maka di dalam tubuhnya harus ada kobaran nyala ruh tarbiyah harakiyah (tarbiyah yang menggerakan). Jadi gerakan tarbiyah harakiyah inilah yang senantisa menjadi “ruh” gerakan dakwah syamilah. Sementara gerakan dakwah  syamilah itu pelaku utama pengejewantahan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata hingga Islam benar-benar dapat hamemayu hayuning bawana alias dirasakan menjadi rahmat bagi segenap alam.

TATARAN IDEAL
Dalam tataran ideal, Tarbiyah Harakiyah itu tidak hanya bersifat ta`limiyah (kajian) semata, tetapi harus bersifat takwiniyah (pembentukan/pengkaderan). Sebaliknya, untuk mendukung aktivitas takwiniyah (pengkaderan) mutlak dibutuhkan aktivitas ta`limiyah baik dengan tujuan sebagai sarana “jaring rekuitmen”, ataupun dalam rangka peningkatan wawasan (tatsqif) kader. Oleh karenanya, selain aktivitas liqo tarbawi (TRK), kita juga tetap memerlukan ta`lim, apapun namanya asalkan memungkinkan diikuti oleh peserta tarbiyah dengan istiqomah. Dalam hal ini, bisa “berjudul” taklim masjid tertentu, pengajian keluarga besar padi emas MG, pengajian blangkon (PKS Kraton), TRP PKS Piyungan, pengajian IKADI, dsb. sesuai  kesepakatan lokal kader setempat.  Bukankah di jaman awalu tarbiyah di DIY dulu, kita mengenal peran besar ta`lim jumat pagi masjid Syuhada, dengan pasar tibannya yang melegenda?
Dalam tataran ideal, tarbiyah syamilah itu bukan hanya mengembangkan satu aspek kepribadian saja, tetapi mentarbiyah seluruh aspek kepribadian, baik fikriyah, ruhiyah, maupun jasadiyah peserta tarbiyah. Olehkarena itu, liqo tarbawi (TRK) mestinya tidak hanya mengagendakan program-program fikriyah saja, tetapi harus ada program-program ruhiyah, serta program-program amaliyah jasadiyah. Masalahnya bagaimana kemasan dan teknis penyelenggaraan program-program tersebut pada situasi dan kondisi kekinian gerakan dakwah kita sekarang? PR para murobbi-murobiyah dan pengampu elemen tarbiyah di semua jenjang kepengurusannya adalah membingkai program-program tersebut sesuai dengan kondisi kekinian gerakan dan daya dukung lingkungan atau daerah ampuan tarbiyah masing-masing. Bisa jadi, tidak semua daerah cocok memprogram tarbiyah jasadiyah berupa futsal dan renang. Mungkin di daerah tertentu cukup dengan bola kasti, bal-balan plastik, gobaksodor, egrang, atua jumpritan bersama. Di samping bentuk program, kiranya teknis pengelolaannya perlu juga ditata kembali. Misalnya mabid dan liqo bersama diselenggarakan per DPC atau Dapil (Daerah Daerah) dua bulan sekali berselingan, bulan ini mabid bulan depan berikutnya liqo bersama, dan seterusnya. Lailatul Katibah misalnya diselenggarakan per tiga/enam bulan sekali se-DD atau se-DPD khusus kader penggerak inti.  Spesial untuk kader kasepuhan diselenggarakan  “makan bersama” sebulan sekali di rumah-rumah kadang kasepuhan yang memungkinkan. Hal ini mengingat beliau-beliau sudah sepuh perlu jurus  “penyegaran” dan “penyegeran” tersendiri.
Dalam tataran ideal, tarbiyah harakiyah yang tuntas mestinya tidak hanya berhenti pada pembentukan kepribadian Islam (takwinu asy-syahsiyah al-Islamiyah) dan pembentukan kepribadian da`i (takwinu asy-syahsiyah ad-daiyah) saja, tapi juga sampai memberdayakan kader sesuai kafaah dan bidang  dakwah yang ditekuninya. Sebagaimana jaman Ustadz Nur Umam masih bernama Sumarno dan Ustadz Abdul Rozak masih bernama Pak Bendot, mestinya tarbiyah harakiyah itu bisa membangkitkan gerakan ekonomi Islam di tingkat lokal (baca: DPC) seperti melahirkan “bengkel barakah motor era baru”, “toko buku Al-Fithroh era baru”, kopemas (koperasi  padi emas), Rumah Jajan “Dija”, dan sebagainya. Tarbiyah Harakiyah juga harus mampu membuat gerakan sosial, budaya, dan pendidikan yang tertata di tengah masyarakatnya, misalnya mendirikan PAUD di setiap DPRa,  TKIT di setiap DPC, SDIT di setiap DD/Dapil, SMPIT dan SMAIT di setiap DPD, dan Insya Allah nantinya “Perguruan Tinggi Islam Terpadu” (PTIT) di setiap DPW (Provensi). Di samping itu, Tarbiyah Harakiyah di “era Madinah” seperti sekarang ini, tentunya harus mampu mengokohkan kiprah gerakan politik partai dakwah. Ia harus mampu menyiapkan calon anggota legislatif tingkat Dapil, Kabupaten/Kota, dan Provensi, calon bupati/walikota, calon staf ahli DPR, staf ahli DPD, staf ahli Menteri, calon wakil Menteri, Calon Menteri dan bahkan Capres RI yang dicintai rakyat di negeri ini.

TATARAN PRAKTIS
            Dalam tataran praktis, tarbiyah harakiyah tak dimungkiri berpulang pada kapasitas, integritas, dan kreatifitas para Murobbi/Murobbiyah di lapangan. Di samping itu, juga diperlukan dukungan yang solid dari elemen tarbiyah di setiap jenjang struktur, terutama dalam hal support system, SDM trainer/ muajih yang berkualitas dan berkesempatan, dan fasilitasi sarana tarbiyah yang memadai. Di atas itu semua tarbiyah harakiyah juga membutuhkan dukungan political will para qiyadah bahwa “jer basuki mawa bea” dan “caracter building” butuh perhatian prima. Bukankah di jaman awalu tarbiyah di DIY dulu, tarbiyah harakiyah ini juga membutuhkan perhatian dan pengorbanan yang luar biasa, sampai-sampai para perintisnya harus memperpanjang jenggot dan masa studinya. Bahkan, juga sebagian terpaksa harus memperpanjang masa bujangnya? Wallahu a`lam.

REFLEKSI DIRI SUNAN KALICODE
        
            Sungguh berat amanah historis yang disandang oleh seorang Sunan Kali Code dalam menghusung tarbiyah harakiyah ini. Betapa tidak, karena Sang Sunan mewarisi daerah ampuan yang sangat bersejarah: Kecamatan Mergangsan Kota Yogyakarta. Di Kecamatan ini, tepatnya di kampung Karanganyar, Keluruhan Brontokusuman inilah tarbiyah harakiyah di DIY mulai digulirkan oleh seorang Ustadz Engkong Jogja. Beliau dengan tekun, sabar, dan penuh pengorbanan mentarbiyah generasi awal dari gerakan tarbiyah di Provensi Istimewa di tanah air tercinta ini.
            Generasi awalu tarbiyah itu tentu masih mengenang kesejukan dan kedamaian suasana liqo di rumah kontrakan Ustadz Engkong Jogja ini. Satu hal yang khas, diawal atau disela liqo,  Sang Ustadz mesti tak lupa menyajikan makan malam bersama. Begitu selalu berlangsung di “rumah awalu tarbiyah” ini hingga hampir dua-tiga tahun lamanya. Ada lagi yang khas ketika liqo, Sang Ustadz sering membawa vick obat filek dan gregesen, karena beliau agak alergi dingin. Kebiasaan yang terakhir ini ternyata terwarisi secara sempurna oleh salah satu mutarabbinya, Sunan Kalicode. Ketika liqo, Sang Sunan harus sering membawa aroma terapi kalau-kalau mengkis-mengkis atau sakit asmanya kumat. Tetapi sayangnya, “keprofesoran” Sang ustadz malah luput tidak sempat terwarisi oleh Sunan Kali code. He he he
            Soal rekruitmen dan produktivitas tarbiyah berbeda jauh rupanya. Maklumlah Sunan Kali Code mewarisi sebagian kader yang di-Sathori-kan atau di-Ghozali Mukri-kan di jamannya. Mutarobbi-mutarobbi tersebut di-Sathori-kan atau di-Ghozali Mukri-kan karena konon dari sononya susah naik jenjang. Soal rekruitmen misalnya, seperti saat mengejar target rekruitmen Desember 2011, Alhamdulillah, binaan Sang Sunan memperoleh 7 kader baru di suatu Masjid. Dua-tiga kali liqo berjalan, konangan ternyata dari 7 kader baru itu yang bermasalah ekonomi 9 orang. Lho, koq bisa? Soalnya 2 kader yang merekruit dan membinanya juga sedang bermasalah ekonomi.
            Kendala lokal tarbiyah di Mergangsan ini pernah dikonsultasikan kepada pakar daurah dan halaqoh yang sudah malang melintang mengelola tarbiyah. Kata Sang Pakar, “Ini gara-gara berpuluh-puluh tahun ditarbiyah murobbinya masih punya “uci-uci” di punggungnya. Ha ha ha. Jadi begitulah. Justru dari “resep” itu, kita bisa mendapat kesimpulan akhir yang sangat cetha welo-welo alias jelas sekali: untuk merevitalisasi gerakan tarbiyah harakiyah, maka para murobbi-murobbiyah tidak boleh punya “uci-uci” yang menghambat jihad tarbawinya. Inilah mungkin salah satu kata kuncinya.
          Semoga Allah memberikan kemudahan untuk menghilangkan berbagai “uci-uci” di punggung kehidupan hamba-hamba-Nya. Amiiin. {MIS-AF}.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar