Oleh: MIS Al-Fary
Dalam khasanah Tsaqafah Jawa, dikenal konsep “garwa” (garwo), yakni sebutan kehormatan [Jawa: basa krama) bagi seorang istri (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990: 257). “Garwa” sering dipahami merupakan kependekan dari kata “sigaraning nyawa” alias “belahan nyawa” atau “belahan jiwa”. Di balik sebutan itu terkadung makna bahwa seorang istri itu ibarat “sigaraning nyawa” atau “belahan jiwa” bagi sang suami. Sungguh hal ini merupakan pemaknaan yang sangat filosofis, mendalam, dan Islami terhadap “ikatan pernikahan” antara dua anak manusia. Bisa jadi, sebutan itu merupakan pemaknaan dan penghayatan terhadap ajaran agama Islam spesial ala masyarakat Jawa, mengingat menurut R. Ngabehi Rangga Warsita, “tumprap ing tanah Jawi, agama aguming aji”, “bagi masyarakat Jawa, agama Islam itu sudah menjadi pakaian diri, identitas, atau kepribadian sosialnya”.
Jika dirunut padanannya dalam khasanah Islam, ungkapan “garwa” itu sangat “konkruen”, bahkan patut diduga sebagai terjemahan operasional dari hadis Nabi, “An-Nisaa-u saqoiku ar-rijaal”, “Sesungguhnya wanita (istri) itu saudara kandung bagi laki-laki (suaminya)” (H.R Ahmad, Abu Dawud, dan Turmudzi dari `Aisyah r.a.).
Menurut pemerhati persoalan wanita yang juga doktor syari`ah, Ustadz Setiawan Budi Utomo, setelah diperistri, wanita berposisi sebagai saqoik (saudara kandung) bagi suaminya. Artinya, “suami istri itu tidak ada yang di atas dan yang di bawah, sehingga tidak ada yang berposisi sebagai atasan atau sebagai bawahan. Tetapi, semuanya adalah a’wan, penolong, atau partner (mitra). Jadi, istri itu merupakan penolong atau mitra bagi suaminya”.
![]() |
| Sumber: Google |
Jika dicermati dari berbagai aspek dan digali lebih mendalam, pemaknaan seorang istri sebagai “garwa” (sigaraning nyawa) ini, setidaknya memiliki beberapa konsekuensi logis, baik pada tataran aqidah, fikriyah, maupun amaliyah sehari-hari.
a. Dari sudut aqidah, makna “garwa” terkait dengan keimanan seseorang pada takdir Allah tentang ketetapan jodoh manusia. Jika dua anak manusia telah diikat oleh mitsaqon gholidho (perjanjian yang agung) berupa iqrar aqad nikah: ijab qobul, dengan segenap rukun dan kelengkapan syarat sahnya, maka ibarat ia telah menemukan sigaraning nyawa (belahan nyawa)-nya. Oleh karena itu, setelah ijab-qobul terucapkan seorang suami harus legawa menerima dengan segenap rasa syukur bagaimanapun sosok dan apapun kondisi istrinya. Begitu pula, seorang istri harus legawa menerima dengan penuh qona`ah bagaimanapun sosok dan apapun kondisi suaminya. Hal ini mengingat si “dia” telah ditaqdirkan Allah sebagai “garwa”, “sigaraning nyawa”-nya dalam menjalani kehidupan ini. Sikap qona`ah dan syukur ini seharusnya dapat ditumbuhsuburkan dan dipelihara hingga pasangan suami istri tersebut menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek, atau bahkan harus diupayakan dibawa hingga ke rumah surga-Nya kelak. Bukankah, menurut hadis Nabi, jika suami-istri sama-sama sholih dan sholihah, nanti sang istri akan menjadi “ratu bidadari” bagi suaminya di surga.
b. Dari sudut fikriyah, karena telah menjadi “garwa” (sigaraning nyawa), maka antara suami dan istri itu semestinya senantiasa “sefikrah” dalam mensikapi berbagai hal dan permasalahan yang membentang dalam kehidupan pascapernikahannya. Oleh karena itu, dalam kehidupan pasangan suami-istri, seyogyanya tidak ada lagi sekat atau hijab yang menghambat komunikasi, penyatuan pemikiran, dan kebersamaan antara keduanya. Jika terpaksa sempat muncul gejala saling menjauh dan membentang benteng perbedaan, menurut pakar wanita dan keluarga, Ustadz Cahyadi Takariawan, mereka harus segera membongkar dan merobohkan benteng perbedaan tersebut (Kompasiana.com, 19 Januari 2012, 09:43). Sebaliknya, pasangan suami-istri semestinya justru semakin mendekat, sehingga hari demi hari mereka dihangati oleh rasa bahagia (sakinah), rasa kasih (mawwadah) dan rasa sayang (rahmah). Hal ini bisa dibangun di atas kesadaran dan gairah bersama sebagai “garwa” (sigaraning nyawa) tersebut. Kesamaan fikrah yang berimplikasi pada kesamaan sikap suami-istri tersebut sangat penting terutama menyangkut orientasi dan prinsip, arah pengembangan dan manajemen umum keluarga, serta proses pendidikan anak-anak hingga menjadi dewasa.
c. Secara amaliyah, yakni dalam kehidupan berumahtangga sehari-hari, maka “garwa” (sigaraning nyawa) itu melahirkan konsekuensi ikutan, di antaranya:
(1) “Garwa” itu merupakan “sigaran” atau “belahan” nyawa, maka semestinya “timbang lan jajar” yakni antara sang suami dan sang istri seyogyanya sedapat mungkin “timbang” atau “sekufu” dalam latar ekonomi, sosial, dan terutama “sekufu” dalam hal agama. Hal ini agar antara keduanya bisa “jajar” atau “sejajar” sehingga pasangan suami-istri tersebut bisa menjadi pasangan yang ideal. Minimal, sang istri mau dan mampu berperan menjadi mitra diskusi, mitra bercerita dan berbagi, dan mitra berjuang dan berdakwah bagi suaminya. Begitu pula berlaku sebaliknya. Jika di perjalanan muncul “simpulan prematur” kayaknya terlanjur mendapat “sigaraning nyawa sing mengsle” (belahan nyawa yang tidak seimbang), sebaiknya pasangan tersebut tetap “khusnudhon” pada ketentuan Allah. Yakinlah, seiring proses kehidupan yang penuh dinamika Insya Allah nantinya Allah Yang Maha Kuasa akhirnya akan menjadikan mereka pasangan yang ideal pula. Tentu terlebih dahulu, harus melalui "terapi" sesuai dengan "jenis penyakit" yang sedang menjangkitinya. Jangan-jangan hal itu disebabkan aqidah yang lemah sehingga kurang qana`ah menerima ketetapan Allah. Atau jangan-jangan karena terkena virus "merah jambu" yang menyerang "mata hatinya" sehingga ''selalu beleken" dan "senantiasa miring" memandang pasangan hidupnya. Atau gara-gara harga BBM naik tinggi sehingga gaji tak mencukupi lagi lalu latah menyimpulkan "aku telah salah memilih pasangan hidup". Prinsipnya, semuanya terlebih dahulu harus melewati "terapi" dan proses tarbiyah (pembelajaran) dan perubahan diri secara memadai.
(2) Mengingat “garwa” itu merupakan “sigaran” atau “belahan” nyawa, maka ”garwa” mengandung makna “resiprokal” yakni “saling”, terutama saling melengkapi, saling memberi, dan saling berinisiatif menumbuhkembangkan rasa hahagia, rasa kasih, dan rasa sayangnya pada pasangan hidupnya. Dalam tataran praktisnya, sebagai “sigaraning nyawa”, suami-istri mestinya berusaha saling mengenali lebih dalam, saling memahami lebih luas, dan saling membantu/menolong lebih banyak pada pasangan hidupnya. Penghayatan “garwa” sebagai “sigaraning nyawa” ini, hendaklah berlanjut pada aktivitas “saling” yang lain. Misalnya, seorang istri mestinya senantiasa memberikan pelayanan yang terindah kepada suaminya. Begitu juga sebaliknya, seorang suami mestinya senantiasa memberikan pelayanan yang terbaik kepada istrinya. Jika sang istri lantaran sedang sibuk tidak sempat memasak dan menyajikan minuman hangat di pagi hari, tak apalah bila justru sang suami yang memasak dan menyajikan minuman segar untuk istrinya. Ketika akan bepergian menunaikan tugas syar`i, tidak mesti selalu hanya sang suami yang mecium pipi kanan-kiri dan mengecup kening istrinya. Sungguh, akan lebih indah jika sang istri juga membalas mencium pipi kanan-kiri, dan mengecup tangan suaminya. Mengingat posisinya sebagai “garwa”, “sigaraning nyawa” tidak mesti sang suami yang selalu berinisiatif mengajak istrinya beramaliyah mesra, tetapi tidak ada salahnya jika sang istri memulai terlebih dahulu “bergenit-genit ria" memancing sang suami untuk beribadah ala ahli surga di kamar cintanya. Begitulah seterusnya toh seorang istri itu "garwa", "sigaraning nyawa" bagi suaminya.
(3) Wallahu a`laam.
(1) “Garwa” itu merupakan “sigaran” atau “belahan” nyawa, maka semestinya “timbang lan jajar” yakni antara sang suami dan sang istri seyogyanya sedapat mungkin “timbang” atau “sekufu” dalam latar ekonomi, sosial, dan terutama “sekufu” dalam hal agama. Hal ini agar antara keduanya bisa “jajar” atau “sejajar” sehingga pasangan suami-istri tersebut bisa menjadi pasangan yang ideal. Minimal, sang istri mau dan mampu berperan menjadi mitra diskusi, mitra bercerita dan berbagi, dan mitra berjuang dan berdakwah bagi suaminya. Begitu pula berlaku sebaliknya. Jika di perjalanan muncul “simpulan prematur” kayaknya terlanjur mendapat “sigaraning nyawa sing mengsle” (belahan nyawa yang tidak seimbang), sebaiknya pasangan tersebut tetap “khusnudhon” pada ketentuan Allah. Yakinlah, seiring proses kehidupan yang penuh dinamika Insya Allah nantinya Allah Yang Maha Kuasa akhirnya akan menjadikan mereka pasangan yang ideal pula. Tentu terlebih dahulu, harus melalui "terapi" sesuai dengan "jenis penyakit" yang sedang menjangkitinya. Jangan-jangan hal itu disebabkan aqidah yang lemah sehingga kurang qana`ah menerima ketetapan Allah. Atau jangan-jangan karena terkena virus "merah jambu" yang menyerang "mata hatinya" sehingga ''selalu beleken" dan "senantiasa miring" memandang pasangan hidupnya. Atau gara-gara harga BBM naik tinggi sehingga gaji tak mencukupi lagi lalu latah menyimpulkan "aku telah salah memilih pasangan hidup". Prinsipnya, semuanya terlebih dahulu harus melewati "terapi" dan proses tarbiyah (pembelajaran) dan perubahan diri secara memadai.
(2) Mengingat “garwa” itu merupakan “sigaran” atau “belahan” nyawa, maka ”garwa” mengandung makna “resiprokal” yakni “saling”, terutama saling melengkapi, saling memberi, dan saling berinisiatif menumbuhkembangkan rasa hahagia, rasa kasih, dan rasa sayangnya pada pasangan hidupnya. Dalam tataran praktisnya, sebagai “sigaraning nyawa”, suami-istri mestinya berusaha saling mengenali lebih dalam, saling memahami lebih luas, dan saling membantu/menolong lebih banyak pada pasangan hidupnya. Penghayatan “garwa” sebagai “sigaraning nyawa” ini, hendaklah berlanjut pada aktivitas “saling” yang lain. Misalnya, seorang istri mestinya senantiasa memberikan pelayanan yang terindah kepada suaminya. Begitu juga sebaliknya, seorang suami mestinya senantiasa memberikan pelayanan yang terbaik kepada istrinya. Jika sang istri lantaran sedang sibuk tidak sempat memasak dan menyajikan minuman hangat di pagi hari, tak apalah bila justru sang suami yang memasak dan menyajikan minuman segar untuk istrinya. Ketika akan bepergian menunaikan tugas syar`i, tidak mesti selalu hanya sang suami yang mecium pipi kanan-kiri dan mengecup kening istrinya. Sungguh, akan lebih indah jika sang istri juga membalas mencium pipi kanan-kiri, dan mengecup tangan suaminya. Mengingat posisinya sebagai “garwa”, “sigaraning nyawa” tidak mesti sang suami yang selalu berinisiatif mengajak istrinya beramaliyah mesra, tetapi tidak ada salahnya jika sang istri memulai terlebih dahulu “bergenit-genit ria" memancing sang suami untuk beribadah ala ahli surga di kamar cintanya. Begitulah seterusnya toh seorang istri itu "garwa", "sigaraning nyawa" bagi suaminya.
(3) Wallahu a`laam.
Renungan Akhir
Menurut pengamatan, salah satu penyakit yang sering menghinggapi pasangan kemanten lawas (mungkin usia pernikahan 10 tahun hingga seterusnya) di antaranya adalah penyakit “hubungan hambar”. Sudah bertahun-tahun menikah, pasangan tersebut tidak mendapatkan sakinah, mawadah, warahmah, malah mengidap penyakit “hambarisme” alias “hubungan suami-istri yang hambar-hambar saja”. Temuan di lapangan kehidupan yang “tak mengenakkan” ini sering dipicu oleh aktivitas sang pasangan yang sama-sama supersibuk. Diperburuk lagi oleh pola aktivitas yang jomplang alias tak tawazun antara urusan domestik keluarga dan urusan publik. Kadang kondisi ini diperparah juga oleh kebijakan instansi kerja pasangan suami istri yang kurang ramah keluarga. Apalagi jika pasangan suami istri tersebut jarang bisa berkomunikasi (Tidak bisa sms-sms-an karena tak punya pulsa....), lalu malah sering terjadi salah paham, suka menyalahkan, dan suka mencela pasangan, dan seterusnya: Naudzubillah.
Menurut pengamatan, salah satu penyakit yang sering menghinggapi pasangan kemanten lawas (mungkin usia pernikahan 10 tahun hingga seterusnya) di antaranya adalah penyakit “hubungan hambar”. Sudah bertahun-tahun menikah, pasangan tersebut tidak mendapatkan sakinah, mawadah, warahmah, malah mengidap penyakit “hambarisme” alias “hubungan suami-istri yang hambar-hambar saja”. Temuan di lapangan kehidupan yang “tak mengenakkan” ini sering dipicu oleh aktivitas sang pasangan yang sama-sama supersibuk. Diperburuk lagi oleh pola aktivitas yang jomplang alias tak tawazun antara urusan domestik keluarga dan urusan publik. Kadang kondisi ini diperparah juga oleh kebijakan instansi kerja pasangan suami istri yang kurang ramah keluarga. Apalagi jika pasangan suami istri tersebut jarang bisa berkomunikasi (Tidak bisa sms-sms-an karena tak punya pulsa....), lalu malah sering terjadi salah paham, suka menyalahkan, dan suka mencela pasangan, dan seterusnya: Naudzubillah.
Sebenarnya, jika seluruh Rumah Tangga Indonesia, khususnya rumah tangga para aktivis dan para pekerja telah mengamalkan pengarusutamaan keluarga ("family mainstreaming"), penyakit “hambarisme” itu pasti bisa dihalau jauh-jauh. Tentu hal ini membutuhkan program intensif baik melalui keluarga itu sendiri, lembaga pendidikan, masyarakat, media massa, dan karya sastra. Nah, semoga dengan merefres atau menyegarkan kembali penghayatan kita terhadap makna “garwa” “sigaraning nyawa” ini dapat bermanfaat minimal untuk memulai langkah kecil dalam menghalau penyakit “hambarisme” tersebut.
Lihatlah Rasulullah, beliau seorang Nabi dan seorang Rasul. Beliau juga seorang mursyid para murobbi, pemimpin ummat, sekaligus Kepala Negara Madinah. Dalam penggal kehidupannya, Beliau juga seorang suami dari 9 istri-istrinya. Beliau juga seorang "abi" dari 4 anaknya serta seorang kakek dari cucu-cucunya. Tentu, beliau sangat sibuk luar biasa, paling tidak lebih sibuk dari kita-kita yang bukan Nabi dan bukan Kepala Negara. Akan tetapi, banyak hadis menceritakan di sela kesibukan beliau yang luar biasa itu ternyata beliau senantiasa masih bisa berhubungan sangat mesra dengan istri-istrinya. Begitu pula para istri Rasulullah, sesibuk apapun mereka ternyata masih mau dan sempat bermesraan dengan suaminya. Sebagai pengikut setia Rasulullah, sesibuk apapun, semoga kita senantiasa masih mau dan mampu bermesraan dengan "garwa", "sigaraning nyawa" kita, sepanjang usia. Amiin. (MIS Al-Fary)
![]() |
| Sumber: Google |



Agar makna 'garwo' (maaf bukan sigar karo dowo) tetap terjalin sepanjang waktu, perlu kiranya membaca referensi singkat sebagai bahan diskusi keluarga, yaitu Rahasia Kebahagiaan Hubungan Cinta
BalasHapusKebahagiaan merupakan sesuatu yang selalu diinginkan dalam sebuah hubungan. Namun dalam kenyataannya hal tersebut sulit tercapai. Tak jarang pasangan beradu argumen, bertengkar dan akhirnya hubungan tersebut berakhir.
Agar hal ini tidak menimpa Anda dan pasangan, tiga rahasia hubungan cinta berikut ini dapat membantu mewujudkan sebuah hubungan yang bahagia, seperti yang dikutip dari ezinearticles.
Mengetahui peran masing-masing :
Tanyalah pasangan, apa yang penting di matanya dan bagaimana Anda mewujudkan hal tersebut dalam hubungan ini. Dengan mengetahui perannya masing-masing, maka Anda dan pasangan akan mengetahui batasan-batasan, hal yang penting atau tidak dan sebagainya.
Mempunyai tujuan yang jelas dan rencana yang spesifik untuk meraihnya :
Anda dan pasangan bukan remaja lagi, jadi sangat jelas bahwa tujuan hubungan ini sangat penting untuk meraih kebahagiaan nantinya. Raihlah keinginan tersebut dengan sama-sama berjuang untuk mewujudkannya. Anda dan pasangan pasti akan menikmati setiap detik dari perjuangan ini.
Mengetahui cara mengapresiasikan pasangan satu sama lain :
Setiap hubungan tentunya bermula dari ketertarikan satu sama lain. Kumpulkan segala hal yang membuat Anda tertarik padanya dan jadikan hal-hal tersebut sebagai sesuatu yang selalu membuat Anda mengingatnya. Gunakan alasan tersebut untuk menghangatkan hubungan Anda.
Selain itu, bergantianlah melakukan kencan dan kencan tidak selalu harus romantis, Anda juga bisa membuat kencan lebih menyenangkan dengan pergi berlibur ke taman hiburan.
Terima kasih atas komentar Pak Radjabrana. Insya Allah tambahan bahasannya sangat bermanfaat bagi para pembaca. Tulisan saya tersebut sebenarnya baru berkutat pada upaya memahami dan menghayati makna "garwa". Sungguh masih sangat membutuhkan jabaran yang lebih luas dan lebih renik, terutama menyangkut tidak lanjut topik, misalnya bagaimana proses mengharmoniskan pasangan suami-istri, dsb. Silakan para pakar dan yang memahami menuliskan secara lebih rinci. Monggo....
Hapus