Jumat, 16 Desember 2011

Serial Tokoh dari Jogja [1]

KESEDERHANAAN USTADZ MA`RUF AMARY
Oleh: M. I. Sunnah
Membahas permasalahan Negara Bisa di Pinggir Sawah
          Membahas permasalahan negara dan problematika ummat tidak harus di hotel berbintang dan gedung-gedung mengkilat nan mewah, tapi bisa juga dilakukan di pinggir sawah, seperti dicontohkan oleh Ketua  Dewan Syari`ah PKS DIY, Ustadz Ma`ruf Amary, Lc. dalam foto ini. Membahas permasalahan di pinggir sawah kadang hasilnya justru lebih produktif karena disejuki dengan semilir angin sepoi-sepoi. 
          Ustadz ma`ruf Amary ini dikenal sebagai pemimpin ummat “bertipe hangat” lagi “sangat merakyat.” Wajar bila Ustadz serba bisa kebanggaan Kota Yogyakarta ini sangat populer dan disukai ibu-ibu jama`ah Pengajian UMKM pencari rongsok dari Bantul. Satu hal lain yang khas dari ustadz H. Makruf Amary Lc. M.S.I. ini, yakni beliau memiliki “pertalian daerah” dengan Sunan Ampel, karena keduanya sama-sama berasal dari daerah yang sama: Surabaya. Oleh karena itu, sebagian orang menduga-duga beliau ini masih “bau-bau” keturunan Sunan Ampel, Ketua Majelis Syuro Sanggyo Paro Wali di jamannya. Bedanya mungkin, Sunan Ampel terkenal sangat tekun melakuan tazkiyatun nafz, sementara Ustadz Ma`ruf Amary konon katanya sangat hobbi wisata kuliner, terutama “nglathak bersama” di Warung Pak Pong. 
          Kesederhanaan Ustadz Ma`ruf Amary, mengingatkan kita pada keteladanan para tokoh di jaman Kesultanan Demak Bintoro. Saking sederhananya kehidupan mereka, sampai-sampai para ahli sejarah dan arkeologi tidak menemukan situs (bekas) Kerajaan Demak Bintoro. Mereka hanya menemukan Kampung/Kelurahan Bintoro (tempat tinggal Sultan Fatah, dan Sultan-Sultan penerusnya), kampung/kelurahan Wonosalam (tempat tinggal Patih Wonosalam/Perdana Menteri Kesultanan Demak dan penggantinya), Kampung/Pesantren Kadilangu (tempat Tinggal Mufti Kasultanan Demak, Sunan Kalijaga dan keturunannya), dan sebuah masjid legendaris, Masjid Agung Demak Bintoro.  

          Dari fakta-fakta ini, para sejarawan menyimpulkan bahwa memang dulu para Sultan Kasultanan Islam pertama di Jawa ini tidak mendirikan istana secara khusus. Segala urusan negara dan masalah keummatan cukup disyurokan di Masjid Ageng Demak. Semua pisowanan ageng para punggawa negara dan sidang-sidang kabinet Pemerintahan Sang Sultan diselenggarakan di Masjid Agung Demak Bintoro, hingga tiga generasi keturunannya. Demikian kesimpulan jumhur para sejarawan dan arkeolog Islam yang telah tekun meniliti Kasultanan ini. Subhanallah. Padahal mereka pewaris kemasyhuran Kerajaan Majapahit dengan segenap gebyar kemegahan bangunan kerajaannya. (MIS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar