Kamis, 22 Desember 2011

MENGISI LIBURAN SEKOLAH

Ditulis Oleh: M. I. Sunnah

          Pada umumnya, sejak 19 Desember 2011, anak-anak sekolah di DIY mulai menjalani masa libur akhir semester I. Berbagai kegiatan digelar sesuai minat anak, kesempatan, dan daya dukung masing-masing keluarga. Untuk mengisi liburan cukup panjang itu, biasanya berbagai  lembaga, ormas, dan komunitas juga turut menggelar berbagai paket acara liburan yang menarik. Sebut saja di antaranya, Pena Writing School (PWS) menyelenggarakan Wisata Menulis di Desa Wisata Kembangarum, Donokerto, Kecamatan Turi Sleman pada 27-30 Desember 2011. Sementara, DPD PKS Kota Yogyakarta menggelar Pelatihan Bahasa Inggris, Pelatihan Jurnalistik, Pelatihan Pembuatan Robot untuk anak-anak kader mereka, dan masih banyak lagi pilihan kegiatan lainnya. Orang tua yang sayang anak tentu akan menyisihkan “anggaran” liburan bagi anak-anaknya sesuai dengan tingkat kemampuannya.
Bagi keluarga kaya tentu bisa lebih leluasa memprogram agenda liburannya. Para pejabat publik, pengusaha, dan kadang para wakil rakyat sering memanfaatkan liburan untuk berpesiar ke luar negeri atau menjelajahi pulau-pulau wisata yang eksotis. Sementara, bagi masyarakat akar rumput harus pandai-pandai “menahan keinginan” dan “memenaj liburannya” semurah mungkin. Jangan sampai liburan mereka malah membuat mereka “harus berpuasa” pada  bulan berikutnya atau malah menghasilkan “hutang baru yang memonsteri” kehidupannya, apalagi jika hutang lama pun belum berkesampaian melunasinya.
Sebenarnya, untuk mengisi liburan tidak harus selalu mengeluarkan lembaran duwit yang tebal, seperti misalnya liburan segar yang digelar oleh keluarga Pak Tenar. Santri andalan Pesantren Kalong Sunan Kalicode yang juga menjaga gawang The Cholid Mahmud  Center Yogyakarta ini cukup duduk santai bersama Bu Tenar dan kedua anaknya sambil menikmati sajian lucu dari artis “ledhek munyuk” yang ia “tanggap”. Tujuh jenis atraksi kera “tertarbiyah” itu sangat menakjubkan. Selain adegan “sang kethek”  membawa payung pergi ke pasar, memikul dagangan, mengendarahi sepeda motor, menangkap bola, memanjat pohon, juga sajian “sang munyuk menari kuda lumping”.
Usai pertunjukan, wajah Pak Tenar dan Bu Tenar jadi bercahaya, anak-anaknya jadi sangat ceria. Bahkan, anak-anak tetangganya turut bergembira karena bisa ikut menikmati tontonan langka yang  “mengharukan” ini. Dengan hiburan “ledhek munyuk” yang sederhana tapi mempesona ini, walhasil keluarga Pak Tenar cukup keluar uang lima ribu rupiah saja. Nah, cukup murah meriah kan?
Sebenarnya, liburan murah ala tradisional sudah biasa dilakukan oleh banyak keluarga yakni dengan cara mengirim anak-anaknya ke rumah eyangnya di kampung. Selain mereguk fadhilah silaturrahmi, di kampung sang anak bisa belajar berbagai permainan (dolanan) tradisional yang murah, sehat, dan mengasyikan. Misalnya permainan gobag sodor, bal-balan plastik (futsal ala kampung), jumpritan, jethungan, ganepho, egrang, jamuran, kekehan (main gangsingan), plinthengan (main ketapel), nekeran (main kelerang), layangan (main layang-layang), them-theman (main lempar batu), balapkarung, lompat tali, dakon, kecikan, bekelan, umbul (main gambar), nyilung laron, nduduk gangsir, dan lain-lain.
Liburan murah model lain bisa didesain sesuai dengan keinginan dan kreatifitas masing-masing keluarga. Keluarga Pak Suprih Hidayat-Bu Muzna Nurhayati misalnya, memasangkan tenda buat anak lelakinya, Husein dan Hasan yang ingin berkemah di halaman rumahnya. Mereka ingin berlibur dan mencoba suasana lain di luar rumah sekaligus melatih diri berimpati pada para pengungsi korban bencana alam di Negeri ini. Sementara, anak-anak perempuan mereka memanfaatkan liburan dengan mencoba berbagai reses masakan baru bersama sang ibu. Bagi  anak-anak perempuan mereka “magang sebagai calon ibu” di rumah sendiri terasa lebih nyaman dan mengasyikkan.
Ilustrasi: Mas Hamzah sedang "magang"
Model lain, bisa ditempuh dengan menggelar liburan yang lebih edukatif. Keluarga Pak Nur Umam-Bu Nashiroh  misalnya, mengagendakan anak-anaknya berlibur sambil belajar berbagai ketrampilan di shelter Gondang Pusung, Cangkringan.  Selain menikmati sensasi tidur di huntara (hunian sementara) korban Erupsi Merapi itu, mereka bisa berlatih ternak kelinci, membuat bakpia telo, membuat ceriping pisang, ceriping tales, keripik bonggol pisang, dan alain-lain. Sedang, keluarga Dr. Sukamta yang  lulusan The University of Manchester, UK ini pernah mengirim Mas Hamzah, putranya “magang” di Bengkel Mobil Pak Sigit di Tahunan selama hampir 2 bulan. Liburan kali ini, keluarga Ketua DPW PKS DIY itu, mengagendakan mengirim Mbak Arina untuk “magang jadi tukang kue” di rumah tantenya di Klaten. Lumayan untuk proses pembentukan sikap mental dan tambahan bekal pengalaman bagi sang anak.
Lain lagi, liburan ala Mbak Nisa dan Mas Hafidz putra-putri Pak Ilyas dan Bu Witri. Hari-hari telah memasuki masa liburan, tetapi ummi-abinya malah masih sibuk kerja di kantor. Lalu, apa dong acara liburan bagi anak-anak pekerja ini. Masak anak-anaknya harus di rumah terus sementara ummi-abinya malah tidak ada di rumah terus. Aduh, kasihan sekali, piye iki? Syuro keluarga digelar, kesimpulannya harus ada kegiatan yang manfaat, syukurlah bila sekaligus menambah “uang saku”.  Akhirnya, mereka sepakat, selama liburan membuka “Kedei  Juice Holiday” aneka rasa. Dengan bermodal aneka buah-buahan, gula, sekaleng susu, plastik “sedotan”, dan sebuah blender, Mbak Nisa dan Mas Hafidz mulai membuka kedei itu persis di hari pertama liburan sekolahnya. Publikasinya? Cukup pasang tulisan di depan rumahnya “Kedei Juice Holiday”.
Pembeli pertama, abinya sendiri membeli  juice mangga. Pembeli kedua, kakaknya membeli juice stroberi. Ditunggu sambil membaca buku koq tidak ada pembeli lagi. Akhirnya Mas Hafidz berlaku sebagai pembeli ketiga, ia memesan juice tomat. Alhamdulillah, akhirnya ada teman-temannya lewat dan membaca publikasi. Mulailah satu dua temannya ikut membeli juice holiday mereka. Lalu Mbak Nisa teringat pelajaran TIK tentang membuat publikasi menggunakan power point. Maka dibuatlah publikasi kecil-kecil dan ditemani Mbak Tia diedarkan selebaran mini itu ke  rumah-rumah tetangga. Akhirnya Mbak Hasna, Mbak Nanda, kemudian disusul oleh bocah-bocah Bosenga (Bocah Seneng Ngaji) lainnya berbondong-bondong membeli juice di Kedei Mbak Nisa itu.
Daftar Menu Kedia Juzz Holiday
Agar lebih menarik harus ada bonusnya dong. Apa ya? Mulailah pikir-pikir, ketemulah sebagai bagaian dari servisnya, pembeli dipersilakan “nonton film dari Laptop Ummi”-nya. Nah, teman-temannya pun kemruyuk nonton film sambil beli juice holiday kreasi Mbak Nisa. Walhasil, hingga sore hari, juice mereka habis ludes terjual semua. Begitulah hingga hari kedua. Hasilnya gimana? Bisa kita baca dari Laporan Keuangan Mbak Nisa kepada Ummi-abinya. Hari pertama, hasil total penjualan Rp 48.000,00, sedang modal belanja bahan, dll. Rp 47.000,00. Jadi laba Rp 1.000,00. Hari kedua,hasil penjualan Rp 43.000,00, sementara modal belanja bahan Rp. 40.000,00. Jadi laba Rp 3.000,00. Hari ketiga, Mbak Nisa dan Mas Hafidz sangat bergembira karena dapat “gaji cukup lumayan”....  dari Kedei Juzz Holiday-nya.
Saat tiba waktu sholat kedei tutup sementara
Begitulah liburan ala  Mbak Nisa dan Mas Hafidz. Kira-kira kedeinya bisa bertahan sampai akhir liburan nggak ya? Wallahu a`lam. Yang penting, “Mbak Nisa dan Mas Hafidz sudah latihan berjualan alias bisnis.... Kikil diiris-iris, roti tawar dicampur cengkeh. Masih kecil latihan bisnis, biar besok besar jadi sugih sholeh. Amiiin.  Ha .... ha.... ha....(MIS). 
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar