Taushiyah Ustadz K.H. Dr. Tulus Musthofa, Lc.,M.A.
Ketua IKADI DIY
Membaca kiriman tulisan seorang teman yang mengungkap 5700 emas batangan Rothschild & Sons Ltd yang dikirim Amerika Serikat untuk membayar cicilan hutang ke Cina Oktober 2009 ternyata palsu alias aspal [asli tapi palsu], saya teringat akan adanya kata kata hikmah:
ليس كل ما يلمع ذهبا
Laisa kullu maa yalma' dzahaban.
Laisa kullu maa yalma' dzahaban.
Tidak setiap yang mengkilat itu emas.
Pepatah ini digunakan untuk memberikan nasehat kepada kita agar jangan mudah terkecoh kepada performa lahir. Dalam kehidupan sehari hari sering apa yang kita lihat dengan mata kepala sangat kontras dengan kenyataan. Betapapun ada kaidah االظاهر يدل على الباط”Adzzahir yadullu `ala al baathin” bahwa yang lahir menunjukkan yang bathin itu adalah ukuran standar. Namun, dalam kehidupan sering ditemukan sebaliknya.
Ustadz Syatori Abdurrouf menyebutkan apa yang ditangkap melalui indra sering hanya sesuatu yang majazy (kiasan) bukan yang sebenarnya/haqiqy, bahkan tidak sedikit kita tertipu dengan apa yang ditangkap oleh indra kita. Dan semua aktivitas yang didasarkan karena keduniaan sifatnya majazy sehingga sangat berpotensi menimbulkan konflik. Sangat berbeda kalau sesuatu itu berorientasi akhirat, kalau ada konflik sangatlah kecil paling dalam tataran teknis. setiap kali ada tokoh islam meninggal dunia saya lihat semua elemen masyarakat muslim hadir untuk takziyah , tidak ada pertimbangan dari kelompok mana, ormas mana dan parpol mana, jarang umat islam bisa berkumpul bersama seperti dalam forum takziyah, kenapa? Nuansa akhiratnya lebih jelas.
Semakin tidak jelasnya orientasi akhirat biasanya potensi konflik semakin besar. Bahkan, Alqur'an memberi peringatan kepada kita agar jangan mudah terkesima pada faktor yang menggiurkan kita dari aspek lahir, Alquran menggambarkan orang sangat mengagumkan kata katanya justru sebenarnya musuh bebuyutan manusia, bisa disimak dalam surat Albaqarah: 204,
"Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras". {Al-Baqarah: 204} |
Ibnu Jarir dalam tafsirnya mengatakan, “saya menemukan sifat sebagian orang dari umat ini sesuai dengan apa yang disebutkan dalam Alquran: ‘Mereka berorientasi keduniaan dengan menggunakan agama. Lidah mereka lebih manis dari madu, hati mereka lebih pahit dari brotowali, mereka berpakaian untuk manusia seperti domba dengan bulunya tapi hatinya hati srigala, Allah berfirman Maka mereka beberkan atasnamaKU, mereka menipu dengan namaKU, SAYA bersumpah dengan dzatKU sungguh AKU akan kirim kepada mereka suatu fitnah dimana orang yang sabar akan bingung didalamnya’”. Imam Alqurthuby berkata, “saya renungkannya dalam Alquran kata mereka adalah orang-orang munafiq”.
Lebih jelek dari itu jika kita menerima tampilan mereka sebagai bentuk rasa pekewuh dan sifat munafiq dengan harapan bisa mendapatkan sesuatu keuntungan materi dan rasa takut atau karena lemahnya akhlak. Lebih jelek lagi jika kita membela orang dzalim atau orang yang punya maksud jelek kepada ummat dan kita katakan mereka sebagai punya ide baik, punya niat baik, dan perbuatan terpuji, dan sejenisnya.
Saat saya umroh membeli oleh-oleh beberapa kalung harganya satu realan, dari segi warnanya persis emas tentu, tapi ketika dirumah dipakai anak anak satu dua hari menjadi putih kemudian ada yang menjadi hitam, luntur, ya karena memang bukan emas tapi imitasi.
Hikmah ini bisa berlaku dalam ranah kehidupan yang bermacam-macam. Tidak setiap yang bersorban adalah ulama, alangkah mudahnya pakai sorban. Tidak setiap yang berjenggot itu aktivis dakwah beneran konon di sana-sini kini banyak intel utau preman yang juga berjengkot. Sebagaimana tidak setiap pendengar taujih yang menangis kerena takut kepada Allah, bisa jadi karena ingat hal lain.
Paling tidak dari hikmah itu kita bisa ambil 'ibrah diantaranya: Pertama, agar kita senantiasa jujur pada diri sendiri, dan tidak ikut-ikutan menipu orang lain dengan penampilan kita. Kedua, agar ketika harus menilai orang lain-- misalnya calon pasangan hidup, caleg, cawali, cagub, capres, dan sebagainya-- kita tidak hanya dilihat dari performa lahir saja. Ta`aruf dan pengenalan lebih renik dan mendalam dalam berbagai sisi kehidupannya penting kita lakukan.
Para ikhwah, saudaraku di jalan Allah bisa menambah sendiri nasehat untuk kita bersama dari kata hikmah tadi dan bisa menyampaikan fenomena-fenomena kehidupan terkait untuk kita jadikan teladan dalam kasus yang baik dan sebagai kewaspadaan untuk kasus yang tidak baik. Al Imam Hasan Al Basri berkata, “Seseoarang akan senantiasa dalam kebaikan selama menjadi penasehat pada dirinya sendiri”. Awal Tahun Baru 1433 H ini kiranya dapat kita jadikan momentum untuk meningkatkan muhasabah atas diri kita. Selamat tahun baru 1433 H, MOHON MAAF LAHIR BATIN ATAS SEGALA KESALAHAN. Wallahu a'lam bishawaab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar