Selasa, 29 November 2011

KIAT MEMBUAT SAMBEL TEMPE ANTIMULES

Ditulis oleh: M. I. Sunnah

Sebagai aktivis dakwah kita perlu memahami berbagai permasalahan internasional, seperti: kasus pengapalan 5700 emas batangan palsu Amerika Serikat untuk bayar hutang ke China, lingkaran setan hutang internasional, perkembangan partai-partai Islam kontemporer  di Timur Tengah, dan sebagainya. Namun, sebagaimana ajaran tarbiyah kita juga perlu mempelajari ilmu-ilmu praktis (tsaqofah takhiliyah), seperti manajemen keuangan bagi da`i yang gajinya hanya cukup untuk setengah hidup atau sepertiga hidupnya, “manajemen tangisan” bagi da`i yang belum dapat bayar SPP anaknya di SMPIT atau SMAIT, di samping ketrampilan teknis masak-memasak agar dapur kita tidak boros mengeluarkan anggaran.
Betapa hebatnya Ustadz Wahyu Sutopo, staf BIKA DPW PKS DIY. Selain menguasai manajemen microfinance, beliau juga trampil menguasai teknik membuat sambel tempe antimules. Kisahnya, pada saat Pengajian Ibu-ibu dan Bapak-Bapak aktivis dakwah di Kumendaman, Suryodiningkratan, Yogyakarta pada Bulan Ramadhan 1431 H dua tahun yang lalu beliu menyampaikan resep jitu cara memasak sambal/sayur agar tidak membuat mules alias perut sakit.
“Intinya”, kata ustadz shoghir walakin thowil ini, “gagang lombok [pangkal buah cabe] jangan dipithili. Sebaiknya, gagangnya ikut disertakan dalam sambal/sayur,. Ditanggung Insya Allah tidak akan sakit perut, mules-mules, dsb”. “Waah, lak njur nyrongot-nyrongot kayak kumis ditak dipotong gitu no....,” komentar seorang bapak peserta pengajian. “Ben wae.... toh konon katanya banyak yang suka kumis nyrongot-nyrongot he he he....,”  jawab beliau seraya menegaskan, “Cara memasak cabe seperti ini merupakan hasil penelitian ilmiyah lho.... Tak percaya, silakan dicoba...”.(MIS)

Senin, 28 November 2011

Tidak Setiap yang Mengkilat Itu Emas

Taushiyah Ustadz K.H. Dr. Tulus Musthofa, Lc.,M.A.
Ketua IKADI DIY

         Membaca kiriman tulisan seorang teman yang mengungkap 5700 emas batangan Rothschild & Sons Ltd yang dikirim Amerika Serikat untuk membayar cicilan hutang ke Cina Oktober 2009 ternyata palsu alias aspal [asli tapi palsu], saya teringat  akan adanya kata kata hikmah: 
ليس كل ما يلمع ذهبا
Laisa kullu maa yalma' dzahaban.
Tidak setiap yang mengkilat itu emas.

          Pepatah ini digunakan untuk memberikan nasehat kepada kita agar jangan mudah terkecoh kepada performa lahir. Dalam kehidupan sehari hari sering apa yang kita lihat dengan mata kepala sangat kontras dengan kenyataan. Betapapun ada kaidah   االظاهر يدل على الباط”Adzzahir yadullu `ala al baathin” bahwa yang lahir menunjukkan yang bathin itu adalah ukuran standar. Namun, dalam kehidupan sering ditemukan sebaliknya.
            Ustadz Syatori Abdurrouf menyebutkan apa yang ditangkap melalui indra sering hanya sesuatu yang majazy (kiasan)  bukan yang sebenarnya/haqiqy, bahkan tidak sedikit kita tertipu dengan apa yang ditangkap oleh indra kita. Dan semua aktivitas yang didasarkan karena keduniaan sifatnya majazy sehingga sangat berpotensi menimbulkan konflik. Sangat berbeda kalau sesuatu itu berorientasi akhirat, kalau ada konflik sangatlah kecil paling dalam tataran teknis. setiap kali ada tokoh islam meninggal dunia saya lihat semua elemen masyarakat muslim hadir untuk takziyah , tidak ada pertimbangan dari kelompok mana, ormas mana dan parpol mana, jarang umat islam bisa berkumpul bersama seperti dalam forum takziyah, kenapa? Nuansa akhiratnya lebih jelas.
            Semakin tidak jelasnya orientasi akhirat biasanya potensi konflik semakin besar. Bahkan, Alqur'an memberi peringatan kepada kita agar jangan mudah terkesima pada faktor yang menggiurkan kita dari aspek lahir, Alquran menggambarkan orang sangat mengagumkan kata katanya justru sebenarnya musuh bebuyutan manusia, bisa disimak dalam surat Albaqarah: 204,


"Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras". {Al-Baqarah: 204}
            Ibnu Jarir dalam tafsirnya mengatakan, “saya menemukan sifat sebagian orang dari umat ini sesuai dengan apa yang disebutkan dalam Alquran: ‘Mereka berorientasi keduniaan dengan menggunakan agama. Lidah mereka lebih manis dari madu, hati mereka lebih pahit dari  brotowali, mereka berpakaian untuk manusia seperti domba dengan  bulunya  tapi hatinya hati srigala, Allah berfirman Maka mereka beberkan atasnamaKU, mereka menipu dengan namaKU,  SAYA bersumpah dengan dzatKU sungguh AKU akan kirim kepada mereka suatu fitnah dimana orang yang sabar akan bingung didalamnya’”. Imam Alqurthuby berkata, “saya renungkannya dalam Alquran kata mereka adalah orang-orang munafiq”.
Lebih jelek dari itu jika kita menerima tampilan mereka sebagai bentuk rasa pekewuh  dan sifat munafiq dengan harapan bisa mendapatkan sesuatu keuntungan materi dan rasa takut atau karena lemahnya akhlak. Lebih jelek lagi jika kita membela orang dzalim atau orang yang punya maksud jelek kepada ummat dan kita katakan mereka sebagai punya ide baik, punya niat baik, dan perbuatan terpuji, dan sejenisnya.
            Saat saya umroh membeli oleh-oleh beberapa kalung harganya satu realan, dari segi warnanya persis emas tentu, tapi ketika dirumah dipakai anak anak satu dua hari menjadi putih kemudian ada yang menjadi hitam, luntur, ya karena memang bukan emas tapi imitasi.
Hikmah ini bisa berlaku dalam ranah kehidupan yang bermacam-macam. Tidak setiap yang bersorban adalah ulama, alangkah mudahnya pakai sorban. Tidak setiap yang berjenggot itu aktivis dakwah beneran konon di sana-sini kini banyak intel utau preman yang juga berjengkot. Sebagaimana tidak setiap pendengar taujih yang menangis kerena takut kepada Allah, bisa jadi karena ingat hal lain.
            Paling tidak dari hikmah itu kita bisa ambil 'ibrah diantaranya: Pertama, agar kita senantiasa jujur pada diri sendiri, dan tidak ikut-ikutan menipu orang lain dengan penampilan kita. Kedua, agar ketika harus menilai orang lain-- misalnya calon pasangan hidup, caleg, cawali, cagub, capres, dan sebagainya-- kita tidak hanya dilihat dari performa lahir saja.  Ta`aruf dan pengenalan lebih renik dan mendalam dalam berbagai sisi kehidupannya penting kita lakukan.
            Para ikhwah, saudaraku di jalan Allah bisa menambah sendiri nasehat untuk kita bersama dari kata hikmah tadi dan bisa menyampaikan fenomena-fenomena kehidupan terkait untuk kita jadikan teladan dalam kasus yang baik dan sebagai kewaspadaan untuk kasus yang tidak baik. Al Imam Hasan Al Basri berkata, “Seseoarang akan senantiasa dalam kebaikan selama menjadi penasehat pada dirinya sendiri”. Awal Tahun Baru 1433 H ini kiranya dapat kita jadikan momentum untuk meningkatkan muhasabah atas diri kita. Selamat tahun baru 1433 H, MOHON MAAF LAHIR BATIN ATAS SEGALA KESALAHAN. Wallahu a'lam bishawaab.

Minggu, 13 November 2011

PENGAJIAN PADI EMAS DPC MG MANTAB DAN GAYENG

Dilaporkan oleh: M. I. Sunnah

Biasanya pengelolaan keuangan kita seperti aliran air dalam bejana yang bocor. Berapapun gaji dan penghasilan masuk ke kantong kita selalu habis untuk kebutuhan hidup rutin kekinian, tidak bisa menabung dan membayar hutang. Apalagi membayar zakat dan shodaqoh. “Ketika gaji kita masih sedikit, kita berfikir kalau gajinya sudah naik pasti bisa menabung dan membayar hutang. Begitu gajinya bertambah banyak ternyata tetap saja tidak bisa menanbung,”  ungkap Ustadz Big Sugeng, Akt., M.Si., pakar Manajemen Keuangan Keluarga dalam Pengajian Keluarga Besar Padi Emas DPC PKS MG, Sabtu malam, 12 November 2011 di Rumah Mbak Dety, Bintaran Kulon MG II/73 Wirogunan, Yogyakarta.
Menurut Ustadz tambun perkasa yang menyimpan banyak lelucon ini, “Mindset pengelolaan keuangan kita harus diubah! Sebagai seorang muslim, harus kita tunaikan dulu hak Allah (Zakat, infaq/shodaqoh), agar uang kita lebih berkah dan tahan lama. Lalu kita bayar hak orang lain (hutang-hutang/rekening/tagihan cicilan yang sudah jatuh tempo), hak masa depan kita [menabung/investasi], baru sisanya untuk kebutuhan rutin kita. Jangan dibalik!”
“Dalam pembelanjaan uang sehari-hari, kita harus membuat prioritas pengeluaran. Jangan untuk memenuhi keinginan saja [want] yang memang tak terbatas tetapi prioritaskan untuk membeli yang benar-benar kita butuhkan [needs]} dengan melihat faktor resiko {tinggi, menengah, rendah] dan fleksibelitas. Sedangkan kata kuncinya adalah qona`ah, yakni sikap merasa cukup, ridho, puas atas rejeki dari Allah setelah berusaha keras”, lanjut  Ustadz Big Sugeng yang merupakan calon kuat anggota Majelis Pemberdayaan Ummat IKADI DIY ini.
Menanggapi pertanyaan peserta, bagaimana manajemen keuangan bagi orang yang tidak punya uang? Ustadz auditor dan trainer pajak yang juga seorang blogger ini menjawab, “Kita harus memenaj aliran uang atau cash flow kita dengan saksama! Pertama, ya jelas harus menambah penghasilan. Misalnya, selain bekerja rutin, kita menambah penghasilan dengan bekerja malam hari di saat orang lain sedang tidur ngiler, atau mengusahakan “aset” yang kita miliki mampu  mendatangkan pasif income [rumah/sepeda motor disewakan,  blender, dsb]’ Banyak caralah menuju kaya.... Kita bisa belajar proses pada orang lain yang sudah sukses,” jelasnya.

USAI PENGAJIAN PADI EMAS
            Pengajian Keluarga Besar Padi Emas DPC MG ini merupakan bentuk kreasi baru TRP (Taklim Rutin Partai) ala PKS Mergangsan. Dalam pengajian ini diundang semua kader semua jenjang dan sebanyak-banyaknya simpatisan PKS MG dengan mengajak serta keluarga dan teman-temannya. Pengajian ini diselenggarakan sebulan sekali bergilir dari ranting ke ranting dilaksanakan di rumah kader yang memungkinkan. Biasanya, Seksi Kaderisasi DPC tersebut  diam-diam mencermati daftar hadir peserta untuk “dipetani”.  Peserta yang ditengarahi belum ikut TRK (taklim rutin kader) langsung “diukhuwwahi” agar tak lama kemudian bisa ikut TRK di ranting tempat tinggalnya.
Dasar aktivis DPC PKS Mergangsan {MG} yang kebanyakan mukim di pinggiran Kali Code,  setiap agenda selalu pakai acara makan-makan. Nah, begitu juga, Pengajian Keluarga Besar Padi Emas kali ini diakhiri dengan acara makan bersama soto bandung, sate kudus, ayam balado padang, dan krupuk kriyuk-kriyuk. Wou rasanya maknyuuus sekali. Saking maknyuusnya, tak lupa, Amiin Hidayat, kader MG yang punya profesi baru sebagai “Jagal hewan qurban” panggilan ini minta dibungkuskan untuk yang di rumah. Waduh kader senior yang lain bisa meri nich.  He he he....
                Sambil makan bersama, panitia gerilya mewancarai para peserta  pengajian. “Mantab Pak. Saya suka pengajian padi emas kali ini. Materinya berbobot, disampaikan Ustadz Big Sugeng yang juga berbobot, snack dan konsumsinya muaantab lagi, “ kata Abdul Hafidz. “Insya Allah akan saya promosikan ke DPC yang lain, biar Ustadz Big Sugeng tiap Sabtu diundang bergilir dari DPC ke DPC. Soalnya materinya sangat dibutuhkan oleh kader dan simpatisan, ustadznya juga lucu dan merakyat lagi,” kata Pak Indra Suryanto, “Camat” DPC PKS MG yang selalu enerjik ini. Tak ketinggalan kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh Ali Sumono, kader senior MG yang juga Ketua Takmir abadi Masjid At Tauhid Bintaran Kulon itu. Pak Ali langsung menembak Ustadz Big Sugeng, “Ustadz Sugeng bisa ngisi pengajian di Perumahan saya to?” Ustadz Big Sugeng yang dinasnya kini pindah ke Kantor Pemeriksa Keuangan di Klaten, tetapi tetap tinggal di Mojosari, Banguntapan ini Insya Allah selalu siap asal waktunya pas bisa. Nomor HP-nya? Silakan kontak ke 0816-689-153. Para aktivis jama`ah online-iyah bisa juga mengunjungi webblog beliau di www.big-sugeng.blogspot.com. {MIS}