Oleh: Witri Kartindari
Keluarga merupakan komponen utama dalam pembangunan negara. Jika keluarga kuat dan berkualitas, maka bisa dijamin negara pun akan kuat dan berkualitas. Jika keluarga itu retak, rusak, dan bermutu rendah, maka bisa dijamin pula masyarakat dan negara tak akan pernah berdiri kokoh.
Mewujudkan sebuah keluarga yang berkualitas adalah pekerjaan yang amat besar. Akan tetapi, bukan pula berarti tidak dapat diupayakan. Dan sebenarnya, ini merupakan pekerjaan lanjutan dari pekerjaan besar sebelumnya, yaitu perbaikan diri sendiri.
Perbaikan diri sendiri ini memiliki 10 dimensi yang akan menghantarkannya pada kriteria muslim atau muslimah ideal. Kesepuluh dimensi tersebut adalah selamat aqidahnya, benar ibadahnya, mulia akhlaknya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupannya, kuat fisiknya, pejuang bagi dirinya sendiri, penuh perhatian akan waktunya, rapi urusannya, dan bermanfaat bagi orang lain.
Dengan modal pribadi yang ideal diatas, maka diharapkan pekerjaan membentuk keluarga yang kokoh dan berkualitas menjadi lebih ringan. (Nah, bagi Anda yang belum menikah, agaknya kesepuluh dimensi tadi menjadi menu wajib yang harus memenuhi hari-hari Anda). Akan sangat baik, jika sejak awal kedua insan tadi menata langkahnya agar idealita keluarga yang dicita-citakan menjadi sebuah realita. Beberapa hal di bawah ini mudah-mudahan menjadi hal yang dapat memudahkan:
1. Tentukan Tujuan Anda
Untuk apa Anda menikah? Untuk meneruskan keturunan, memiliki legalitas hubungan pria-wanita atau untuk sesuatu hal yang lebih besar dan lebih mulia semacam membangun laboraturium peradaban? Dari awal Anda harus menentukan tujuan pernikahan. Ibarat kapal, Anda dan pasangan Anda harus menentukan ke pelabuhan mana Anda akan berlabuh. Tidak mungkin kapal yang sama dan dalam waktu yang sama menuju pelabuhan yang berbeda.
Pelayaran panjang bahtera keluarga, agaknya memang harus dilabuhkan pada kebaikan diri, keluarga, negara dan seluruh alam karena kita merupkan hamba Allah yang ditugaskan untuk itu
2. Kenali Diri, Pasangan dan Keluarga Besar Anda
Mengenali disini meliputi aspek intelektualitass, kecendurungan, tabiat-kebiasaan, potensi dan kelemahan masing-masing. Dengan pengenalan yang baik, kita akan memiliki pandanag ke depan yang jelas untuk meningkatkan potensi atau menutupi kelemahan. Disini dibutuhkan kesiapan kita untuk mengakui kelemahan atau kekurangan dan bersiap untuk melakukan perbaikan. Jangan pernah memaksakan orang lain menerima kekurangan kita yang sebenarnya dapat diperbaiki.
Masalah ketakstabilan ruhiah, kelemahan intelektualis, dan kekurangan trampilan hidup, kebisaan sehari-hari (seperti kebersihan dan kesopanan) adalah hal-hal yang dapat diperbaiki.
3. Dekatkan Pola Pikir Anda
Pola pikir perlu didekatkan karena akan mengantarkan kita pada pemahaman yang sama. Bekerja sama dalam pemahaman yang sama akan memudahkan kita dalam menyikapi setiap masalah yang dapat dipastikan selalu hadir dalam hidup kita.
Rahasia agar pola pikir dapat disatukan adalah dengan memiliki dasar hukum (landasan) yang sama, yaituAl- Qur’an dan Sunah.Dari kedua hal ini maka insya Allah ,shibghatullah akan mencelupi hari-hari kita. Bukankah celupan Allah adalah sebaik-baik celupan? Selanjutnya, dalam menangani hal-hal yang lebih praktis pun , kita perlu mendekatkan pola pikir seperti dalam hal: skala prioritas terhadap pekerjaan, manajemen waktu dan manajemen keuangan.
Terwujudnya tujuan yang jelas, pengenalan yang baik dan kesamaan pola pikir membutuhkan satu kata kunci yaitu komitmen. Anda dan pasangan perlu menegaskan komitmen baik secara umum maupun khusus.
Khusus untuk komitmen kepada keluarga kecil yang tengah Anda bangun, Anda dan pasangan Anda perlu mempunyai satu komitmen bersama. Jangan sampai di tengah jalan nanti, salah satu dari Anda merasakan komitmen pasangan terhadap keluarga yang sangat lemah. Anda perlu memandang bahwa keluarga adalah sesuatu yang penting sebagaimana halnya hal lain seperti pekerjaan dan dakwah.Bahkan kesemua hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Karena keluarga itu sangat berharga dan kita diperintahkan untuk menjauhkannya dari api neraka (At Tahrim:6).
Witri Kartindari, S.E.,S.S., Ustadzah SDIT Luqman Al-Hakim, Yogyakarta dan Ustadah Ma`had Tarbiyah Islamiyyah, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar