Sabtu, 11 Mei 2013

PKS ASAH JIWA DI DEPAN MOSEUM PERJUANGAN JOGJA


           Di depan Moseum Perjuangan Brontokusuman, Kota Yogyakarta di bawah rindang pepohonan, Kamis pagi, 9 Mei 2013 berkumpulah para kader penggerak PKS Dapel I Kota Yogyakarta. Anak-anak muda sopan, bapak-bapak muda santun, dan ibu-ibu muslimah anggun itu pun tampak kompak dan khusuk mengikuti rangkaian acara Pengajian Keluarga Besar Penggerak PKS ini. Sementara, tampak seorang ustadz alim, lembut kebapakan, sedang membakar semangat mereka untuk tak lelah bergerak dan berdakwah di berbagai medan perjuangan sehingga barisan mereka meraih kemenangan besar di jalan Allah. 
            Acara yang secara internal dilebeli Liqa Tansiqi Tarbawi PKS menuju 3 Besar (LT3B) ini diawali dengan sarapan pagi bersama dengan menu istimewa nasi kuning berlaukan ayam bacem rasa cinta dengan segala kelengkapannya. Kontan saja, setelah sarapan bersama wajah-wajah mereka nampak penuh gairah dan siap bekerja mengharmonikan kehidupan masyarakat dan bangsanya. Mereka sudah terbiasa berjuang bukan untuk kepentingan dunia tetapi untuk meraih kemulyaan kehidupan akhiratnya.
            Acara pengajian yang diselenggarakan bulanan ini meski berjalan sejuk, namun tetap gayeng dan gerr, karena dipandu oleh budayawan muda, Ustadz Kuncoro Kalepodiningrat. Tentu saja disertai yel-yel salam tiga besar PKS: “Satu komando, satu perjuangan, tembus tiga besar! Allahu Akbar! “Biarkan anjing-anjing mengonggong, dan harimau mengaum, PKS Insya Allah tak kan terbendung! Allahu Akbar!!!”
            Tampil pertama, Ustadz Eka Yawara, Manajer Dakwah Dapil I menyampaikan arahan acara dan harapan-harapan atas penyelenggaraan acara ini. Sementara, sabdotama adi luhung (taujih tarbawi) disampaikan oleh Ustadz K.H. Drs. Ghozali Mukri,  anggota Dewan Syari`ah PKS DIY.
            Dalam taujihnya, UGM (Ustadz Ghozali Mukri) mengingatkan 3 langkah menuju kemenangan dakwah, yakni: merapat ke haribaan Allah (Taqorrob ila Allah), menjauhi kemaksiyatan, serta sabar dan tegar dalam menghadapi rintangan dakwah. “Jangan hiraukan goyangan orang-orang yang membenci dakwah berkembang, tetaplah berjuang, bergerak, menebar kebajikan. Insya Allah dalam waktu dekat Allah akan memberi kemenangan kepada gerakan dakwah ini. Allahu Akbar!!!” seru ustadz yang sering melakukan umrah dan berhaji setiap tahun ini.  
            Tak pekak lagi, kader-kader PKS pun tampak sumrangah semakin greget (semangat), tampilannya semakin pengkuh (tegar), dan ora mingkuh (tak kenal menyerah) menghadapi segala tantangan apalagi hanya giringan opini negatif media partisan dan jaringan “konspirasi bayaran”-nya. Mereka tetap akan bergerak dan beramal social di tengah lingkungan masyarakatnya sehingga masyarakat yang  telah mengenal kepribadian dan keseharian mereka justru semakin simpati kepada mereka karena kekejian fitnah dan pendzaliman itu tak akan mampu membodohi kejernihan nurani.
            Acara pengasahan jiwa ini ditutup dengan doa kemenangan dan diteruskan dengan aksi menghayati pesan moral di balik Bangunan Moseum Perjuangan Brontokusuman. Begitu usai, kader-kader partai ini menyerbu moseum dan menatapi wajah-wajah para pahlawan bangsa yang dipahatkan melingkari dinding Moseum Perjuangan Rakyat Nusantara itu. Sosok tegar Pangeran Diponegoro, Hasanuddin, Imam Bonjol, Panglima Polim, Pangeran Antasari, Cut Nya` Din, Nyi Ageng Serang dan lain-lain seakan mengingatkan bahwa fitnah, cercakan, dan rintangan senantiasa dialami oleh para pejuang keadilan maka tetap sabar dan tegar adalah kunci meraih kemenangan. Dengan izin Allah kemangan itu  pasti terjadi, dan tak bisa dihalang-halangi lagi. (MIS).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar