Kamis, 05 Desember 2013

INIKAH JAMAN ITU?



Sunan Kalicode
 INIKAH JAMAN ITU?

 (1)

Inikah jaman itu,
Jaman Kalabendu?
Di Negeri yang Ber-Ketuhanan Yang Maha Esa
Sekulerisme dan liberalisme dicintai dan diikuti secara membabituli
Dibela dan diabdi bagai “Tuhan” Pemberi Rizki
Agama hendak dipinggirkan
hingga hanya dipakai di pojok kamar pribadi.
Mungkin karena Profesornya telah mengformat sel-sel pola fikir mereka
hingga ke tulang sumsum mereka
Mereka seolah mengajak anak bangsa menuju taman surga
meski senyatanya mengiring mereka ke pintu neraka Jahanam.
Naudzubillah!  

Inilah jaman itu,
Jaman Kalabendu?
Di Negeri yang Ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab
Demi gemerincing kucuran funding asing,
kebenaran dijungkirbalikkan
hingga harus disesuaikan dengan kehendak jaringan dajjal internasional
Hukum pun “ditegakkan” di atas dendam dan target pesanan
Fakta sebenarnya diabaikan,
Diganti asumsi-asumsi yang dibingkai dengan ploting cerita
dan pasal yang dipaksakan,
diramu dengan opini para kampret media dan agenda “pembunuhan”AHH.
Pembelaan tak didengarkan,
Fatwa para pakar hukum penyusun Undang-Undang tak dihiraukan.
Karena keputusan pengadilan  telah “ditodongkan”
sebelum palu hakim sidang diketukkan.
Maka, gagak-gagak hitam pun berkoar-koar
menebarkan berita hoax-hoax hoax-hoax
mewartakan kematihan keadilan dan nurani kemanusiaan.
Inilah jaman itu,
Jaman Kalabendu!

Kamis, 30 Mei 2013

SEBENARNYA AKU INGIN PULANG (2)



M.I. Sunnah Al-Fary
SEBENARNYA AKU INGIN PULANG (2)


Saudara-Saudaraku,
Sebenarnya aku ingin pulang
Menuang rindu dan mendadar kekangenan
Agar kita bisa saling cerita dan tertawa bersama
Hingga sejenak terkelupas derita dan sesak di dada

Sahabat-sahabatku,
Sebenarnya aku ingin pulang
Mengenang kembali masa-masa perjuangan
Menyusuri jalan-jalan kebersamaan
Sambil tak lupa minum legen dan berbagi gethuk pisang

Kota Pare ku,
Sebenarnya aku ingin pulang
Untuk sekedar menyicipi makanan khasmu yang kondang
Apalagi nasi pecelmu yang uenak nyepotke kucir
Konon membuat putra-putrimu kuat dan cetar berfikir
karena mengandung kangkung dan kenikir

Kota Pare ku,
Sungguh, sebenarnya aku ingin pulang
Tapi sayang, sampai hari ini belum kesampaian….

SEBENARNYA AKU INGIN PULANG



M.I. Sunnah Al-Fary
SEBENARNYA AKU INGIN PULANG (1)

Emak,
Sebenarnya aku ingin pulang
Bertemu Emak di tanah pembaringan
Bersihkan jalar rerumputan, dan rapikan kembali batu nisan
Agar melati penungu makammu setia gugurkan mahkotanya
beriring  taburan wewangian ampunan Tuhan

Bapak,
Sebenarnya aku ingin pulang
Bertemumu di tanah pekuburan
Dzikirkan kematian dan munajatkan doa panjang
Semoga kamboja penunggu makammu setia gugurkan mahkotanya
beriring taburan wewangian ampunan Tuhan

Emak-Bapakku yang tersayang,
Sebenarnya aku ingin pulang
Kembali ke rahim kampung halaman
Tapi, maafkan ananda
Kini belum bisa tinggalkan perbatasan Kota
Karena ananda sedang siaga
menunggu  kelahiran cucumu
yang kelima….

(Lha haula wala quwwata illa billah,
Walhamdulillah….).



Selasa, 28 Mei 2013

AKU MASIH DI SINI


Ki Mas Ilyas Sunnah
AKU MASIH DI SINI  (1)


Alhamdulillah,
Aku masih di sini: di pinggir kulon Kali Code ini
Sedang membasuh diri, mengasah tepi hati
Sambil menjaring sepi, merenda nurani
Menghiasinya dengan dzikir kembang melati

Alhamdulillah,
Aku masih di sini: di masjid bantaran kali ini
Sedang menyimak berbagai kitab referensi
sambil mencermati dinamika dunia
yang telah dinista konspirasi  para raksasa bala kurawa

Alhamdulillah,
Aku masih di sini: di sebrang gapura kampung ini
Sedang menanti anak-anak muda yang kan Allah kirimkan
Seraya menjumputi uban-uban yang mulai berjatuhan
Sungguh mereka sangat butuh pendampingan

Alhamdulillah,
Aku masih di sini: di Pendopo Pesantren Kalong ini
Sedang mempersiapkan generasi shof kedua
Barisan Satryatama yang menguasai Fiqih Kearifan dan Manajemen Pergerakan
Sungguh, peradaban jaman kalasuba harus digulirkan!

Alhamdulillah,
Aku masih di sini, di Kota Yogyakarta ini
Sedang  mewiridkan hizib dan doa:
Semoga Yang Maha Perkasa
berkenan menurunkan Keadilan-Nya
hingga nurani anak manusia berani lantang bicara
tentang kebenaran yang senyatanya.
Cukuplah, Allah Yang Maha Besar
Menjadi pembela barisan hamba-hamba-Nya yang bersabar.
Allahu Akbar!

Sabtu, 11 Mei 2013

PKS ASAH JIWA DI DEPAN MOSEUM PERJUANGAN JOGJA


           Di depan Moseum Perjuangan Brontokusuman, Kota Yogyakarta di bawah rindang pepohonan, Kamis pagi, 9 Mei 2013 berkumpulah para kader penggerak PKS Dapel I Kota Yogyakarta. Anak-anak muda sopan, bapak-bapak muda santun, dan ibu-ibu muslimah anggun itu pun tampak kompak dan khusuk mengikuti rangkaian acara Pengajian Keluarga Besar Penggerak PKS ini. Sementara, tampak seorang ustadz alim, lembut kebapakan, sedang membakar semangat mereka untuk tak lelah bergerak dan berdakwah di berbagai medan perjuangan sehingga barisan mereka meraih kemenangan besar di jalan Allah. 
            Acara yang secara internal dilebeli Liqa Tansiqi Tarbawi PKS menuju 3 Besar (LT3B) ini diawali dengan sarapan pagi bersama dengan menu istimewa nasi kuning berlaukan ayam bacem rasa cinta dengan segala kelengkapannya. Kontan saja, setelah sarapan bersama wajah-wajah mereka nampak penuh gairah dan siap bekerja mengharmonikan kehidupan masyarakat dan bangsanya. Mereka sudah terbiasa berjuang bukan untuk kepentingan dunia tetapi untuk meraih kemulyaan kehidupan akhiratnya.
            Acara pengajian yang diselenggarakan bulanan ini meski berjalan sejuk, namun tetap gayeng dan gerr, karena dipandu oleh budayawan muda, Ustadz Kuncoro Kalepodiningrat. Tentu saja disertai yel-yel salam tiga besar PKS: “Satu komando, satu perjuangan, tembus tiga besar! Allahu Akbar! “Biarkan anjing-anjing mengonggong, dan harimau mengaum, PKS Insya Allah tak kan terbendung! Allahu Akbar!!!”
            Tampil pertama, Ustadz Eka Yawara, Manajer Dakwah Dapil I menyampaikan arahan acara dan harapan-harapan atas penyelenggaraan acara ini. Sementara, sabdotama adi luhung (taujih tarbawi) disampaikan oleh Ustadz K.H. Drs. Ghozali Mukri,  anggota Dewan Syari`ah PKS DIY.
            Dalam taujihnya, UGM (Ustadz Ghozali Mukri) mengingatkan 3 langkah menuju kemenangan dakwah, yakni: merapat ke haribaan Allah (Taqorrob ila Allah), menjauhi kemaksiyatan, serta sabar dan tegar dalam menghadapi rintangan dakwah. “Jangan hiraukan goyangan orang-orang yang membenci dakwah berkembang, tetaplah berjuang, bergerak, menebar kebajikan. Insya Allah dalam waktu dekat Allah akan memberi kemenangan kepada gerakan dakwah ini. Allahu Akbar!!!” seru ustadz yang sering melakukan umrah dan berhaji setiap tahun ini.  
            Tak pekak lagi, kader-kader PKS pun tampak sumrangah semakin greget (semangat), tampilannya semakin pengkuh (tegar), dan ora mingkuh (tak kenal menyerah) menghadapi segala tantangan apalagi hanya giringan opini negatif media partisan dan jaringan “konspirasi bayaran”-nya. Mereka tetap akan bergerak dan beramal social di tengah lingkungan masyarakatnya sehingga masyarakat yang  telah mengenal kepribadian dan keseharian mereka justru semakin simpati kepada mereka karena kekejian fitnah dan pendzaliman itu tak akan mampu membodohi kejernihan nurani.
            Acara pengasahan jiwa ini ditutup dengan doa kemenangan dan diteruskan dengan aksi menghayati pesan moral di balik Bangunan Moseum Perjuangan Brontokusuman. Begitu usai, kader-kader partai ini menyerbu moseum dan menatapi wajah-wajah para pahlawan bangsa yang dipahatkan melingkari dinding Moseum Perjuangan Rakyat Nusantara itu. Sosok tegar Pangeran Diponegoro, Hasanuddin, Imam Bonjol, Panglima Polim, Pangeran Antasari, Cut Nya` Din, Nyi Ageng Serang dan lain-lain seakan mengingatkan bahwa fitnah, cercakan, dan rintangan senantiasa dialami oleh para pejuang keadilan maka tetap sabar dan tegar adalah kunci meraih kemenangan. Dengan izin Allah kemangan itu  pasti terjadi, dan tak bisa dihalang-halangi lagi. (MIS).