Oleh: Ki Mas Ilyas Sunnah
Banyak hal menarik bermunculan di saat kita simak lebih dalam sejarah kehidupan para sahabat Nabi. Bukan sekedar karena mereka ini sebaik-baik generasi dan sebaik-baik kurun di sepanjang sejarah penghuni bumi. Akan tetapi, butiran ibrah dan cahaya pembelajaran seakan berserakan indah di semela kehidupan para ikhwah Nabi ters ebut. Seakan masing-masing sahabat itu “bintang bersinar terang” di sudut langit masing-masing. Satu hal yang dapat dipastikan, para sahabat Nabi dari berbagai latar qabilah dan daerah itu, masing-masing memiliki peran yang sangat signifikan dalam bentang kehidupan di awal pengguliran Dnul Islam, agama para Nabi ini.
Memang ada sahabat yang kemudian harus menerima “panggilan sejarah” menjadi Kholifah, penerus kepemimpinan Nabi, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khoththab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, dan lain-lain. Namun, fakta historisnya tidak semua sahabat jadi Kholifah. Ada juga sahabat yang dalam penggal kehidupannya harus menjadi dutaabi berkeliling ke luar negeri, seperti Jakfar bin Abi Tholib ke Negeri Habasyah, Muadz bin Jabbal ke Negeri Yaman, atau Sa`ad bin Abi Waqqash yang memimpin ekspedisi diplomatik hingga ke Negeri Cina. Namun, fakta historisnya tidak semua sahabat menjadi duta berkeliling ke luar Negeri Madinah. Bilal bin Rabbah dan Abdullah bin Umi Maktum misalnya, beliau senantiasa istiqomah menjadi Muadzin Masjid Nabawi di Madinah. Tentunya, beliau khususnya Abdullah bin Ummi Maktum jarang pergi keluar Negeri karena peran dan “kumandang adzannya” senantiasa (setiap waktu) harus memandu ibadah penduduk Kota Nabi tersebut.
Dalam menghayati peran kehidupan sosok sahabat Abdullah bin Ummi Maktum kiranya dapat menjadi ibrah yang luar biasa, terutama bagi aktivis pergerakan dakwah Islam kontemporer. Pelajaran yang berharga itu di antaranya ialah:
a. Beliau tidak pernah bermimpi dan meminta, ternyata dari sononya Allah menjadikannya terlahir dalam kondisi buta netranya. “Panduming Gusti Allah” alias “taqdir Allah” itu ia jalaninya dengan penuh keridhoan, keistiqomahan, dan “kalis ing rasa grusulo” alias “terbebas dari rasa keluh kesah”. Meski cukup menghambat kenyamanan aktivitasnya sehari-hari, muadzin sholat subuh Masjid Nabawi itu tetap tabah melangkah.... Dalam hal ini, Rasulullah pernah menyampaikan taklimatnya, “Sesungguhnya jika adzan masih agak malam (adzan pertama) maka kamu masih boleh makan minum sampai Ibn Ummi Maktum beradzan, maka itu tanda sudah subuh dan mulai haram makan bagi orang yang akan puasa (H.R. Ibnu Umar via Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, Jilid VIII, hlm. 309).
b. Justru dengan kondisi “ke-papa-an” atau “keidhoifan netra” Abdullah bin Ummi Maktum ini, Rasullullah, Sang pemimpin pengguliran Dinul Islam itu pernah ditegur Allah dengan diturunkannya surat “Abasa” (Bermuka Masam). Teguran itu pada intinya mengingatkan bahwa prioritas dakwah pada “hal-hal yang strategis dan bergensi dalam pandangan manusia” tak boleh mengabaikan kepedulian pada urusan-urusan kecil dan remeh yang dipersonifikasikan oleh Si Buta, Abdullah bin Ummi Maktum. Dalam peristiwa ini, Anas bin Malik bercerita, Abasa watawalla turun mengenai Ibn Ummi Maktum ketika ia datang kepada Nabi SAW. Sementara Nabi sedang melayani Ubay bin Khalaf (dan pemuka-pemuka Quraisy) sehingga Nabi mengabaikanya, maka turunlah ayat Abasa wa tawalla. Anjaa `ahul a`maa. Kemudian setelah peristiwa itu, Nabi selalu memulyakan Abdullah bin Ummi Maktum. Bahkan, beliau selalu menanyakan kepadanya kalau-kalau ada qodhoyah atau ada hajat apa-apa. (H.R. Abu Ya`la via Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, Jilid VIII, hlm. 309). Subhanallah.... sungguh dalam peristiwa yang diabadiakan pada Surat Abasa ini ada ibrah dan cahaya pembelajaran bagi para qiyadah pergerakan Islam dan para pemimpin di berbagai tingkatan.
c. Kadang sulit ditelaah oleh rasionalistas manusia, justru pada diri seorang Abdullah bin Ummi Maktum yang buta netranya, Rasullullah menyerahkan amanah “pengumandangan adzan subuh” di Masjid yang sekaligus “istana negara’’ Madinah itu. Bahkan, dalam sirah Nabawiyah dikisahkan, Nabi juga mengangkat sahabat kasepuhan yang tunanetra ini menjadi penjabat sementara (PJs) walikota Madinah, yakni pada saat mobilisasi umum Perang Badar (Sirah Nabawiyah, 1997: 228) dan mobilisasi umum ekspedisi Penaklukan Kota Mekkah (Sirah Nabawiyah, 1997: 385). Karena kondisi diri dan amanah Nabi tersebut, Abdullah bin Ummi Maktum harus rela menanggalkan “mimpinya” ikut Perang Badar dan “mimpinya” ikut ekspedisi luar negeri Madinah menaklukan Kota Mekkah. Dalam kehidupannya, beliau pun tidak ingin neko-neko, kecuali istiqomah menunggui Kota Madinah bersama beberapa sahabat lain di antaranya Abu Lubabah, para ummahat shahabiyah dan anak-anak para shahabat Nabi, sambil tak lupa “menunaikan tugas konstitusionalnya”: mengumandangkan adzan Subuh di Masjid Nabi tepat di awal waktunya.
Subhanallah, ternyata ada juga sabahat (laki-laki) yang spesialis ditugasi Nabi mengurus “kerumahtanggaan dalam Negeri”. Tentu saja, mereka tidak dapat mengikuti dinamika hiruk pikuk perang di medang jihad qitali, tetapi senantiasa disibukkan oleh urusan ‘‘thethek bengak kerumahtanggaan”, urusan ke-perempuan-an, dan anak-anak generasi penerus perjuangan. Namun di manapun lahan amalnya, mereka menjalani peran kehidupannya dengan tekun dan menghayatinya dengan semangat jihad. Taujih Allah dalam Kitab suci memberi panduan, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah wasilah (sarana/jalan) untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kalian beruntung (sukses)” (Q.S. Al-Maidah [5]: 35).
REFLEKSI KEHIDUPAN
Kehidupan manusia memang berwarna-warni, tapi satu hal yang bisa kita simpulkan: masing-masing diberi Allah potensi spesial sekaligus “ujian/penghambat yang khas” pula. Disamping kedua anugrah Allah itu, biasanya Allah juga membentangkan peran tertentu yang seharusnya dilakoni masing-masing diri. Olehkarena itu, masing-masing diri semestinya berjuang meningkatkan kapasitas diri (capacity building) dengan menempuh pendidikan, berbagai pelatihan, tarbiyah, dan tazkiyatun nafs (pensucian diri untuk pengokohan ruhiyah) sehingga potensi spesial dirinya tumbuh dan berkembang. Proses ini biasanya melalui jalan yang penuh onak dan diri, karena Allah senantiasa menghadirkan ujian-ujian di sela getar kehidupan kita. Sebagai seorang yang beriman maka mestinya kita harus berjuang mengatasi segala ujian dan hambatan dengan tabah dan istiqomah, sembari berjuang mencari dan terus mencari lahan peran yang dibentangkan Allah, Rabb Penentu dan Pengatur Kehidupan ini.
Bagi orang yang telah mengalaminya, semua proses perjuangan itu dapat berjalan lebih efektif dan terasa lebih indah apabila dibingkai oleh manajemen, organisasi, atau jama`ah perjuangan, sehingga hidup kita bisa lebih terarah dan terkerangkakan. Hari-hari yang terangkai pun akan terhiasi sentuhan persaudaraan (ukhuwwah) dan tersejuki oleh butir-butir keberkahan. Selanjutnya, apabila peran kehidupan itu telah kita temukan, apapun bentuknya kita harus melakoninya dengan tekun, sabar, dan istiqomah, dan menjadikannya sebagai wasilah/sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya.
Tak usahlah iri dan “sewot” dengan lahan amal dan peran kehidupan orang lain. Sebaliknya, sudah seharusnya kita berkonsentrasi untuk berkontribusi melalui lahan amal dan peran kehidupan yang dihadiahkan Allah spesial untuk diri kita. Sekali lagi, apapun bentuknya, lahan amal dan peran kehidupan kita itu harus kita lakoni dengan tekun, sabar, dan istiqomah, serta menjadikannya sebagai wasilah/sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya. Bukankah Allah telah berfirman dalam Al-Qur`an, Surat Al Isra`, ayat 84, “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya. Maka Tuhan-Mu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. Inilah Insya Allah sikap yang manhaji seorang muslim sejati. Wallahu a`lam.
REFLEKSI SUNAN KALICODE
Jika menuruti lamunan angan-angan dan memanjakan nafsu iri atas nama “manusia biasa”, tentu resah gelisah akan senantiasa menari-nari di dada. Betapa tidak resah jika melihat realitas bermunculan menyodok melok-melok di depan mata. Sama-sama berkubang dalam perjuangan panjang, ternyata nasib yang menghinggapinya berbeda. Lihatlah deretan realitas yang mengemuka berbaris rapi di depan mata....
Sama-sama terlahir di Kediri, Nur Mahmudi Ismail, pernah jadi Presiden PK, lalu kini jadi Wali Kota Depok. Sementara, Sunan Kalicode, pernah jadi Presiden Bujang Distrik Jogyakarta, lalu kini jadi wali murid SDIT Luqman Al-Hakim. Sama-sama perintis SKIS FS UGM, teman tidur sebantal di Asrama Kinanthi 6, Barek, Yogyakarta, Muh. Haris Widodo kini jadi Wakil Walikota Salatiga, sementara Sunan Kalicode kini jadi Wakil Sekretaris Takmir Masjid Al-Huda di kampungnya. Sama-sama teman sesama penjaga toko Pustaka Al Fitrah, Suprih Hidayat pernah jualan Khamtom-obat kuat, lalu kini jadi staf Ahli DPR RI, sementara Sunan Kalicode pernah jualan pring (bambu), lalu kini jadi staf ahli kliping media. Sama-sama guru menulis di Balai Jurnalistik Islami, Cahyadi Takariawan kini telah menghasilkan berpuluh-puluh buku, sementara Sunan Kalicode menghasilkan berpuluh-puluh bendel Arsip Surat dan Laporan Reses. Sama-sama Dewan Pendiri YPDS Al-Khairat, Basuki Abdurrahman, pakar HI kini sering bolak-balik berkeliling ke luar Negeri: Malaisyia-Singapura-Hongkong, dll. Sementara Sunan Kalicode hanya muthek Warungboto-Jotawang-Mergangsan, dan Mergangsan-Jotawang-Warungboto. Dan masih banyak lagi realitas-realitas jumplang di depan mata lainnya.
Sungguh, jika menuruti lamunan angan-angan dan memanjakan nafsu iri atas nama “juga manusia”, tentu resah gelisah akan senantiasa menari-nari di dada. Olehkarena itu, bukan sekedar untuk menghibur diri kiranya sikap Jawa timur-an tampaknya layak dipegangi: “Yen dak pikir-pikir... lhah ngopo Rek dipikir-pikir! Telo digethuk jemek, tiwas nelongso tur tambah tuwek....”. He he he.
Lebih bijak, kita kembali ke panduan Kitab Al-Quran nan suci. Sekali lagi, apapun bentuknya, lahan amal dan peran kehidupan kita itu harus kita lakoni dengan tekun, sabar, dan istiqomah, serta menjadikannya sebagai wasilah/sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya. Bukankah Allah telah berfirman dalam Al-Qur`an, Surat Al Isra`, ayat 84, “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya. Maka Tuhan-Mu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. Inilah Insya Allah sikap yang manhaji seorang muslim sejati. Wallahu a`lam. (MIS Al-Fary)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar