Selasa, 21 Februari 2012

SYEIKH SAYYID JUMADIL KUBRO

SANG PERINTIS DAKWAH DI TANAH JAWA
Batu Nisan Syeikh Sayyid Jumadil Kubro
 [http://m-irsyad.blogspot.com/2012/01/berdasarkan-fakta-sejarah-ternyata.html]

            Berdasarkan fakta sejarah ternyata sebelum Generasi Walisanga menyebarkan Islam di bumi Jawa, sudah banyak masyarakat Jawa yang memeluk agama Islam . Salah satu buktinya ditemukan komplek makam Islam di Situs makam Tralaya Mojokerto. 
            Komplek makam Tralaya diyakini keberadaannya sejak tahun 1368 masehi. Hal ini berdasarkan batu nisan pertama yang ditemukan di Trawulan yang bertarikh 1290 Saka (1368 Masehi).  Tidak seperti makam  Islam  pada umumnya, komplek makam Tralaya sangat kental dengan nuansa jawa seperti penggunaan angka tahun dengan huruf sansekerta dan batu nisan yang menyerupai Lingga dan Yoni (kepercayaan Hindhu-Budha). Lihatlah, batu nisan ini bertuliskan LAA ILAHA ILLALLAH. Mengapa sampai bisa demikian?
            Syiar awal agama Islam di In donesia memang selalu menarik untuk dikaji. Fakta historis dalam sejarah awal mula perkembangan  Islam di Indonesia hampir tidak pernah didengar terjadi  kontak senjata dengan penduduk asli yang  waktu itu mayoritas beragama Hindu dan Budha. Bahkan, malah  sebaliknya mereka menerimanya dengan hangat, sehingga dengan itu, Islam dapat tersebar dengan  mudah dan  tanpa ada sedikitpun perlawanan dari masyarakat setempat khususnya dari pihak Penguasa Kerajaan  Majapahit yang pada waktu itu menjadi kerajaan terbesar di Indonesia.
            Keterkaitan Walisanga dengan situs makam Tralaya diyakini para sejarawan mempunyai ikatan yang kuat. Dalam kompleks makam Tralaya terdapat makam Putri Champa yang dalam kitab Pararaton dijelaskan sebagai Bibi dari Sunan Ampel. Putri Champa merupakan selir Raja Majapahit yang berasal dari Kerjaaan Chempa, Indo Cina.
            Ditemukan dalam sejarah, salah satu muasis dakwah [perintis  penyiar awal agama] Islam di Indonesia khususnya di tanah Jawa, yaitu  Syeikh Sayyid Jumadil Kubro. Siapa sebenarnya beliau tersebut? Bagaimana beliau berdakwah dan mengislamkan masyarakat di tanah Jawa? Bagaimana kaitannya sosok beliau ini dengan Wali Songo? Dan mengapa beliau dimakamkan di wilayah yang terletak di tengah-tengah pusat Kerajaan Majapahit? Para peneliti, di antaranya Ibrahim Muhlis S.Th.I bersama teamnya,  melakukan observasi, Sabtu 13 Juli 2009 dan mencari informasi  dengan mendatangi kompleks situs makam Troloyo yang diduga sebagai makam Syeikh Syayid Jumadil Kubro.
             Troloyo merupakan suatu situs peninggalan berupa makam-makam Islam  kuno yang terletak di wilayah Kelurahan Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Posisi makam  ini berada tepat di sebuah tempat yang dulunya merupakan pusat kerajaan Mojopahit.
            Menurut cerita rakyat yang dikumpulkan oleh J. Knebel, Tralaya merupakan tempat peristirahatan bagi kaum saudagar muslim dalam rangka menyebarluaskan agama Islam kepada Raja Majapahit beserta para kerabat Raja dan prajuritnya.
            Di hutan Troloyo tersebut lalu dibuatlah ”petilasan” [situs] untuk menandai peristiwa tersebut. Menurut Poerwodarminta, Troloyo berasal dari kata setra dan pralaya. Setra berarti tegal atau tanah lapang tempat pembuangan bangkai (mayat), sedangkan Pralaya berarti rusak atau mati atau kiamat. Kata setra dan pralaya disingkat menjadai Tralaya.

Komplek Makam Muslim Troloyo di  pusat Situs Kerajaan Majapahit
Sekilas Tentang
SYEIKH SAYYID JUMADIL KUBRO

            Syeikh Sayyid Jumadil Kubro [aslinya bernama Syeikh Sayyid Jamaluddin al-Husain al-Akbar]  adalah seorang tokoh yang sering disebutkan dalam berbagai cerita rakyat sebagai salah seorang pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa., bahkan dikatakan beliulah perintis pertamakali penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Beliau adalah wali tertua di tanah Jawa sebelum generasi Wali Songo yang termasyhur itu. 
            Beliau umumnya dianggap bukan keturunan Jawa, melainkan berasal dari Asia Tengah. Menurut data yang kami peroleh hasil wawancara dengan juru kunci makam Troloyo. Beliau tiba di tanah Jawa sekitar abad ke 13 kira-kira tahun 1250 M. Beliau adalah seorang da’i dari negara Persia yang memang sengaja diutus untuk menyebarkan agama Islam di kepulauan Nusantara khususnya di pulau Jawa. Dalam menjalankan amanat ini Beliau tidak sendirian melainkan dibantu oleh beberapa rekannya
            Salah satu rekan yang juga satu negara dengannya diketahui bernama Syeikh Subakir yang merupakan ulama ahli ruqiyah serta "menguasai" dunia jin [alam lelembut]. Syeikh Subakir mempunyai misi yang berbeda dengan Syeikh Sayyid Jumadil Kubro. Ia bertugas "menumbali tanah Jawa" yang dikenal masih banyak pagebluk-pagebluknya tepatnya di Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah. [Dalam kitab Babat Tanah Jawi yang ditulis di masa Sultan Hadiwijaya di Pajang disebutkan waktu itu banyak orang Jawa yang meninggal dimakan pagebluk. Mungkin maksudnya kena wabah penyakit yang sangat meluas].
            Syeikh Sayyid Jumadil Kubra mempunyai tiga putra, pertama Ali Barakat Jainul Alam mempunyai putra Maulana Malik Ibrahim (Gresik), yang kedua adalah Ali Nurul Alam mempunyai putra Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati, dan yang terakhir adalah Ibrahim Asmaraqandi. Dalam dakwahnya ke tanah Jawa putra bungsunya tersebut juga ikut menyertai Syeikh Sayyid Jumadil Kubro, yaitu Ibrahim Asmaraqandi.
            Ibrahim Asmaraqandi memberanikan diri mengabdi pada raja Kuntoro Binatoro Mojopohit dan diambil menantu dikawinkan dengan putri Condro Dewi Condro Muka. Pada akhirnya beliau pindah ke Champa dan mempunyai putra Maulana Ishak (ayah Sunan Giri) dan R. Rahmat (Sunan Ampel). Sedangkan Syeikh Sayyid  Jumadil Kubro tetap istiqomah berdakwah di tanah Jawa sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Troloyo seperti yang dipercaya masyarakat setempat, bahkan haulnya selalu diperingati pada tiap tahunnya. ( http://ibrahim-muhlis.blogspot.com/2011/06/riset-sejarah-waliyyullah-sayyid.html)

DAKWAH SYEKH  SAYYID JUMADIL KUBRO
            Syeikh Sayyid Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yang hidup sebelum walisongo. Seorang penyebar Islam pertama yang mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit. Syeikh Sayyid Jumadil Kubro bernama lengkap Syeikh Sayyid Jamaluddin al-Husain al-Akbar bin  Ahmad Jalal Syah bin Abdullah Khan bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad bin Ubaidullah bin Ahmad Al-Muhajir hingga terus nyambung ke silsilah Husein bin Ali bin Abi Thalib, suami Fathimah Az-Zahrah binti Muhammad SAW.
            Beliau adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAW dari garis Syyidah Fatimah Az Zahrah al-Battul. Ayahnya bernama Syeikh Ahmad Jalal Syah yang karena kemuliaan akhlaknya mampu meredam pertikaian Raja Campa dengan rakyatnya. Sehingga, Syeikh Ahmad Jalal Syah diangkat sebagai raja dan penguasa yang memimpin Negara Campa. Syeikh Jamaluddin [Jumadil Kubro] tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya sendiri. Setelah dewasa, beliau mengembara ke negeri neneknya di Hadramaut. 
            Di sana beliau belajar dan mendalami beragam ilmu dari beberapa ulama yang terkenal di zamannya. Bahkan keilmuan yang beliau pelajari meliputi Ilmu Syari’ah dan Tasawwuf, di samping ilmu-ilmu yang lain. Selanjutnya, beliau melanjutkan pengembaraannya dalam  rangka mencari ilmu dan terus beribadah ke Mekkah dan Madinah. Tujuannya adalah mendalami beragam keilmuan, terutama ilmu Islam yang sangat variatif. Setelah sekian lama belajar dari berbagai ulama terkemuka, kemudian beliau pergi menuju Gujarat untuk berdakwah dengan jalur perdagangan. Melalui jaringan perdagangan itulah beliau bergumul dengan ulama lainnya yang juga menyebarkan Islam di Jawa.
            Kemudian beliau dakwah bersama para ulama’ termasuk para putra-putri dan santrinya menuju tanah Jawa. Mereka menggunakan tiga kendaraan laut, sekaligus terbagi dalam tiga kelompok dakwah. Kelompok pertama dipimpin Syeikh Sayyid Jumadil Kubro memasuki tanah Jawa melalui Semarang dan singgah beberapa waktu di Demak. Selanjutnya perjalanan menuju Majapahit dan berdiam di sebuah desa kecil bernama Trowulan yang berada di dekat kerajaan Majapahit. Kemudian jamaah tersebut membangun sejumlah padepokan  [pesantren] untuk mendidik dan mengajarkan beragam ilmu kepada siapa saja yang  hendak mendalami ilmu keislaman.
Kelompok kedua, terdapat cucunya yang bernama al-Imam Ja’far Ibrahim Ibn Barkat Zainal Abidin dibantu saudaranya yakni Maulana Malik Ibrahim menuju kota Gresik. Dan kelompok ketiga adalah jamaah yang dipimpin putranya yakni al-Imam al-Qutb Sayyid Ibrahim Asmoro Qondy menuju Tuban. 
       Nama Syeikh Sayyid Jumadil Kubro termasyhur dengan sebutan “Pandhito Ratu” karena beliau memperoleh Ilmu Kasyf  (transparansi dan keserba jelasan ilmu/ilmu yang sulit dipahami orang awam, beliau diberi kelebihan memahaminya). Pada saat  itu wilayah Majapahit sangat kuat pengaruh Agama Hindu di samping keyakinan masyarakat pada arwah leluhur dan benda-benda suci. Keberadaannya di tanah Majapahit hingga ajal menjemput menunjukkan perjuangan Sayyid Jumadil Kubro untuk menegakkan Agama Tauhid dan menghadirkan peradapan Islam di tengah Kerajaan  Majapahit sangatlah besar.  Bermula dari usulan yang diajukan Syeikh  Sayyid Jumadil Kubro kepada Kholifah Turki Utsmani (Sultan Muhammad I) maka pada kurun berikutnya dikirimlah Tim Du`at yang terdiri dari sembilan ulama pilihan untuk menyebarkan Agama Islam si wilayah Kerajaan Majapahit {Nusantara}. Tim du`at itu kemudian dikenal dengan sebutan Wali Songo. Demikianlah akhirnya, proses Islamisasi Majapahit dan Nusantara pada periode berikutnya digerakkan oleh Majelis Wali Sango tersebut.
Sementara itu, perjalanan dakwah Syeikh Jumadil Kubro berakhir di Trowulan, Mojokerto. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. Beliau diperkirakan hidup di antara dua Raja Majapahit (awal Raja Tribhuwana Wijaya Tunggadewi [1328-1350] dan pertengahan Prabu Hayam Wuruk [1350-1389]).
Karena pengaruh beliau dalam memberikan pencerahan bekehidupan yang berperadaban, Syeikh Sayyid Jumadil Kubro dikenal dekat dengan pejabat Kerajaan Majapahit. Cara dakwah yang pelan tapi pasti, menjadikan beliau  amat disegani. Tak heran, bila pemakaman beliau berada di antara beberapa pejabat kerajaan di antaranya adalah makam Tumenggung Satim Singgo Moyo, makam Ratu Kenconowungu, makam Dewi Anjasmoro, makam Sunan Ngudung (ayah Sunan Kudus), dan beberapa patih dan senopati yang dimakamkan bersamanya, termasuk makam Mahapatih Gadjah Mada [alias Syeikh Mada].
            Lokasi kompleks makam ini berdekatan dengan Pendopo Agung Majapahit dan Pusat Informasi Majapahit yang pembangunannya menuai kontroversi. Hal itu karena proses pembangunannya diindikasikan merusak situs-situs peninggalan Majapahit yang diyakini hingga kini masih terkubur di dalam tanah kawasan Trowulan. Sekali dayung, maka semua tujuan napak tilas sejarah Majapahit bisa terpenuhi.              (http://www.jelajahbudaya.com/kabar-budaya/kilas-sejarah-syeikh-jumadil-kubro.html)

Makam Syeikh Sayyid Jumadil Kubro di Troloyo
MAKAM SYEIKH SAYYID JUMADIL KUBRO DI TROLOYO
Tempat Waliyyullah Sayyid Djumadil Kubro di makamkan

            Keberadaan makam Troloyo sangatlah fenomenal dan menuai kontroversial, karena terletak di pusat kerajaan Mojopahit yang mayoritas penduduknya adalah beragama Hindu dan Budha.  Sedangkan kompleks makam Troloyo sendiri adalah kompleks makam orang-orang muslim. Dan salah salah satu yang dipercayai terdapat pada kompleks makam tersebut adalah Syeh Jumadil Kubro.
         Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa makam Syeikh Jumadil Kubro terdapat di beberapa tempat yakni di Semarang, Trowulan, dan di desa Turgo (dekat Plawangan), Yogyakarta, bahkan ada yang mengatakan berada di Madinah. Sampai sekarang pun belum diketahui secara jelas mana yang betul-betul merupakan makam beliau.
            Pendapat  ini muncul  karena minimnya  peninggalan-peninggalan atau bukti-bukti sejarah tentang dimakamkannya Syeikh Sayyid Jumadil Kubro di Troloyo, karena mengingat bahwa letak makam ini berada persis di tengah [situs] pusat Kerajaan Majapahit sehingga sebagian pakar diduga makam ini bukan milik Syeikh Sayyid Jumadil Kubro dan pengikut-pengikutnya melainkan sebuah tempat dimakamkannya keluarga Kerajaan Majapahit.Yang jelas berdasarkan data yang kami peroleh tidak ada bukti-bukti otentik yang bisa dijadikan rujukan tentang kebenaran  makam Troloyo sebagai makam Syeikh Sayyid Jumadil Kubro selain cerita turun-temurun dari masyarakat setempat. 
            Hal ini dikarenakan satu-satunya bukti peninggalannya yang berupa batu nisan pada makam yang diyakini sebagai makam Syeh Sayyid Jumadil Kubro dan makam tujuh yang salah satunya diyakini adalah makam beliau tidak mengindikasikan siapa sebenarnya dibalik batu nisan tersebut.
Pada batu-batu nisan tersebut bertuliskan kalimat syahadat Laa ilaha illallah (lihat pada gambar di atas, batu nisan yang terdapat pada makam yang dipercaya sebagai makam Syeikh Sayyid Jumadil Kubro). Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa makam tersebut bukanlah  makam Syeikh Jumadil Kubro akan tetapi hanya makam para kerabat kerajaan yang sudah  memeluk Islam. Namun,  masyarakat setempat sangat yakin bahwa  makam  tersebut memang makam Syeikh Sayyid Jumadil Kubro alias Syeikh Sayyid Jamaluddin Al-Husein Al-Akbar.
            Batu nisan "bertuliskan kalaimat tauhid" itu ternyata tidak hanya terdapat pada makam yang diyakini sebagai makam Syeikh Jumadil Kubro. Akan tetapi, terdapat pula pada makam yang berada pada kompleks yang sama seperti yang terdapat pada batu nisan makam yang berada di sebelah tenggara makam Syeh Sayyid Jumadil Kubro dan kompleks makam tujuh (lihat gambar di bawah). Batu nisan yang berada di sebelah tenggara makam Syeikh Sayyid Jumadil Kubro diyakini sebagai makam murid-murid beliau.  Makam  tujuh yang yang diyakini salah satunya sebagai makam Syeikh Jumadil Kubro [Terletak di salah satu sudut komplek makam Troloyo].
            Peninggalan sejarah di atas merupakan bukti bahwa dulu area ini memang dijadikan sebagai komplek pemakaman kaum muslimin pada zaman kerajaan Majapahit berjaya. Menurut keterangan yang kami peroleh dari sang juru kunci bahwa konon tempat ini merupakan sebuah makam  khusus umat muslim terutama pengikut-pengikut Syeikh Sayyid Jumadil Kubro. Hal ini merupakan salah satu strategi syiar Islam Syeikh Sayyid Jumadil Kubro yang pada saat itu pengikutnya masih kecil dan belum kuat kuat. Sedangkan Kerajaan Majapahit pada saat itu sedang dalam masa kejayaannya. Alasan ini cukup logis, karena dengan adanya makam muslim di tengah-tengah pusat kebudayaan Mojopahit yang mayoritas adalah penganut agama Hindu dan Budha, menunjukkan bahwa Islam pernah memijakkan kaki dan memperlihatkan warna hijau royo-royonya di Kerajaan Majapahit. 
            Logikanya seandainya kaum muslim yang wafat pada waktu itu tidak dikumpulkan pemakaman ini, atau terpencar di berbagai tempat maka tidak akan pernah memperlihatkan tanda bahwa umat Islam pernah berkembang dan bahkan berada di tengah-tengah pusat peradaban Majapahit yang terkenal sabagai kerajaan besar yang pernah menguasai seluruh kawasan Nusantara ini. Atau lebih jauh lagi, situs makam Troloyo itu justru turut memperkuat bukti bahwa sebenarnya Kerajaan Majapahit akhirnya berhasil diislamisasi menjadi Kerajaan Islam pertama di Jawa oleh para wali, penerus Syeikh Sayyid Jumadil Kubro.  Wallahu a`laam. (http://ibrahim-muhlis.blogspot.com/2011/06/riset-sejarah-waliyyullah-sayyid.html)

PENUTUP
            Dari berbagai data yang diperoleh tersebut, kami mendapat gambaran tentang sosok Syeikh Sayyid Jumadil Kubro bahwa beliau bukan sekadar tokoh fiktif yang melegenda tapi dibenarkan keberadaannya dan diketahui silsilah keturunannya. Anak cucu beliaulah yang melanjutkan misinya menyebarkan Islam, yaitu di antaranya dari putranya Ibrahim Asmaraqandi yang kawin dengan putri Condro Dewi Condro Muka menurunkan Sunan Ampel dan Sunan Giri anggota Majelis Wali Songo di tanah Jawa.
Syeikh Sayyid Jumadil Kubro diyakini dan dimakamkan di kompleks makam Troloyo. Namun demikian tidak ada data-data dan peninggalan sejarah yang mendukung kebenaran tersebut kecuali hanya berdasarkan cerita turun-temurun terutama yang kami dapatkan dari tokoh sekaligus juru kunci makam Syeikh Sayyid Jumadil Kubro di Troloyo, bahkan batu nisan yang ada hanya bertuliskan kalimat syahadat La ilaha illallah tidak mengidentifikasikan siapa dibalik batu nisan tersebut. Hal ini memunculkan  keragu-raguan karena dalam satu kompleks makam ada dua makam yang dipercaya sebagai makam beliau, pertama yang di makam  utama Syeikh Sayyid Jumadil Kubro dan yang kedua adalah salah satu makam dari makam tujuh. Bahkan lagi,  keberadaan makam Syeikh Sayyid Jumadil Kubro ternyata tidak hanya ada dan melegenda pada masyarakat Trowulan, akan tetapi keberadaan makam beliau diyakini berada juga di banyak tempat seperti di Plawangan, Gunung Merapi, Yogyakarta, ada pula yang meyakininya di Bugis dan bahkan di Madinah. Pada akhirnya tentang kebenaran tersebut sekali lagi wallahu a’lam,
Akan tetapi mengenai keberadaan sosok dan kiprah beliau sebagai perintis penyiaran agama Islam  di tanah Jawa patut kita pertimbangkan kebenarannya.... maka kita selayaknyalah meneruskan perjuangan Beliau dalam berda'wah, menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi segenap alam dan sekujur bumi, terutama di masa globalosasi ini, di saat Umat Islam dilanda berbagai krisis yang berkepanjangan ini......
Salam Ukhwah selalu dan satukan Persaudaraan Islam jangan terpecah belah...Barokallahu Fiikum
Wallau a'lam bish showwab

Jumat, 17 Februari 2012

Benarkah Majapahit Sebuah Kerajaan Islam?

(Sumber copas: http://beritatekhnologi.blogspot.com/2010/11/)
Gapuro waringin Majapahit di Trowulan
             Benarkah Majapahit Sebuah Kerajaan Islam Terbesar? Seorang sejarawan UGM, H. Ahmad Adaby Darban  pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasi si pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara.
        Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia. Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut. Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.
            ‘Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakt-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’. Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu.
            Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara. Akibatnya, sejarah masa lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan sejarah mengenai PKI. Sejarah yang berkaitan dengan partai komunis ini yang dibuat di masa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah tersebut. Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.
            Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majpahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit adalah sebagai berikut:
Koin Kerajaan Majapahit
1.  Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid.
2. Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.
3. Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini. Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.
4. Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu. Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Sri Paduka Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo. Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisan Gajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’. Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.
5. Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu. Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari Timur Tengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan ‘Allawiyah’. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranakpinak di tempat ini. Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaan Nusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit.
            Inilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara ini. Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung untuk apa sejarah itu dibuat dan tentunya terkandung di dalamnya beragam kepentingan. Wallahu A’lam Bishshawab.
[kompas/sejarah]

MENYIBAK KERUNTUHAN MAJAPAHIT

Peresensi: Ali Mahmudi CH  
Penyunting: Jodhi Yudono 
Selasa, 8 Februari 2011 | 00:58 WIB
  
        -   Judul               : Genealogi Keruntuhan Majapahit, Islamisasi, Toleransi, dan Pemertahanan
                                       Agama Hindu di Bali.
    ·       Penulis             : Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A.
    ·       Penerbit            : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
    ·       Edisi                 : I, 2010
    ·       Tebal                : xxxiii + 503 halaman
    ·       ISBN                : 978-602-8764-81-0
    ·       Peresensi          : Ali Mahmudi CH *)

    KOMPAS.com — Majapahit merupakan salah satu kerajaan Hindu-Jawa terbesar di Indonesia. Kerajaan ini merupakan simbol puncak kemajuan peradaban Hindu-Jawa. Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Pasca-tumbangnya Hayam Wuruk, Majapahit perlahan-lahan mengalami kemunduran yang berakhir sirna.
              Setelah tumbangnya Majapahit, kemudian muncul gerakan serentak dakwah Islam di Jawa. Posisi kerajaan terbesar Hindu-Buddha kemudian digantikan oleh kerajaan Islam yang berpusat di Demak Bintara. Proses islamisasi di Jawa merupakan proses agung dalam rangka dakwah penyebaran agama Islam. Islamisasi berlangsung secara perlahan-lahan, tetapi penuh kepastian.
                Kerajaan Demak Bintara merupakan kerajaan Islam terbesar setelah tumbangnya Majapahit. Kerajaan Majapahit merupakan penerus kerajaan Singasari. Dia tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh Islam. Gejala ini diperkuat dengan munculnya kota-kota pelabuhan di jalur pantura (pantai utara) Jawa yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Bahkan, sebelum itu banyak pedagang Islam dari Gujarat maupun Arab yang berada di dalam Kerajaan Majapahit.
                Dakwah penyebaran Islam ini bukan hanya dari kalangan saudagar, melainkan juga dari adanya peran Wali Sanga (Wali Sembilan) yang berada di Tanah Jawa. Keberhasilan Wali Sanga dalam menyebarkan agama Islam tak lepas dari modal yang dimilikinya. Modal inilah yang tidak kebanyakan orang mampu memilikinya. Pada masa awal perkembangan Islam, para wali menjadikan masjid sebagai sentralnya. Di dalam masjid-lah segala aktivitas pengembangan komunitas Islam berlangsung.
               Buku Genealogi Keruntuhan Majapahit, Islamisasi, Toleransi, dan Pemertahanan Agama Hindu di Bali karya Prof Dr Nengah Bawa Atmadja, MA, merupakan salah satu buku sejarah dengan banyak sudut pandang. Dalam menyampaikan gagasannya, penulis menggunakan data. Analisis yang dipaparkan dapat memberikan bayangan mengenai lintasan historis. Pemaparannya menyangkut data-data sejarah sejak zaman Majapahit hingga zaman Republik.
                Hal yang menarik dari buku ini, yakni pemuatan telaah mengenai luasnya penggalian masalah sejarah dan modernisasi yang terkandung dalam konsep trisema. Hal tersebut yakni sejarah sudut pandang kejadian masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang mengenai jatuh-bangunnya kerajaan besar. Tentu ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun, hal itu berbeda ketika di tangan Atmadja. Dia berhasil menuliskannya dengan sedemikian apik.
                Buku ini merupakan buah hasil dari pemikiran mengenai hakikat sebuah pergeseran dan kebertahanan sejarah peradaban. Ini menyangkut perjalanan sejarah bangsa Majapahit menjadi bangsa Indonesia yang multikultural. Pada zaman Majapahit banyak dijumpai pertapaan (mandala) yang terletak di dalam hutan. Ini berfungsi sebagai asrama tempat tinggal siswa yang berguru kepada orang suci yang memiliki pertapaan. Mandala ini kemudian berubah menjadi pesantren setelah Majapahit tumbang digantikan kerajaan Islam.
                Pengalihan pertapaan menjadi pesantren menimbulkan implikasi. Di mata orang Hindu, pesantren bukan budaya asing. Hal tersebut telah mengakar dalam budaya Jawa. Mereka lebih mudah menerima pendidikan agama lewat pesantren. Sebab, secara kelembagaan, pesantren cenderung sama dengan lembaga pendidikan sebelumnya (mandala/pertapaan). Hanya saja mereka berbeda istilah dan bahan ajaran.
                Kondisi ini mengakibatkan agama Islam secara bertahap meluaskan pengaruhnya ke daerah-daerah pedalaman. Bahkan, Islam telah menembus kawasan Istana Majapahit. Ini terbukti dengan adanya temuan batu nisan di kuburan-kuburan Jawa Timur, yakni Trowulan dan Troloyo, di dekat Istana Majapahit. Ini menunjukkan bahwa pada saat Majapahit berjaya, penduduknya sudah ada yang beragama Islam.
                Ini berkaitan dengan kebijakan raja terhadap agama Islam. Raja Majapahit memberikan keleluasaan bagi dakwah Islam. Sebab, penganutnya sangat saleh dan awalnya menjauhi urusan politik. Dengan demikian, Islam dulu lebih bercorak kultural. Kebijakan ini lebih memberikan peluang secara leluasa dalam proses islamisasi di tubuh internal Majapahit. Percepatan islamisasi terkait pula dengan pencarian titik temu antara agama Islam dan agama Hindu-Buddha.
                Keruntuhan Majapahit disebabkan banyak faktor, terutama faktor politik. Ini terbukti bahwa pascakekuasaan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, tidak ada lagi orang kuat sebagai penggantinya. Oleh sebab itu, legitimasi kekuasaan raja-raja Majapahit sangat rentan tak berdaya. Ini kemudian menimbulkan perang saudara yang melibatkan elite kerajaan. Kejadian ini kemungkinan disebabkan adanya konflik hebat di kalangan keluarga raja sehingga Majapahit gagal mengisi posisi raja secara definitif.

    *Peresensi: Pustakawan, TBM Pustaka Hasyim Asy’ari Yogyakarta.

    Rabu, 15 Februari 2012

    BIDPUAN MENGUATKAN GERAKAN PENGARUSUTAMAAN KELUARGA

    Dilaporkan oleh: C. Takari


              Salah satu program unggulan BidPuan DPW PKS DIY adalah Rumah Keluarga Indonesia (RKI), yang telah dilaunching beberapa waktu yang lalu sampai tingkat DPD. Program RKI sesungguhnya merupakan salah satu bagian dari upaya penguatan "family mainstreaming" atau pengarusutamaan keluarga. Diharapkan melalui serangkaian kegiatan yang dikelola dalam wadah RKI, akan terbentuk keluarga-keluarga yang kokoh. Jika keluarga kokoh, akan muncul masyarakat yang kokoh, dan selanjutnya terwujud negara yang kuat.
              "Family mainstreaming ini merupakan tema yang diusung oleh BidPuan, dalam rangka memberikan wacana yang lebih komplit dan komprehensif kepada masyarakat secara luas tentang makna keluarga. Berbeda dengan tema gender mainstreaming yang kerap menempatkan perempuan dan laki-laki dalam bentuk persaingan, maka family mainstreaming memandang perempuan dan laki-laki adalah satu kesatuan yang diikat oleh lembaga keluarga", jelas ibu Muzna Nurhayati, Ketua BidPuan DPW PKS DIY, Senin (13/02/2012) di sela-sela kesibukan mempersiapkan acara Pembekalan Muwajih dan Konselor RKI.
              "Kami ingin menyampaikan pesan yang sangat kuat ke masyarakat, bahwa PKS adalah partai yang ramah keluarga. Partai yang sangat peduli dengan keluarga. Bahkan hal itu dimulai sejak paradigma berpikir dan berkegiatan, sampai ke tingkat aplikasi praktisnya. Tema family mainstreaming merupakan sebuah paradigma yang sangat fundamental dalam memberikan penghargaan dan panduan dalam menempatkan posisi keluarga beserta seluruh anggotanya, yang terdiri dari lelaki dan perempuan", tambah ibu Muzna Nurhayati.
              Beliau berharap, agar program RKI bisa mendapat dukungan dari seluruh jajaran pengurus dan kader PKS DIY, sehingga pengarusutamaan keluarga bisa menjadi cara pandang dan cara berpikir masyarakat Indonesia, dimulai dari pengurus dan kader PKS sendiri. "Semua harus dimulai dari dalam. Jika program BidPuan ini didukung penuh oleh kader PKS, niscaya akan lebih mudah tersiosialisasikan ke masyarakat luas", tambahnya. {ct}

    Sabtu, 11 Februari 2012

    MENGHAYATI PERAN DALAM KEHIDUPAN


    Oleh: Ki Mas Ilyas Sunnah
     
                    Banyak hal menarik bermunculan di saat kita simak lebih dalam sejarah kehidupan para sahabat Nabi. Bukan sekedar karena mereka ini sebaik-baik generasi dan sebaik-baik kurun di sepanjang sejarah penghuni bumi. Akan tetapi, butiran ibrah dan cahaya pembelajaran seakan berserakan indah di semela kehidupan para ikhwah Nabi ters    ebut. Seakan masing-masing sahabat itu “bintang bersinar terang” di sudut langit masing-masing. Satu hal yang dapat dipastikan, para sahabat Nabi dari berbagai latar qabilah dan daerah itu, masing-masing memiliki peran yang sangat signifikan dalam bentang kehidupan di awal pengguliran Dnul Islam, agama para Nabi ini.
                    Memang ada sahabat yang kemudian harus menerima “panggilan sejarah” menjadi Kholifah, penerus kepemimpinan Nabi, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khoththab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, dan lain-lain. Namun, fakta historisnya tidak semua sahabat jadi Kholifah. Ada juga sahabat yang dalam penggal kehidupannya harus menjadi dutaabi berkeliling ke luar negeri, seperti Jakfar bin Abi Tholib ke Negeri Habasyah, Muadz bin Jabbal ke Negeri Yaman, atau Sa`ad bin Abi Waqqash yang memimpin ekspedisi diplomatik hingga ke Negeri Cina. Namun, fakta historisnya tidak semua sahabat menjadi duta berkeliling ke luar Negeri Madinah. Bilal bin Rabbah dan Abdullah bin Umi Maktum misalnya, beliau senantiasa istiqomah menjadi Muadzin Masjid Nabawi di Madinah. Tentunya, beliau khususnya Abdullah bin Ummi Maktum jarang pergi keluar Negeri karena peran dan “kumandang adzannya” senantiasa (setiap waktu) harus memandu ibadah penduduk Kota Nabi tersebut.
                    Dalam menghayati peran kehidupan sosok sahabat Abdullah bin Ummi Maktum kiranya dapat  menjadi  ibrah yang luar biasa, terutama bagi aktivis pergerakan dakwah Islam kontemporer. Pelajaran yang berharga itu di antaranya ialah:
    a.  Beliau tidak pernah bermimpi dan meminta, ternyata dari sononya Allah menjadikannya terlahir dalam kondisi buta netranya. “Panduming Gusti Allah” alias “taqdir Allah” itu ia jalaninya dengan penuh keridhoan, keistiqomahan, dan “kalis ing rasa grusulo” alias “terbebas dari rasa keluh kesah”. Meski cukup menghambat kenyamanan aktivitasnya sehari-hari, muadzin sholat subuh Masjid Nabawi itu  tetap tabah melangkah.... Dalam hal ini, Rasulullah pernah menyampaikan taklimatnya, “Sesungguhnya jika adzan masih agak malam (adzan pertama) maka kamu masih boleh makan minum sampai  Ibn Ummi Maktum beradzan, maka itu tanda sudah subuh dan mulai haram makan bagi orang yang akan puasa (H.R.  Ibnu Umar via Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, Jilid VIII, hlm. 309).
    b. Justru dengan kondisi “ke-papa-an” atau “keidhoifan netra” Abdullah bin Ummi Maktum ini, Rasullullah, Sang pemimpin pengguliran Dinul Islam itu pernah ditegur Allah dengan diturunkannya surat “Abasa” (Bermuka Masam). Teguran itu pada intinya mengingatkan bahwa prioritas dakwah pada “hal-hal yang strategis dan  bergensi dalam pandangan manusia” tak boleh   mengabaikan kepedulian pada urusan-urusan kecil dan remeh yang dipersonifikasikan oleh Si Buta,  Abdullah bin Ummi Maktum. Dalam peristiwa ini, Anas bin Malik bercerita, Abasa watawalla turun mengenai Ibn Ummi Maktum ketika ia datang kepada Nabi SAW. Sementara Nabi sedang melayani Ubay bin Khalaf (dan pemuka-pemuka Quraisy) sehingga Nabi mengabaikanya, maka turunlah ayat Abasa wa tawalla. Anjaa `ahul a`maa. Kemudian setelah peristiwa itu, Nabi selalu memulyakan Abdullah bin Ummi Maktum. Bahkan, beliau selalu menanyakan kepadanya kalau-kalau ada qodhoyah atau ada hajat apa-apa. (H.R. Abu Ya`la via Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, Jilid VIII, hlm. 309). Subhanallah....  sungguh dalam peristiwa yang diabadiakan pada Surat Abasa ini ada ibrah dan cahaya pembelajaran bagi para qiyadah pergerakan Islam dan para pemimpin di berbagai tingkatan.
    c. Kadang sulit ditelaah oleh rasionalistas manusia, justru pada diri seorang Abdullah bin Ummi Maktum yang buta netranya, Rasullullah menyerahkan amanah “pengumandangan adzan subuh” di Masjid yang sekaligus “istana negara’’ Madinah itu. Bahkan, dalam sirah Nabawiyah dikisahkan, Nabi juga mengangkat sahabat kasepuhan yang tunanetra ini menjadi penjabat  sementara (PJs) walikota Madinah, yakni pada saat mobilisasi umum Perang Badar (Sirah Nabawiyah, 1997: 228) dan mobilisasi umum ekspedisi Penaklukan Kota Mekkah (Sirah Nabawiyah, 1997: 385). Karena kondisi diri dan amanah Nabi tersebut, Abdullah bin Ummi Maktum harus rela menanggalkan “mimpinya” ikut  Perang Badar dan “mimpinya” ikut ekspedisi luar negeri Madinah menaklukan Kota Mekkah. Dalam kehidupannya, beliau pun tidak ingin neko-neko, kecuali istiqomah menunggui Kota Madinah bersama beberapa sahabat lain di antaranya Abu Lubabah, para ummahat shahabiyah dan anak-anak para shahabat Nabi, sambil tak lupa “menunaikan tugas  konstitusionalnya”: mengumandangkan adzan Subuh di Masjid Nabi tepat di awal waktunya.
    Subhanallah, ternyata ada juga sabahat (laki-laki) yang spesialis ditugasi Nabi mengurus “kerumahtanggaan dalam Negeri”.  Tentu saja, mereka tidak dapat mengikuti dinamika hiruk pikuk perang di medang jihad qitali, tetapi senantiasa disibukkan oleh urusan ‘‘thethek bengak kerumahtanggaan”, urusan ke-perempuan-an, dan anak-anak generasi penerus perjuangan.  Namun di manapun lahan amalnya, mereka menjalani peran kehidupannya dengan tekun dan menghayatinya dengan semangat jihad. Taujih Allah dalam Kitab suci memberi panduan, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah wasilah (sarana/jalan) untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kalian beruntung (sukses)” (Q.S. Al-Maidah [5]: 35).

    REFLEKSI KEHIDUPAN
                    Kehidupan manusia memang berwarna-warni, tapi satu hal yang bisa kita simpulkan: masing-masing diberi Allah potensi spesial sekaligus “ujian/penghambat yang khas” pula. Disamping kedua anugrah Allah itu, biasanya Allah juga membentangkan peran tertentu yang seharusnya dilakoni masing-masing diri. Olehkarena itu, masing-masing diri semestinya berjuang meningkatkan kapasitas diri (capacity building) dengan menempuh pendidikan, berbagai pelatihan, tarbiyah, dan tazkiyatun nafs (pensucian diri untuk pengokohan ruhiyah) sehingga potensi spesial dirinya tumbuh dan berkembang. Proses ini biasanya melalui jalan yang penuh onak dan diri, karena Allah senantiasa menghadirkan ujian-ujian di sela getar kehidupan kita. Sebagai seorang yang beriman maka mestinya kita harus berjuang mengatasi segala ujian dan hambatan dengan tabah dan istiqomah, sembari berjuang mencari dan terus mencari lahan peran yang dibentangkan Allah, Rabb Penentu dan Pengatur Kehidupan ini.
                    Bagi orang yang telah mengalaminya, semua proses perjuangan itu dapat berjalan lebih efektif dan terasa lebih indah apabila dibingkai oleh manajemen, organisasi, atau jama`ah perjuangan, sehingga hidup kita bisa lebih terarah dan terkerangkakan. Hari-hari yang terangkai pun akan terhiasi sentuhan persaudaraan (ukhuwwah) dan tersejuki oleh butir-butir keberkahan. Selanjutnya, apabila peran kehidupan itu telah kita temukan, apapun bentuknya kita harus melakoninya dengan tekun, sabar, dan istiqomah, dan menjadikannya sebagai wasilah/sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berjihad  di jalan-Nya.
                     Tak usahlah iri dan “sewot” dengan lahan amal dan peran kehidupan orang lain. Sebaliknya, sudah seharusnya kita berkonsentrasi untuk berkontribusi melalui lahan amal dan peran kehidupan yang dihadiahkan Allah spesial untuk diri kita. Sekali lagi, apapun bentuknya, lahan amal dan peran kehidupan kita itu harus kita lakoni dengan tekun, sabar, dan istiqomah, serta menjadikannya sebagai wasilah/sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berjihad  di jalan-Nya. Bukankah Allah telah berfirman dalam Al-Qur`an, Surat Al Isra`, ayat 84, “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya. Maka Tuhan-Mu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. Inilah Insya Allah sikap yang manhaji seorang muslim sejati. Wallahu a`lam.

    REFLEKSI SUNAN KALICODE
    Jika menuruti lamunan angan-angan dan memanjakan nafsu iri atas nama “manusia biasa”, tentu resah gelisah akan senantiasa menari-nari di dada. Betapa tidak resah jika melihat realitas bermunculan menyodok melok-melok di depan mata. Sama-sama berkubang dalam perjuangan panjang, ternyata nasib yang menghinggapinya berbeda. Lihatlah deretan realitas yang mengemuka berbaris rapi di depan mata....
    Sama-sama terlahir di Kediri, Nur Mahmudi Ismail, pernah jadi Presiden PK, lalu kini jadi Wali Kota Depok. Sementara, Sunan Kalicode, pernah jadi Presiden Bujang Distrik Jogyakarta, lalu kini jadi wali murid SDIT Luqman Al-Hakim. Sama-sama perintis SKIS FS UGM, teman tidur sebantal di Asrama Kinanthi 6, Barek, Yogyakarta,  Muh. Haris Widodo kini jadi  Wakil Walikota Salatiga, sementara Sunan Kalicode kini jadi Wakil Sekretaris Takmir Masjid Al-Huda di kampungnya. Sama-sama teman sesama penjaga toko Pustaka Al Fitrah, Suprih Hidayat pernah jualan Khamtom-obat kuat, lalu kini jadi staf Ahli DPR RI, sementara Sunan Kalicode pernah jualan pring (bambu), lalu kini jadi staf ahli kliping media. Sama-sama guru menulis di Balai Jurnalistik Islami, Cahyadi Takariawan kini telah menghasilkan berpuluh-puluh buku, sementara Sunan Kalicode menghasilkan berpuluh-puluh bendel Arsip Surat dan Laporan Reses. Sama-sama Dewan Pendiri YPDS Al-Khairat, Basuki Abdurrahman, pakar HI kini sering bolak-balik berkeliling ke luar Negeri: Malaisyia-Singapura-Hongkong, dll. Sementara Sunan Kalicode hanya muthek Warungboto-Jotawang-Mergangsan, dan Mergangsan-Jotawang-Warungboto. Dan masih banyak lagi realitas-realitas jumplang di depan mata lainnya.
                    Sungguh, jika menuruti lamunan angan-angan dan memanjakan nafsu iri atas nama “juga manusia”, tentu resah gelisah akan senantiasa menari-nari di dada. Olehkarena itu, bukan sekedar untuk menghibur diri kiranya sikap Jawa timur-an tampaknya layak dipegangi: “Yen dak pikir-pikir... lhah ngopo Rek dipikir-pikir!  Telo digethuk jemek, tiwas nelongso tur tambah tuwek....”. He he he.
                   Lebih bijak, kita kembali ke panduan Kitab Al-Quran nan suci. Sekali lagi, apapun bentuknya, lahan amal dan peran kehidupan kita itu harus kita lakoni dengan tekun, sabar, dan istiqomah, serta menjadikannya sebagai wasilah/sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berjihad  di jalan-Nya. Bukankah Allah telah berfirman dalam Al-Qur`an, Surat Al Isra`, ayat 84, “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya. Maka Tuhan-Mu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. Inilah Insya Allah sikap yang manhaji seorang muslim sejati. Wallahu a`lam. (MIS Al-Fary)

    Senin, 06 Februari 2012

    SATU-SATUNYA USTADZ YANG MENDAPAT “WAHYU”

    (Serial Tokoh dari Jogja [1] Lanjutan)
    Oleh: M. I. Sunnah

                Ternyata manusia yang mendapat “wahyu” dari Allah itu bukan hanya para Nabi dan Rasul. Buktinya ada seorang ustadz di Jogjakarta sering disebut-sebut sebagai satu-satunya ustadz yang mendapat “wahyu” dari Allah. Masalah ini diyakini betul oleh jama`ah pengajian nya yang telah mengenalnya dari dekat serta dibenarkan oleh kalangan kadang Kasepuhan Nyayogyakarta Hadiningrat yang turut  menjadi saksi proses Sang Ustadz mendapat “wahyu” tersebut. Jangan berhenti sampai di sini. Baca dulu bagaimana kisah asal muasal Ustadz Ma`ruf Amary, Lc.,M.S.I. mengalami peristiwa religius mendapat “wahyu” dari Allah ini. Kurang lebih beginilah ceritanya.
            Al-kisah, ada seorang Ustadz muda, alumni Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta telah berhasil menyelesaikan S1-nya di LIPIA Jakarta. Beliau ini “putra mahkota” yang digadang-gadang bisa menjadi ulama penerus dakwah Muhammadiyah di kampung asalnya, di pinggiran Kota Surabaya. Beliau terlahir dari keluarga berada yang memiliki berbagai usaha tambak dan rumah kost-kostan mahasiswa dan mahasiswi warna-warni dari berbagai daerah.
    Entah mengapa, selepas lulus LIPIA, Ustadz yang diduga keras (sekali lagi diduga keras....) keturunan “Sunan Ampel” ini belum berkenan pulang kampung. Beliau malah senang menetap di rumah kakaknya di Warungboto sambil masih terus mendalami ilmu agama dan berguru pada Ustadz Engkong Jogja. Padahal Emak dan keluarganya telah menyediakan rumah tersendiri di sebuah komplek masjid yang dikelilingi kost-kostan mahasiswa sehingga mirip kompleks pesantren di Surabaya. Orangtua sang Ustadz muda itu pun sudah berkali-kali memintanya pulang kampung untuk menjadi Ustadz di Surabaya dan sangat pengin segera menimang cucu dari putra kesayangannya itu.
    Demi menanggapi permintaan orang tuanya untuk pulang kampung ke Surabaya, sang ustadz muda ini memiliki banyak “alibi” alias alasan logis bertubi-tubi, satu di antaranya masih ingin melanjutkan Studi S2-nya di Jogyakarta. Untuk permasalahan yang satu ini, Alhamdulillah, orang tua dan saudara-saudaranya dapat memaklumi dengan lapang dada dan bahkan siap mendukung dana selebar-lebarnya. Sedang, untuk menanggapi permintaan kedua, “ingin segera menimang cucu dari putra kesayangannya itu”, sang ustadz muda ini ceritanya bingung nggak karuan..., ngalor-ngidul, ngetan-ngulon, beliau tak menemukan alasan yang kuat untuk menolaknya. Akhirnya, “theklek digawe dodolan burjo, tinimbang selak tuwek nggak dang oleh bojo” (theklek dipakai jualan burjo, dari pada tuwek/tua tak segera mendapat pasangan hidup), sang ustadz muda itu akhirnya bertekuk lutut dan menyerah.  Makanya, demi mengikuti sunnah Nabi dan birrul walidain, dengan Bismillah, beliau menyerahkan biodatanya ke “BKKBS” (“Biro Kosultasi Keluarga Bahagia Sejahtera”) yang waktu itu masih menapaki fase sirriyah.
    Sambil menanti biodata jawaban dari BKKBS sirriyah, Sang Ustadz muda ini pun melakoni amal spiritual secara inten. Beliau sering berpuasa (jika tidak ada acara kuliner),  bermunajat panjang di tengah malam serta tak lupa  sholat istikharah dan berdoa dengan sangat serius. Hampir tiada satu malam pun berlalu tanpa beliau munajat dan istikharah (nek nggak ketiduran lho....). Akhirnya, Allah Yang Maha Mendengar mengabulkan doa-doanya. Suatu hari melalui murobbinya, Sang Ustadz muda ini mendapat biodata akhwat qowwi, Sarjana Farmasi, calon Apoteker lengkap dengan foto dirinya....
    Hati Ustadz muda itu jadi mekroh berbunga-bunga
    Hati Sang ustadz muda ini jadi mekrok berbunga-bunga, seakan rembulan purnama  jatuh bersinar cemerlang di pangkuannya. Akan tetapi, ada satu hal yang mengganjal dan ini menyebabkan beliau agak “bimbang”. Ternyata, foto diri si akhwat tersebut foto ketika masih sekolah di SMP atau SMA. Jadi, kelihatan ijih cuuilik tenan. He he he. Piye to iki? Usut punya usut akhirnya, ada permohonan maaf dari sang murobbiyah akhwatnya. Foto itu sebenarnya sebuah langkah keterpaksaan, mengingat di jaman awalu tarbiyah, agar seorang murobbiyah mendapatkan foto diri dari akhwat binaannya itu sangat sulit. Mungkin waktu itu, apa-apa serba sirriyah, sehingga para akhwat sangat hati-hati dan primpen menyimpan foto dirinya.
          Mengingat-ingat dan menimbang-nimbang akan menjadi garwo alias sigaraning nyawa (belahan jiwa alias pasangan hidup), calon istri memang harus ditimbang-timbang secara jeli. Untuk mengverifikasi calon istrinya itu tidak cukup hanya via biodata, Ustadz muda itu mencoba mengkonsultasikannya pada beberapa ustadz yang ia tsiqohi. Pun pula kepada teman-teman seliqo yang sekira mengetahui track record sang akhwat tersebut. Semuanya pada intinya mendukung calon berbobot yang diajukan oleh ummahat “BKKBS Sirriyah” itu. Tak ketinggalan, Mas Sunan Kalicode yang waktu itu belum jadi sunan, masih baru saja melepas jabatannya sebagai Presiden Bujang Distrik Jogyakarta. “O, Allah Cak Ruf...., foto SMA tak masalah lah, yang penting kan sosoknya yang sekarang. Sudahlah Cak Ruf..., terima sajalah. Saya ikut jadi saksi  sejak di Shalahuddin, beliau termasuk akhwat pelopor; cocok menjadi pendamping hidup seorang ustadz. Beliau juga pernah jadi juara pertama pengirim riset pembaca Seri Bacaan Muslimah,  Ash-Sholihah tercepat lho....” katanya untuk menambah rekomendasi kemantaban hati Sang Ustadz muda itu.
                Atas dukungan semua ikhwah dan atas istikharah mendalam di malam-malam yang tenang, maka dengan Bismillah, Sang Ustadz muda itu akhirnya mantab menerima akhwat tersebut. Tapi tidaklah lengkap bila belum dikonsultasikan kepada  Emak dan cacak-cacaknya di Surabaya, maka pulanglah beliau ke Surabaya. Di hadapan sidang keluarga Surabaya, sang ustadz muda itu dengan mantab menceritakan bahwa dirinya sudah dapat calon istri yang aduhai. Tak lupa Beliau uraikan biodatanya dengan komplit-plit. Ternyata, bagi keluarga besar Surabaya, biodata itu tidak penting, “Sing penting fotone calon mantuku endi Ruf....” kata Emaknya. Agak ragu-ragu sang ustadz muda itu mununjukkan foto diri si calon mantu.... Saking penasarannya semua kakaknya yang lagi kumpul langsung ikut nimbung nonton bersama foto diri sang calon adik.
                “O Allah, Yok opo to Rek... Rek.... Bocah ijih cuilik ngene koq arep mbok nikahi ki piye to Ruf? Opo ning Jogja ra onok cah wedhok sing wis gedhe po? Komentar spontan cacak-cacaknya begitu lihat foto calon adiknya.  Pokoknya, Surabaya waktu itu jadi geger. Bumi seakan bergoncang-goncang, langit seolah berkilat menjilat-jilat. Tapi, Alhamdulillah itu terjadi hanya sebentar. Setelah dijelaskan dengan mantab oleh Sang ustadz bahwa itu foto ketika dia masih SMA. “Saiki bocahye yo wis gedhe, lha wong wis lulus Farmasi UGM je. Kabare saiki malah pitung puluh kali luwih uaaayu timbangane foto SMA-ne disik.... he he he...”, jelas sang ustadz muda yang ternyata sudah jatuh cinta sejak memandang biodatanya  yang  pertama itu.
                Singkatnya, keluarga Surabaya akhirnya bisa diyakinkan dan setuju proses perjodohan itu ditindaklanjuti. Keluarga sang akhwat di Magelang yang masih memiliki ikatan darah keturunan HB VII itu pun akhirnya juga menyetujuinya. Gayung bersambut, di hari yang telah disepakati khitbah terjadi.  Aqad nikah dan walimah pun telah ditentukan  harinya. Maka sejak aqad nikah diikrarkan, Ustadz Ma`ruf Amary, Lc. resmi mendapatkan “wahyu” dari Allah, lengkapnya mendapat Ukhti “Wahyu Tusi Wardhani, S.Si.,Apt.”.  Jadi, begitulah kisah nyata perjalanan spiritual Ustadz Ma`ruf Amary mendapat wahyu, Wahyu Tusi Wardhani. Kini istrinya itu lebih dikenal dengan pangilan Bu Tusi, seorang apoteker, ustadzah penggerak dan pembina GEMI, Gerakan Ekonomi Masyarakat Islami di sepanjang bantaran Kali Gadjah Wong, Kota Yogyakarta.
    BEBERAPA PILIHAN MAKANAN DI "DAPUR SOLO"
    Kini, ustadz Ma`ruf Amary hidup berbahagia bersama istri dan dua putri cantiknya di rumahnya: Warungboto UH IV/837, Umbulharjo, Yogyakarta. Saking bahagianya, kayaknya beliau sudah tidak ingat lagi biodata dan foto diri Bu Tusi di masa SMA itu. Bisa jadi, pengalaman spiritualnya membuat beliau memperoleh kesimpulan bahwa foto diri waktu SMA itu sebenarnya tidak terlalu penting. Yang penting, beliau kini telah mendapat “wahyu”:  “Wahyu Tusi Wardhani”. Itu yang paling penting dalam perjalanan hidupnya.  Yo to Cak Ma`ruf? (Ngono yo ngono, ning jalan lupa hari pernikahannya dirayakan dong.... Jangan hanya di Sate Klathak terus, ya sekali-kali di Bebek Wongsorejo atau Dapur Solo-lah.... Ha ha ha (MIS)