Senin, 28 Februari 2011

PKS SIAPKAN 500 RIBU KADER BLOGGER DAN FACEBOOKER

Untuk Gerakan Media Online Secara Masif di Indonesia 

Elvan Dany Sutrisno
(Sumber: www.detiknews.com, Senin, 28/02/2011, 11:59 WIB)
Jakarta - Pemilu 2014 masih beberapa tahun ke depan. Namun PKS sudah menyiapkan jurus-jurus untuk memenangkan pemilu mendatang. Salah satunya dengan mewajibkan kader dan pengurus partai untuk menguasai dan menyebarkan informasi di ranah sosial media.
            "Insya Allah ada 500 ribu kader PKS yang masuk sosial media dalam waktu dekat. Ini diarahkan untuk kepentingan menuju Pemilu 2014, sebagai bentuk kampanye untuk mensukseskan partai mencapai target 3 besar dalam Pemilu 2014," kata Sekjen PKS Anis Matta di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (28/2/2011).
            Gerakan 'menguasai' informasi di sosial media ini sudah diluncurkan di Mukernas PKS Yogyakarta. Saat itu disampaikan agar kader PKS dan pengurus harus punya akun twitter, blog, Facebook, dan website pribadi.
      "Hal ini dilakukan supaya kita masif di dunia jejaring sosial. Supaya semua kader jadi ujung tombak komunikasi publik kita," imbuh Anis. Jadi, sambung Anis, komunikasi publik tidak hanya menjadi kewajiban DPP PKS, tetapi juga kewajiban bagi kader, sehingga mereka dapat membela apabila ada yang mendiskreditkan PKS. "Ini semacam gerakan sosial media yang masif," ujar Anis. (ndr/fay).
        Nah, wahai para sedherek fillah facebooker, blogger, aktivis twitter. Siapkah kita mendukung jihad informasi ini? Rasulullah pernah bersabda, "Ya Hasan.... Uhjul Musyrikin. Wa Jibroila maak! (Hai Penyair Hasan, balas (opini) kaum musyrikin itu. Semoga Jibril bersamamu?". Piye arek-arek Jatim fillah siap? Piye Cah Yogja lan Jateng, siap? (M. Ilyas Sunnah)

Minggu, 27 Februari 2011

LUTHFI HASAN ISHAAQ, PRESIDEN PENYAYANG ANAK

Ditulis: M. Ilyas Sunnah

Perawakannya gagah berwibawa. Wajahnya terkesan selalu serius dan tegas. Tetapi, mudah sekali melempar senyum, sehingga jauh dari kesan “sangar”. Justru sebaliknya, kelembutan hatinya tercermin pada kasih sayang dan tegur sapanya kepada sesama.  Meski berdada lebar dan tergolong gemuk, beliau selalu lincah bergerak. Pertanda fisiknya selalu siaga dan tha`at pada agenda-agenda besar yang harus dijalaninya. Itulah sekilas sosok H. Luthfi Hasan Ishaaq, M.A., Presiden PKS yang ketiga. Dari sosok dan “thongkrongan”-nya yang demikian, sungguh beliau sangat layak menjadi Presiden RI suatu saat nanti,  jika Allah menghendaki.
Satu hal lagi yang menarik. Di balik sosoknya yang demikian, Luthfi Hasan Ishaaq ternyata Presiden PKS yang sangat penyayang anak. Di berbagai kesempatan dan di berbagai wilayah, beliau selalu meminta bertemu anak kader PKS setempat. Tentu saja bukan sekedar bertemu. Biasanya, beliau memberi motivasi anak-anak kader PKS untuk rajin belajar, rajin mengaji, dan tak lupa mendukung dakwah abi-umminya. Plus--ini yang khas-- memberi uang saku untuk anak-anak kader Partai Dakwah itu. Makanya, seusai bertemu dengan tokoh pengusaha PKS yang sukses ini, anak-anak kader itu selalu senyum-senyum ceria dan berbinar-binar wajahnya.
Pada acara bagi-bagi hadiah dan door price “Pit-pitan Kangge Sedoyo” dalam rangka Mukernas PKS di Yogyakarta, 20 Februari 2011 yang lalu, Luthfi Hasan Ishaaq pun tampil mempesona. “Ular-ular” alias taujihnya mengena, sesekali diselingi “guyonan khas negarawan” asal Malang, Jawa Timur ini. Di ujung acara, dengan suka cita beliau didaulat foto bersama anak-anak kader Jogja. Anak-anak yang hadir pun naik panggung dan mengrubuti Presiden PKS yang sedang  jemeneng ini.  Tak ketinggalan, anak-anak dari pinggiran Kali code pun ikut-ikutan memanfaatkan kesempatan yang langka ini.
Alhamdulillah, aku tadi bisa bersalaman dengan Ustadz Presiden PKS dan dibelainya lho Mi....,” cerita Mbak Nisa, salah satu anak Kali Code kepada umminya setelah sampai di rumah. “Tia dan Nanda juga lho Mi....” imbuhnya. Rombongan “pit-pitan” anak-anak pinggir Kali Code itu tampak bangga dan bahagia mesti hanya dapat sekotak snack dan door price 2 voucer makan somey bandung gratis. Semoga tetap barakah. Amiin. {MIS}.

Sabtu, 26 Februari 2011

Presiden PKS Tak Percaya Kabar Reshuffle

{Sumber: Kedaulatan Rakyat, 26 Februari 2011, disunting dari www.detiknews.com}
          Yogyakarta - Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Luthfi Hasan Ishaaq tidak memercayai adanya kabar reshuffle terhadap sejumlah menteri dari PKS. Sebab tidak dilontarkan langsung oleh Presiden SBY, tapi oleh sejumlah elite politik di Partai Demokrat.
          "Itu tidak pernah diucapkan langsung oleh Presiden Pak SBY. Itu diucapkan oleh orang-orang second atau third layer di Partai Demokrat," kata Luthfi ketika ditanya  wartawan usai berkunjung di kediaman Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kraton Kilen, Yogyakarta, Jumat (25/2/2011) petang {pukul17.30 WIB}.
          Luthfi menegaskan, pihaknya tidak meyakini itu pendapat Presiden SBY. Sebab dari cara pengungkapan atau pembahasaan atau hal-hal yang dilontarkan bukanlah cerminan dan akhlak SBY. Kosa kata yang digunakan bukan gaya omongan SBY. “Jadi kami sangat meyakini itu bukan yang Pak SBY mau," kata Luthfi.
            Menurut Luthfi, itu hanyalah sebuah manuver dari beberapa oknum saja yang mungkin mempunyai kepentingan tersendiri. Namun kepentingan-kepentingan tersebut ingin disandarkan atau diatasnamakan SBY.
            "SBY itu adalah pemimpin nasional yang dalam mengambil kebijakan itu tidak hanya Demokrat saja. Demokrat kan dalam pileg hanya 21 persen. Sedang Pak SBY dalam Pilpres dapat 60 persen. Jadi selebihnya bukan PD yang beri suara. Beliau itu pemimpin nasional," katanya.
            Luthfi menegaskan, PKS berkoalisi dan menandatangani kontrak politik itu dengan SBY. Sedangkan kepemimpinan di Demokrat sebagai parpol itu dinamis dan selalu ada pergantian sehingga tidak seluruhnya orang demokrat bisa memahami mengenai apa yang telah disepakati antara PKS dan SBY. "Sebagai koalisi kami itu kontraknya tertulis dan ada kontrak politik yang kami sepakati," katanya.
            Luthfi menyayangkan adanya sekelompok elite di Demokrat yang suka melontarkan kosa kata yang bukan tradisi dari SBY. Sebab hal itu bukan karakter dari SBY yang dikenalnya {Editor KR: M-1/Apw dari bgs/Irn, www.detiknews.com}


Taushiyah Ustadz Cahyadi: Kontribusi dan Kaderisasi Struktural

{Sumber: http://cahyadi-takariawan.web.id/Yogyakarta, 7 Januari 2011}

          Apa makna menjadi pengurus organisasi dakwah bagi para kader? Tentu sangat banyak maknanya, namun saya mengajak anda melihat dari dua aspek ini saja: lahan kontribusi dan lahan kaderisasi. Dua makna penting yang harus menjadi cara pandang kita dalam kehidupan berstruktur atau berorganisasi dakwah.
       Pertama adalah lahan kontribusi. Organisasi dakwah telah mendidik dan menyiapkan banyak kader dengan beragam potensi dan keahlian. Semua potensi dan semua keahlian yang dimiliki para kader sangat bermanfaat bagi organisasi dalam mengelola semua aktivitas dan programnya untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Dengan dilibatkannya para kader dalam struktur kepengurusan, telah menjadi lahan berkontribusi yang nyata untuk mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki.  Ada potensi administrasi, ada potensi kepemimpinan, ada potensi manajerial, ada potensi loby, ada potensi ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kesehatan, hukum dan lain sebagainya. Keseluruhan potensi tersebut diwadahi dalam bingkai struktur organisasi, menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat sesuai kemampuan, keahlian dan potensi yang dimiliki. Dengan manajemen yang tepat, semua potensi diolah dalam sebuah orkestra kepengurusan yang harmonis, sehingga menghasilkan simponi yang indah, teratur, berirama dan terarah.
           Orkestra bisa kacau, atau menghasilkan lagu yang tidak enak didengar, sumbang dan tidak serasi, karena ada bagian dari pemain orkestra yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Mengapa tidak melaksanakan tugas dengan baik? Bisa jadi karena tidak sesuai kemampuan dan keahliannya. Ahli gitar yang diminta memainkan biola tentu tidak akan menghasilkan harmoni yang tepat. Bisa jadi pula karena kualitas dan integritas pribadi yang bersangkutan, yang tidak memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tim, atau tidak memiliki obsesi serta cita-cita kemajuan dan perbaikan. Dia tidak peduli kalau konser orkestra tersebut berantakan dan tidak sukses.
            Dalam perspektif ini, menjadi pengurus organisasi dakwah di level apapun, di pusat, propinsi, kabupaten/kota, kecamatan ataupun desa/kelurahan, menjadi lahan bagi kader untuk mengkontribusikan waktu, tenaga, pemikiran dan semua potensi yang dimiliki bagi tercapainya tujuan-tujuan organisasi dakwah. Keterlibatan dalam struktur organisasi menjadi sarana tersalurkannya berbagai kemampuan dan keahlian kader, yang sesuai dengan dinamika internal dan eksternal organisasi tersebut. Ini merupakan makna yang penting, dimana segala potensi kader bisa tersalurkan dalam wahana dan sarana yang tepat untuk dikontribusikan bagi pencapaian tujuan.
            Pada sisi yang lain, organisasi dakwah dipenuhi oleh para kader yang memang memiliki kapasitas yang memadai sehingga menyebabkan organisasi menjadi dinamis dan memiliki keunggulan kompetitif. Pada akhirnya bertemulah antara lahan kontribusi kader dengan kebutuhan organisasi dakwah yang dinamis. Potensi kader terkontribusikan secara optimal, pada saat yang sama organisasi dakwah menjadi kuat dan unggul karena dikelola oleh para kader yang penuh potensi.
            Namun jangan hanya memandang posisi kepengurusan hanya dari segi lahan kontribusi kader saja, harus digenapkan cara pandang kita dengan memahami bahwa kepengurusan organisasi dakwah adalah lahan kaderisasi.  Inilah makna kedua dari kepengurusan organisasi dakwah, dan merupakan makna yang sangat penting bagi sebuah organisasi kader. Menjadi pengurus organisasi adalah lahan melakukan kaderisasi, dimana setiap saat, setiap periode kepengurusan, kader datang silih berganti mengisi pos-pos yang tepat bagi dirinya.
            Di sisi ini terjadi sesuatu yang unik, karena kedua makna ini bisa dipandang sebagai sesuatu yang sinergis, namun bisa juga dipandang sebagai sesuatu yang kadang bertubrukan kepentingan. Dalam perspektif sinergis, kepengurusan dalam organisasi dakwah adalah lahan kontribusi bagi potensi kader yang sekaligus menjadi lahan kaderisasi struktural. Namun dalam sisi yang bersebelahan, kadang organisasi harus memilih beberapa personal kader saja untuk menempati pos-pos kepengurusan, sementara kader jumlahnya sangat banyak yang tidak mungkin tertampung semua dalam struktur kepengurusan. Tentu ini pilihan yang sulit.
            Dalam setiap prosesi pergantian kepengurusan organisasi dakwah lewat mekanisme Musyawarah, selalu ada suasana khas. Ada pengurus lama yang sudah berpengalaman dan bertambah ilmunya karena telah melaksanakan amanah kepengurusan selama satu atau dua periode, namun ada sangat banyak kader potensial yang siap menempati pos-pos kepengurusan, dengan menjadi pengurus baru.
            Para pengurus lama telah menjadi senior, yang karena memiliki pengalaman struktural pada periode sebelumnya, menjadi bertambahlah ilmu, pengetahuan, kecerdasan, ketrampilan dan kemampuannya dalam menjalankan amanah organisasi. Potensi mereka bertambah besar dan sangat penting untuk dikontribusikan bagi organisasi dakwah. Namun, para senior harus pandai menempatkan diri agar tidak terjebak dalam sebuah suasana status quo, dimana merasa mapan dengan posisi struktural dalam organisasi dakwah sehingga tidak mau digeser atau diganti.
Jika kepengurusan jumud dan statis, tidak memberikan kesempatan kepada kader baru untuk terlibat dalam struktur organisasi, akan menyebabkan kaderisasi mandeg. Kader-kader baru yang terus bermunculan tidak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pembelajaran dan pengalaman berstruktur, pada saat yang bersamaan organisasi bisa mengalami kejumudan karena diisi oleh wajah-wajah lama. Untuk itu, pengalaman berstruktur perlu dibuka seluas-luasnya bagi kader-kader baru, agar terjadi dinamisasi dan percepatan kaderisasi.
            Hal ini tentu saja tidak menghalangi bagi organisasi untuk tetap mempertahankan beberapa personal lama di beberapa posisi yang dianggap penting dan perlu diisi oleh senior berdasarkan pertimbangan strategis yang ada pada waktu itu. Ada tokoh-tokoh senior yang memang sangat diperlukan untuk menjaga organisasi, namun perlu banyak kader baru yang harus segera dimunculkan. Komposisi tua–muda atau senior–yunior ataua lama–baru menjadi penting untuk menjaga agar organisasi menjadi seimbang dengan adanya kebijakan dan hikmah dari para senior, namun tetap menggelorakan semangat kader-kader muda.
            Pada konteks kaderisasi struktural seperti ini, ada banyak kesadaran besar yang harus dibangun di hati dan benak semua kader. Kesadaran pertama, bahwa kontribusi dakwah tidak selalu dan tidak harus dibangun dalam wadah kepengurusan formal. Sangat banyak lahan kontribusi untuk menyumbangkan segala potensi yang kita miliki di jalan dakwah. Menjadi pengurus adalah salah satu lahan kontribusi, namun tidak mungkin semua kader tertampung dalam struktur kepengurusan formal. Struktur organisasi dakwah selalu lebih sempit dibandingkan dengan jumlah dan potensi kader yang dimiliki. Purna kepengurusan tidak berarti purna kontribusi bagi dakwah, karena kontribusi bisa diberikan dalam berbagai bidang amal salih yang sangat luas.
            Kesadaran kedua, bahwa pengalaman berstruktur dalam organisasi dakwah merupakan bagian utuh dari proses tarbiyah (pembinaan dan pengkaderan). Oleh karena itu, para senior harus memberikan tempat dan kesempatan yang luas bagi para kader muda untuk mengalami dan merasakan pengalaman berstruktur tersebut. Pemunculan kader menjadi pengurus baru merupakan sebuah akselerasi pergerakan dakwah, agar semakin banyak kader memiliki kemampuan, ketrampilan dan pengalaman berstruktur. Dengan demikian, organisasi dakwah telah menyiapkan aset yang besar bagi upaya membangun masa depannya.
            Kesadaran ketiga, bahwa penempatan kader dalam struktur kepengurusan merupakan amanah dakwah, bukan sebuah pemuliaan atau penghormatan. Artinya, jika ada pengurus baru menggantikan pengurus lama, para pengurus baru ini tengah menerima amanah untuk ditunaikan dengan sepenuh tanggung jawab dan dedikasi, sedangkan para pengurus lama yang tidak lagi mendapatkan amanah kepengurusan bukanlah pihak yang dicampakkan. Kalau menjadi pengurus dimaknai sebagai pemuliaan, maka tatkala tidak terpilih menjadi pengurus akan dimaknai sebagai pembuangan, pencerabutan atau pencampakan potensi. Padahal sama sekali tidak seperti itu maknanya.
            Kesadaran keempat, tidak ada rumus pengistimewaan bagi para senior. Dalam organisasi dakwah, senioritas tidak dimaknai dalam konteks pragmatis, misalnya diutamakan dalam penempatan kepengurusan, atau didahulukan dalam penempatan di jabatan publik, diutamakan dalam fasilitas, dan seterusnya. Kepemimpinan bukanlah proses yang terjadi secara “urut kacang”, dimana setiap kader bisa menghitung kapan kesempatan menjadi pemimpin. Tidak seperti itu rumusnya. Untuk menempati posisi kepemimpinan tidak selalu diambil dari orang yang paling senior atau lebih senior, namun lebih kepada pertimbangan kemaslahatan dalam pengertian yang luas. Hal ini penting dipahami, agar kader yang merasa senior tidak tersinggung ketika dirinya tidak ditempatkan dalam posisi kepemimpinan di struktur organisasi.
            Kesadaran kelima, bahwa pergantian kepengurusan adalah sebuah keniscayaan. Organisasi perlu diisi berbagai potensi, perlu diregenerasi, perlu disegarkan dengan adanya pergantian. Proses pergantian kepengurusan menandakan denyut kaderisasi berjalan dengan lancar. Tidak mungkin selamanya kader menjadi pengurus organisasi, harus ada batas waktunya. Maka silih berganti kader datang dan pergi mengisi pos-pos struktur organisasi, untuk berkontribusi, dan menjadi lahan kaderisasi.
            Kesadaran keenam, bahwa purna kepengurusan berarti memiliki kesempatan lebih luas untuk aktualisasi potensi di tengah kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Setelah berkontribusi melalui struktur organisasi dakwah, terbentuklah pendewasaan, pengalaman, kemampuan, ketrampilan yang didapatkan selama masa kepengurusan berlangsung. Hal ini menjadi modal dan bekal untuk membangun ketokohan sosial, membangun jejaring sosial, membangun kredibilitas publik, untuk mengambil peran-peran kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan lebih lanjut.
            Kesadaran ketujuh, bahwa tidak ada kamus pensiun dalam aktivitas dakwah. Periodisasi dalam kepengurusan organisasi dakwah memiliki makna proses kaderisasi dan regenerasi yang lancar dan teratur di kalangan kader dakwah. Setiap pengurus organisasi akan pensiun dari kepengurusan, namun tidak ada kata pensiun dari aktivitas kebaikan. Dakwah adalah sebuah dinamika yang berkesinambungan dan terus menerus sampai akhir zaman. Tak pernah ada pensiunan aktivis, walaupun ada aktivis yang futur. Maka kendati tidak berada dalam barisan kepengurusan, tidak berarti selesai berkontribusi.
            Bagi kader dakwah, totalitas (tajarrud) artinya adalah memberikan semua potensi yang dimiliki dalam rangka mencapai tujuan-tujuan dakwah. Dengan demikian, tidak terbatas pada amanah kepengurusan formal. Dimanapun kader berada, dimanapun kader beraktivitas, melalui sarana apapun kader berkarya, semua bisa dioptimalkan bagi kepentingan pencapaian tujuan dakwah. Semua tetap terajut dalam kerja sistemik (amal jama’i), yang akan membuahkan hasil yang sistemik pula.
            Setelah rampung prosesi pergantian kepengurusan, kita ucapkan selamat bertugas dan mengemban amanah bagi para kader yang mendapatkan peran struktural. Curahkan segala potensi dan kemampuan anda dalam menunaikan amanah kepengurusan, dengan segenap kesungguhan dan dedikasi, dengan segenap kecintaan dan pengurbanan. Optimalkan pembelajaran selama mengemban amanah kepengurusan, sehingga purna kepengurusan nanti anda memiliki banyak sekali ilmu, wawasan, pengetahuan, ketrampilan dan semakin bertambah potensi yang anda miliki.
Bagi para kader yang telah purna masa khidmahnya dalam struktur kepengurusan formal, kita ucapkan selamat atas keberhasilan memberikan kontribusi terbaik selama masa kepengurusan. Anda telah mendapat pengalaman dan pembelajaran berstruktur yang sangat penting bagi peningkatan kapasitas anda, dan sekarang anda telah memberikan kesempatan kepada kader-kader muda untuk mendapatkan pengalaman dan pembelajaran tersebut. Organisasi dakwah ini adalah sebuah Universitas yang terus mencetak kader untuk semakin lengkap potensinya.
Selamat berkontribusi pada lahan-lahan amal yang baru, di luar struktur kepengurusan organisasi. Ada sangat banyak lahan kontribusi menanti anda, ada sangat banyak kesempatan beramal di jalan dakwah, ada sangat banyak peran yang bisa anda lakukan, tanpa harus berada dalam struktur kepengurusan formal. Semua tetap dalam bingkai amal jama’i yang teratur rapi. Semua tetap dalam satu koordinasi dan konsolidasi untuk mencapai mimpi-mimpi yang kita bangun selama ini.
Itulah beberapa kesadaran besar yang harus kita kuatkan dalam kehidupan dakwah. Jangan ada kader yang merasa dicampakkan, atau dilupakan, atau dibuang, hanya karena dirinya tidak tertampung dalam jajaran kepengurusan. Jangan ada kader yang kecewa dan merasa terhina hanya karena tidak masuk dalam struktur organisasi. Semua kader dakwah mengerti lahan-lahan tempat berkontribusi. Semua kader dakwah memahami untuk tujuan apa terlibat dalam dakwah ini. Teruslah bekerja, teruslah berkarya, hingga akhir usia. Menjadi apapun kita di organisasi dakwah yang kita cintai, atau tidak menjadi apapun. Jangan pernah berhenti.
Fa idza faraghta fanshab, wa ila Rabbika farghab.

Jumat, 25 Februari 2011

Nuansa Jawa Warnai Pembukaan Mukernas PKS

Editor: B Kunto Wibisono
{Sumber: http://www.antaranews.com/berita/247574/Jumat, 25 Februari 2011 00:39 WIB}

            Sleman (ANTARA News) – Nuansa Jawa mewarnai pembukaan Musyawarah Kerja Nasional Partai Keadilan Sejahtera yang berlangsung di Yogyakarta, Kamis malam.
            Nuansa Jawa tersebut di antaranya nampak dari pakaian yang dikenakan para kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bertugas dalam pembukaan Mukernas dengan mengenakan pakaian adat khas Yogyakarta berupa kain surjan lengkap dengan blangkon.
            Bahkan Ketua Panitia Mukernas PKS yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PKS Daerah istimewa Yogyakarta (DIY) Sukamta saat menyampaikan sambutan juga mengenakan pakaian adat Yogyakarta tersebut.
            Selain itu sejumlah tarian Jawa khas Yogyakarta juga memeriahkan pembukaan Mukernas yang diikuti sekitar 3.500 kader PKS dari 33 provinsi se-Indonesia seperti “Beksan” (Tarian) Lawung Ageng yang merupakan karya dari Sri Sultan  Hamengku Buwono I maupun tarian “Anoman Obong”. Bahkan, iringan musik dalam penyambutan tamu undangan dengan menggunakan alunan gamelan yang dimainkan secara langsung.
            Bahkan dalam Mukernas tersebut juga menguatkan dukungan dan konsistensi PKS terhadap status keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti lagu penyambutan kedatangan yakni lagu hip-hop Yogyakarta Istimewa dan pernyataan Ketua DPD PKS DIY Sukamta maupun Presiden PKS yang menyatakan tetap konsisten mendukung keistimewaan Yogyakarta.
            Mukernas PKS tersebut dibuka secara resmi oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan didampingi Presiden PKS Lutfi Hasan akan berlangsung hingga 26 Februari. (V001/Z002/K004)

Taushiyah Sri Sultan HB X pada Pembukaan Mukernas PKS 2011

[Sumber: http://pkspiyungan.blogspot.com/ Kamis, 24 Februari 2011]

FoAdd caption
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,
Yang saya hormati Ketua Majlis Syuro PKS,
Yang saya hormati Presiden PKS beserta pengurus DPP,
Yang saya hormati Ketua dan Pengurus DPW PKS se-Indonesia,
Para kader, para simpatisan PKS yang saya hormati bapak-bapak ibu-ibu hadirin segenap peserta mukernas PKS yang militan.

                Marilah kita tundukan kepala dan tengadahkan tangan seraya mengucap puji syukur ke hadirat Allah SWT karena hanya atas izinNya jualah kita bisa bertatap muka dan berdialog dalam acara pembukaan mukernas PKS malam hari ini.
                Dengan memilih Yogyakarta sebagai ajang mukernasnya menunjukkan bahwa PKS telah berbuat untuk Yogyakarta, dengan turut menggerakkan pariwisata Yogyakarta yang berbasis kerakyatan. Karena kebanyakan peserta mukernas mungkin menginap di rumah penduduk atau di hotel-hotel melati, maka dampaknya langsung dirasakan oleh UKM yang bergerak di sektor penginapan, jasa kuliner, pasar  tradisional, atau warung-warung dan art shop kecil yang menjual kaos atau cinderamata khas Yogyakarta.
                Dengan skala nasional dengan motto “Berkerja untuk Indonesia”, sebagai partai yang menyandang misi keadilan, PKS dalam kiprahnya juga telah menunjukkan kontribusinya yang dibuktikan dengan gigih telah berupaya turut menegakkan keadilan dan kebenaran. Karena agenda utama PKS adalah menegakkan HAM dan kebebasan beragama, hal ini sungguh tepat untuk meredam kekerasan yang bernuansa agama yang akhir-akhir ini merebak kembali. Karena memang berlaku adil itu lebih dekat dengan taqwa.
                Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika PKS pernah menyerukan agar bangsa ini bertingkah arif penuh damai, dan menyalurkan aspirasi dengan etika demokrasi tidak dengan menunjukkan arogansi. Pernyataan ini dalam situasi maraknya amuk masa seperti akhir-akhir ini sungguh menyejukkan suasana.
                Saat inilah tepat untuk menjadikan partai politik elemen integrasi dan semen perekat persatuan bangsa dengan menguatkan tali silaturohmi antar sesama. Hal ini merupakan tantangan seluruh partai untuk merumuskan kembali platform perjuangannya. Keadilan dan kesejahteraan bisa dipastikan adalah pilihan yang tak tergantikan bagi PKS untuk dijadikan platformnya.
                Bangsa ini patut diingatkan sejarah runtuhnya bangsa-bangsa selalu disebabkan oleh tiadanya keadilan. Keadilan yang berjalan seiring dengan kesejahteraan adalah jaminan keberlangsungan bangsa ini ke depan. Bukankah revolusi Mesir diantaranya disebabkan oleh sepotong roti? Protes besar-besaran rakyat Mesir itu karena soal keadilan dan kesejahteraan. Dalam soal ekonomi terkait dengan melambungnya harga-harga bahan pokok dan tersumbatnya rasa keadilan masyarakat. Kondisi ini patut menjadi perenungan elit politik kita.

Bapak ibu hadirin sidang mukernas PKS yang diridhai Allah,
                Partai politik merupakan bagian yang inhern dalam proses demokratisasi di Indonesia. Namun perlu diperhatikan bahwa partai politik bukan sekedar organisasi yang memiliki hubungan terbatas dengan konstituennya. Masa hidup partai politik tidak bergantung pada masa jabatan atau pada masa hidup para pemimpinnya. Ia harus mampu eksis dan berakar kuat dalam masyarakat, dengan melakukan kegiatan yang aspiratif memasyarakat. Dalam konteks politik, aspirasi rakyat terakumulasi menjadi kehendak rakyat.
                Lalu bagaimanakah kita bisa membaca dan mengelola kehendak rakyat itu secara benar tanpa distorsi? "Suara rakyat adalah suara Tuhan" adalah adagium demokrasi yang menyebut betapa pentingnya suara rakyat dalam melakukan penataan hubungan antara negara dengan masyarakat.
Demokrasi sendiri merupakan jembatan untuk melakukan penataan dengan menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, atau secara harfiah diartikan kekuasaan ada di tangan rakyat.
Untuk menggambarkan suatu proses emansipatoris dalam menentukan hal-hal dalam dokumen publik, demokrasi mengharuskan untuk mencermati wacana demokrasi yang pemahamannya tidak pernah tunggal. Amerika yang merupakan contoh tumbuhnya demokrasi menyebut sedang belajar berdemokrasi.
                Tetapi demokrasi bukanlah tujuan. Demokrasi adalah cara untuk mencapai tujuan. Dalam prosesnya, dinilai Indonesia masih berada dalam tataran demokrasi prosedural karena belum mencerminkan keadilan dan kesejahteraan sebagaimana diperjuangkan oleh PKS. Dalam kehidupan demokrasi yang otentik, suara rakyat ditempatkan pada posisi tertinggi. Celakanya sekarang ini, idiologi kerakyatan itu berubah menjadi adagium baru politik uang: “suara rakyat suara uang”.
                Dalam hal ini, PKS yang dikesankan sebagai partai putih yang dinilai belum terkontaminasi oleh dampak negatif politisasi hitam diharapkan dapat memberi kontribusi guna membalikkan kondisi politik yang buram itu menjadikan politik itu sesuatu yang mencerahkan bagi kehidupan berbangsa.

Bapak ibu sidang mukernas PKS yang diridhai Allah,
                Dengan harapan seperti itulah, Pemerintah Propinsi DIY menyampaikan ungkapan rasa syukur atas digelarnya mukernas PKS hari ini. Semoga PKS tetap menjadi partner dan progresnya rakyat dalam menyikapi berbagai masalah sosial, politik, agama dan budaya.
                Semoga pula hasil mukernasnya memberikan manfaat tidak terbatas bagi kalangan internal partai saja, tetapi sesuai mottonya “Berbakti untuk Indonesia” juga meluas demi kepentingan dan manfaat seluruh bangsa Indonesia.
                Akhir kata, semoga Allah SWT berkenan melimpahkan taufik serta hidayah-Nya bagi kesejahteraan bangsa Indonesia yang berkeadilan, saya ucapkan selamat bermusyawarah bagi kepentingan bangsa. Sekian terimakasih.


Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Yogyakarta, 24 Februari 2011
GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA


SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X


{Transkrip teks ini adalah hasil rekaman audio oleh admin blog PKS Piyungan yang turut meliput acara Pembukaan Mukernas PKS 2011 tersebut)

Pembukaan Mukernas PKS 2011

Sultan HB X: Kader PKS Militan
{SUMBER: http://www.gatra.com/2011-02-25/Sleman, 25 Pebruari 2011 09:04}
Sumber foto: njowo.multiply.com

                Musyawarah Kerja Nasional Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Yogyakarta, 24 hingga 26 Februari 2011, merupakan konsolidasi internal untuk menegaskan karakter partai yang terus bekerja bagi kemaslahatan bangsa dan negara Indonesia.
                Pembukaan Mukernas II PKS di Hotel Sheraton Yogyakarta, Kamis malam (24/2), yang dilakukan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X ini, dihadiri Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq dan Sekjen PKS Anis Matta, beberapa anggota DPR RI kader PKS dan para ketua DPW dan DPD PKS se-Indonesia, serta anggota DPRD kader partai ini dari provinsi dan kabupaten/kota.
                Selain itu, juga hadir Menteri Sosial Salim Segaf Al jufri, Menkominfo Tifatul Sembiring, dan Menristek Suharna Suryapranata, Ketua Dewan Syuro PKS Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Untung Wahono, Ketua Dewan Syariah Pusat Surahman Hidayat, serta Hidayat Nur Wahid.
                Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam sambutannya mengatakan, kader PKS merupakan kader yang militan. "PKS sebagai partai putih mampu memberikan kontribusi bagi bangsa, sehingga mampu mencerahkan kehidupan berbangsa," katanya.
                Menurut Sultan, Mukernas II PKS di Yogyakarta ini diharapkan memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara melalui pemikiran-pemikiran dan karya-karya nyata. "Dari mukernas ini juga menunjukkan kepedulian PKS terhadap masyarakat Yogyakarta yang terpuruk akibat bencana erupsi Gunung Merapi, khusunya sektor pariwisata," katanya. Dengan banyaknya kader PKS yang hadir dalam mukernas ini, kata Sultan akan menggairahkan kembali sektor pariwisata, usaha perhotelan, kuliner, pasar tradisional maupun pasar cenderamata.
                Sedangkan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq dalam sambutannya mengatakan tema Mukernas II ini  sekaligus menjadi semboyan PKS hingga 2015, yakni "Bekerja untuk Indonesia". Menurut dia, semboyan ini menegaskan bahwa karakter PKS adalah partai yang terus bekerja dari waktu ke waktu untuk kemaslahatan bangsa dan negara.
                "Terlalu banyak persoalan yang dihadapi bangsa ini, sehingga tidak mungkin PKS bekerja sendirian, kita harus bergandengan tangan dengan komponen lain untuk membangun Indonesia dan bahu membahu mewujudkan cita-cita bersama menciptakan masyarakat yang madani," katanya.
                Menurut dia, sebagai partai dakwah yang terus mendapatkan dukungan dari masyarakat Indonesia dan kerja nyata semakin banyak dirasakan manfaatnya, PKS harus terus meneguhkan eksistensi dan perannya di masyarakat.
                "Atas dasar inilah PKS dalam sikap politiknya mendukung hak angket kasus Century dan hak angket kasus mafia pajak," katanya. Ia mengatakan secara khusus mewakili PKS menyampaikan di hadapan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan warga masyarakat Yogyakarta bahwa berdasarkan pertimbangan sosiohistoris, politis, dan memperhatikan aspirasi masyarakat Yogyakarta, maka DPP PKS melalui Fraksi PKS di DPR RI mendukung sepenuhnya gagasan penetapan Sri Sultan dan Paku Alam sebagai gubernur dan wakil gubernur DIY. [TMA, Ant] 

Kamis, 24 Februari 2011

Mukernas PKS 2011 di Yogyakarta dihadiri "Kholifah Tanah Jawa"


              Mukernas PKS 2011 di Hotel Sheraton Yogyakarta akan bernuansa "istimewa". Selain, sebagian peserta didesain berbusana Jawa Islam {surjan} juga karena Sri Sultan Hamengku Bowono X, yang masih bergelar Kholifatullah {Mahaliyah} di Tanah Jawa ini berkenan hadir memberi sambutan. Kepastian Gubernur DIY, yang setiap menjelang Pilpres selalu disebut-sebut sebagai Capres alternatif ini mendapat pembenaran dari H.M. Zuhrif Hudaya, S.T., sekretaris Panitia Pelaksana Mukernas PKS 2011. "Benar, Insya Allah beliau berkenan hadir dan pemberi sambutan,"  tegas calon wali Kota Yogyakarta dari PKS ini seperti dilansir dalam harian Republika, 23 Februari 2011. Sementara, Sang permaisuri, Gusti Kanjeng Ratu Hemas yang juga Wakil ketua DPD RI  melalui Mbak Weni, sekretarisnya menyampaikan mohon maaf, nyuwun pangapunten mboten sanget rawuh, amargi sesarengan kalian {berbarengan dengan}  acara DPD RI {MIS}.


Rabu, 23 Februari 2011

DPW PKS DIY MENYAMPAIKAN "SUGENG RAWUH...."

Gelar Mukernas di Yogyakarta, PKS Canangkan Tinggal Landas

{www.republika.co.id., Rabu, 23 Februari 2011, 16:41 WIB)


            REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bakal menjadikan 2011 sebagai tahun kesiapan tinggal landas. Musyawarah kerja nasional (mukernas) PKS yang digelar di Yogyakarta, 24-27 Februari 2011, menjadi momentum. Selain mengoptimalkan pemberdayaan sosial, target politik tinggal landas PKS adalah mengajukan calon Presiden pada Pemilu 2014.
            ‘’Musyawarah ini adalah puncak dari konsolidasi yang digarap sepanjang 2010 dan sudah kami selesaikan di awal 2011 ini,’’ kata Sekretaris Jendral PKS, Anis Matta, Rabu (23/2). Semua persoalan internal, ujar dia, sudah rampung.
            ‘’Setelah internal selesai, kami akan take off (lepas landas), siap bekerja lebih banyak untuk masyarakat,’’ tegas Anis. Ibaratnya, sebut dia, 2010 adalah turun mesin setelah kerja politik terkait Pemilu 2009, dan saat ini sudah siap berlaga ke arena yang lebih luas.
Terkait dengan rencana lepas landas tersebut, Anis mengatakan 16 butir program rencana aksi PKS sudah disiapkan. Rencana tersebut akan diluncurkan dalam mukernas di Yogyakarta ini.
            Salah satu fokus dari rencana aksi itu, menurut Anis, adalah peningkatan kapasitas pelayanan sosial. Salah satu upayanya adalah pendirian 100-an lembaga swadaya masyarakat baru yang menangani layanan sosial.
            Fokus besar lain dari rencana aksi PKS adalah pembangunan bangsa, yaitu dengan menggarap sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. PKS menargetkan satu juta usaha dengan kategori modal berkisar Rp 5-20 juta akan tumbuh dari dorongan partai ini.
            Khusus untuk politik, Anis mengatakan tinggal landas PKS akan tercermin dari niat mereka untuk mengajukan calon Presiden dalam Pemilu 2014. “Kami sudah jauh lebih siap,’’ tegas dia, tanpa menjelaskan nama-nama yang muncul. Menurut Anis setelah seluruh pembenahan struktur partai rampung, maka PKS tak hanya akan membidik pemenangan pemilu legislatif tetapi juga akan berlaga sebagai pemain utama di Pemilu Presiden.
            Sekretaris Umum DPW PKS yang juga sekretaris panitia pelaksana mukernas, H.M. Zuhrif Hudaya, mengatakan mukernas PKS ini Insya Allah akan dibuka oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis, 24 Februari 2011.

Minggu, 20 Februari 2011

Kantor DPW PKS DIY Belum Jadi, Aktivitas Tak Pernah Henti

Dilaporkan oleh M. Ilyas Sunnah

            Inilah maket Kantor Makaz Dakwah DPW PKS DIY yang didesin berlantai tiga dengan tempat parkir di bawah tanah. Gedung Markaz Dakwah  milik Yayasan Markaz Dakwah Yogyakarta ini disewa sebagai Kantor DPW PKS DIY dan mulai ditempati per 24 Oktober 2010.
Tak dinyana, jebul Merapi njeblog alias meletus, maka tak henti-hentinya aktivitas di kantor ini selalu ramai dipadati relawan Peduli Merapi. Nah, bencana Merapi Mereda, banjir lahar bermunculkan di mana-mana.  Tak kurang Kalicode banjir ngengirisi, Kali Winongo ikut-ikutan. Bahkan Kali Mambu juga meluber menggenangi jalan--jalan Kota Jogja. Oleh karenanya, kantor baru DPW PKS DIY ini seperti tak pernah tidur  {tapi penunggunya ya tetap tidur dong...). 
           Awal Februari 2011 pembangunan Gedung markaz dakwah ini harus dikebut, mengingat 24-26 Februari 2011, DPW PKS DIY menjadi tuan rumah Mukernas PKS 2011. Sengebut-ngebutnya para krue tukang dan stafnya jebul samapai 24 Februari belum jadi juga. Akhirnya, memaksimalkan lantai kedua yang telah siap dipakai bekerja untuk Indonesia Sejahtera. Meski belum tuntas, tampaknya Panitia pelaksana harus berpuas bekerja di Lantai dua ini. Lumayang semua ruang di sini sudah disulap secara profesional. Bahkan halamannya juga sudah dipoles dengan konblok dan sedikit rerumputan.
                      Lalu sholatnya dimana ini? Kantor Partai Islam koq nggak ada tempat sholatnya? Di Masjid sekitar dulu sambil menungu proses pembangunan Masjid Al-Markaz di belakang Gedung tersebut. {Tuh... gambarnya; kurang dikit selesai}. Masjid ini ukuran 8 X 8 ini sumbangan seorang muhsinin dari Yayasan Ar Rahmah, Uni Emirat Arab. Jika nanti terasa kurang luas {tidak mampu menampung jama`ah lagi} bisa diperluas sendiri oleh Takmir dan ummat Islam setempat. Tentu setelah ada penyerahan resmi dari perwakilan lembaga tersebut. Apalagi lahan di belakang ini masih cukup leluasa untuk pengembangan masjid ini. Insya Allah dengan idzin Allah lumantar para muhsinin semuanya bisa dilakaukan.
             Dalam kondisi sarana dan prasarana yang masih proses semua ini, DPW PKS DIY tetap punya keyakinan Insya Allah dapat memanitiani Mukernas PKS 2011 dengan "tenang". Salah satu jurusnya, inilah  sms ke kader melalui para pembina tak putus-putus diluncurkannya. Diantaranya, "tolong dalam sholat lail antum, sisipkan doa untuk kesuksesan penyelenggaraan Mukernas PKS 2011 di Yogja kali ini". "Dalam rangka mensuksekan Mukernas PKS, maka seluruh aktivitas pembinaan kader  wajib menyesuaikan agenda Mukernas. Mohon para pembina mengontrol peranserta para binaannya...."  Begitu beberapa bunyi sms seruhan dari Bidang Pembinaan Kader Partai Dakwah ini. Walhasil, pagi dini hari uthuk-uthuk, Kantor DPW PKS DIY sudah ramai sekali. Tempat parkirnya, dipenuhi dengan motor trek-jentek berderet-beret panjang. Sebagian Panitia memang tidur di gedung itu, sebagian yang lain pagi-pagi bakda subuh telah menyusulnya. Dzikir dan takbir dalam hati mengiringi mereka mulai bekerja untuk Indonesia sejahtera. Ayo Semangat! Semangat Cah! Beribu bidadari menantimu! Allahu Akbar !!! {MIS}.


Agenda Mukernas PKS 2011 dalam Publikasi

Senin, 14 Februari 2011

PKS Membelot, Siap Calonkan Presiden Sendiri di 2014

Drs. H. Mahfudz Siddiq, M.Si, Wasekjen Bidang Humas DPP
Sumber Foto: majalahforum.com 

(Sumber: republika.co.id, Ahad, 13 Februari 2011, 18:03 WIB)

  
            REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Mukerna PKS di Yogyakarta akan tentukan sikap PKS untuk maju sebagai kontestan dalam Pemilihan Presiden 2014. PKS tidak akan hanya menjadi partai pendukung calon pada pemilu tersebut.“Yang penting sikap dan posisi dasar dulu untuk maju sebagai kontestan, soal nama itu perlu proses lanjutan,” ujar Politisi PKS, Mahfudz Siddiq, saat dihubungi Republika, Ahad (13/02).
            Menurutnya, opsi-opsi tentang pilihan sikap itu akan menjadi salah satu pembicaraan penting di dalam mukernas. Mukernas PKS ini merupakan puncak dari proses konsolidasi organisasi PKS setelah Pemilu 2009.
            Tema besar yang diangkat dalam mukernas ini adalah ‘Bekerja Untuk Indonesia’. PKS akan lebih menujukan eksistensi mereka sebagai working party. “Sebagai partai yang memang tidak tumbuh musiman tapi memang dia beraktivitas secara terus menerus langsung ke basis masyarakat,” kata Mahfudz.