Menjelang akhir hayat Kanjeng Emak Hj. Sulasmini Binti Wongso Saini-Siti Kasiyah, ketika berbaring lemah di kamar depan, dalam kondisi “krengosan” menahan cengkraman asma akut dan pembengkakan jantungnya yang makin parah, terdengar wasiyat terakhirnya, “Le tutukno cita-citamu dadi sarjana Le. Golekono dulur-dulurmu ning Jogja ya Le.” “Insya Allah Mak...”, jawab saya untuk menenangkan Beliau yang sudah tak berdaya itu.
Setelah sampai di RSUD Kabupaten Kediri di Pelem, Pare, praktis tak terdengar lagi kalimat yang jelas dari lesan Beliau. Hanya “racauannya” yang sering tergumamkan karena suhu badannya makin meninggi. Pada masa kritis Beliau itu, ketika nafasnya agak reda, Alhamdulillah saya sempat mendengar beliau melafatkan kalimah syahadah lengkap, “La ilaha illa Allah, Muhammadar Rasulullah....” beberapa kali. Hingga akhirnya menjelang subuh dinihari, beliau kapundut Gusti Allah, kondur sowan ke keharibaan Rabb Yang Maha Penyayang.
Maka bertahun-tahun, saya bertekat mengumpulkan data nama-nama Saudara, baik dari jalur Ayahanda, maupun dari jalur ibunda saya. Ketika mahasiswa pun saya sangat hobbi menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan seharian penuh mendekam di dalam Perpus Kampus Fakultas Sastra UGM untuk membaca berbagai referensi sekaligus melacak jejak para leluhur kami. Alhamdulillah, berbekal cerita keluarga yang sering didongengkan ibunda saya dan referensi sejarah yang berhasil saya kumpulkan semakin tergambar peta keturunan siapakah sebenarnya ibunda saya tercinta ini.
Di Kampus Bulaksumur, berbagai dinamika, kubangan aktivitas, ujian, dan kendala menghiasi kehidupan sekaligus menempa kepribadian saya. Hingga dengan susah payah lagi berkepanjangan, pada tahun 1994 Alhamdulillah... wasiat ibunda yang pertama menjadi Sarjana Sastra Indonesia akhirnya tergapai juga. Namun, kesibukan saya sebagai aktivis sosial dan karyawan administratif membuat tak sempat menuntaskan hasil pelacakan sedulur para leluhur seperti yang diwasiatkan Beliau. Hingga menjelang masa pensiun, pada 2023, ketika usia saya sudah mencapai 58 tahun, seperti ada api energi yang menyala kembali untuk berikhtiar menunaikan wasiyat ibunda saya yang kedua, “Melacak Sedulur Para Leluhur” di Jogja.
Jika dikroscek dengan cerita-cerita keluarga yang saya peroleh, maka dapat dirangkai silsilah yang dulu sengaja disembunyikan di masa Penjajahan. Ibunda: Hj. Sulasmini (dan saudara-saudaranya) putri Mbah Siti Kasiyah (yang menikah dengan Mbah Wongso Saini). Mbah Siti Kasiyah putri Mbah R. Ngt. Sarikem (yang menikah dengan Demang Krusukan [Ploso Kerep], Janti, Papar, Kediri). Mbah R. Ngt. Sarikem putri Eyang Pangeran Papak Putri, R.A. Ratna Sukinah (yang menikah dengan Ki Greneng, Keludan, Barat Papar). Eyang Putri R.A. Ratna Sukinah putri KGPA Mangkudiningrat bin Sultan Hamengku Buwono II. Sedangkan Ibunda Eyang Putri, R.A. Ratna Sukinah adalah R.A. Kustinah (B.R.Ay. Jaya Kusuma) binti R.A. Kustilah Wulaningsih Retno Edi alias Nyi Ageng Serang yang dikenal masih keturunan Sunan Kalijaga, Kadilangu itu.
Alkisah saat gencar-gencarnya Perang Diponegoro berkecamuk, tepatnya setelah peristiwa Pasukan Diponegoro di Markaz Pertahanan Bekas Keraton Pleret diserang Koalisi Besar Pasukan Belanda, Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Pura Mangkunegaran sehingga pasukan Diponegoro tinggal glanggang kocar-kacir. Mensikapi peristiwa ini, di kalangan prajurit dan di kalangan Ulama pendukung Pangeran Diponegoro muncul perbedaan pendapat. Kyai Mojo, dkk menghendaki perang sabil tetap harus dilanjutkan, sedang Kyai Kasan Besari, dkk dengan ilmu khasaf yang dimilikinya, menganjurkan agar para prajurit pasukan Diponegoro melakukan strategi “laku silem, nandur sawo kecik” (bersembunyi secara diam-diam berdakwah dan membina kader ummat) ke berbagai daerah untuk beberapa kurun waktu.
Pada waktu itu, muncul stategi licik Kompeni Belanda, memanggil Sultan Sepuh, Hamengku Buwono II dari pengasingan untuk dinaikkan kembali menjadi Sultan Yogyakarta. Hal ini membuat para pengikut Pangeran Diponegoro, khususnya cucu-curu Beliau berfikir ulang, karena berarti harus memerangi simbahnya sendiri. Maka menurut Petter Kerry, pada tanggal 12 Juni 1827, Basah R.M. Papak Notoprojo bin KGPA Mangkudiningrat bin Hamengku Buwono II dan beberapa saudaranya memilih menyerah bersama ratusan pasukannya.
Sementara menurut cerita keluarga, tiga orang adik beliau, yakni R.A. Ratna Sukinah (saudara seayah-seibu), R.M. Arya Pakuningprang dan R.M. Arya Papak (saudara seayah-lain ibu), beserta serombongan pasukannya memilih ora sudi (tidak mau) menyerah, serta menjalani “laku silem, nandur sawo kecik” ke wilayah Bang Wetan. Pasukan Belanda pun mengejar mereka hingga sampai daerah Keludan (Barat Kali Brantas, Papar, kini masuk Kecamatan Ngronggot, Nganjuk). Di sini, mereka menggunakan strategi Nyi Ageng Serang: para prajurit Diponegoro itu menutupi diri dengan daun lumbu (talas hijau), sehingga tak kelihatan sosok-sosok mereka. Akhirnya pasukan pengejarnya memutuskan pulang kembali ke Yogyakarta karena mengira rombongan prajurit Diponegoro itu sudah menghilang tak bisa dilacak lagi.
Setelah keadaan dipandang aman dari pengejaran pasukan Belanda tersebut, ringkas ceritanya:
(1) R.A. Sukinah Binti KGPA Mangkudiningrat dinikah oleh Ki Greneng (belum diketahui nama aslinya), anak Demang Keludan (Barat Kali Brantas Papar). Beliau menurunkan seorang putri bernama R. Ngt. Sarikem yang dinikah oleh Demang Krusukan (Ploso Kerep), Janti, Papar (Timur Kali Brantas). Dari pernikahan ini menurunkan: (1) Mbah Saminah (Parerejo, Gedangsewu), (2) Mbah Samirah (Duluran, Gedangsewu), (3) Mbah Samidah (Krusukan—Plososkerep), Mbah Marto Kliwon (Kamitua Krusukan-Plosokerep), Mbah Karsijah (Krusukan—Plososkerep), Mbah Siti Kasiyah (Duluran, Gedangsewu), dan Mbah Padi (Krusukan-Plosokerap, Janti, Papar). Eyang Putri R.A. Ratna Sukinah merupakan leluhur keluarga besar kami semua.
(2) R.M. Arya Pakuningprang bin KGPA Mangkudiningrat akhirnya hijrah ke Wirosari, Grobogan, Jawa Tengah kemudian menikah dengan putri R.M. Somowijoyo (Pangeran Serang II) berganti nama R.M. Danoewikrama hingga meninggal dimakamkan di Desa Kunden, Wirosari, Grobogan. R.M. Danuwikromo berputra di antaranya R.M. Harjodikromo yang menikah dengan R. Ngt. Harjodikromo binti R.M. Haryokusumo, Wedono Wirosari. R.M. Harjodikromo berputra di antaranya R. Soekemi Sastrodiharjo. Beliau ayahanda Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Dari sini terkuak keluarga besar Bung Karno jebule saudara kami semua.
(3) R.M. Arya Papak bin KGPA Mangkudiningrat setelah mengubur pakaian kebangsawanannya di Dusun Balai Kambang, Tanjung, Pagu, Beliau melanjutkan “laku silem” ke Dusun Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar diambil anak angkat oleh guru tarekat, Sayyid Bukhori Mukmin atau yang lebih dikenal dengan nama Kiai Ageng Ponco Suwiryo. Di masa sepuhnya, Beliau hijrah ke Tojo Kidul, Temuguruh, Sempu, Banyuwangi menjadi tokoh spiritual dan mendirikan PAMU (Pirukunan Purwa Ayu Marga Utama) serta beralih nama Ki Ageng R.M. Djoyo Poernomo hingga meninggal dimakamkan di sana. Sampai akhir hayatnya, Beliau tidak pinaringan keturunan.
Adapun serombongan Pasukan pangeran Diponegoro yang ora sudi (tidak mau) menyerah dan memilih “laku silem” itu akhirnya membuka hunian baru, membabat dusun dan desa-desa antara Papar-Pare-Kediri dan daerah-daerah sekitarnya. Dalam membuka hunian baru ini adakalanya dilakukan secara bersama dalam satuan-satuan terkecil Pasukan Diponegoro (setingkat Regu/Peleton) yang dipimpin oleh seorang yang berpangkat “Seh" (Syekh)”. Namun ada kalanya dibabat sendirian, karena sang prajurit tersebut memiliki “kesaktian” yang linuwih. Di duga keras termasuk rombongan pasukan yang “laku silem” ini, di antaranya:
(2) Syekh Zainal Abidin, dkk (9 orang) membabat Dusun Balai Kambang, Desa Tanjung
(3) Syekh Imam Sampurno, dkk (7 orang) membabat Dusun Nggamol, Langenharjo,
Plemanan, Kediri;
(4) Syekh Abdurrahman Al-Jaelani, dkk (9 orang) membabat Dusun Talun, Gedangsewu
(5) Syekh Kyai Nur Wahid, dkk membabat Desa Tulungrejo ("Kampung Inggris"), Pare,
(6) Mbah Kyai Nur Irsyad, membabat Desa Bringin, Badas, Kediri;
(7) Mbah Kyai Nur Shodiq, membabat Dusun Banaran, Tungklur, Badas, Kediri;
(8) Mbah Kyai Nur Aliman, membabat sendirian Dusun Sumbersari, Desa Kencong,
Kepung, Kediri, dan lain-lain.
Dari
rangkaian silsilah dan potongan kisah di atas, jebul keluarga besar kami satu
sisi keturunan Eyang Sultan Sepuh, Hamengku Buwono II bin Eyang Swargi Sri
Sultan Hamengku Buwono I (Pendiri
Kasultanan Nyayogyakarto Hadiningrat). Di
sisi yang lain, juga merupakan keturunan Mbah R. Syahid, Sunan Kalijaga
(Kadilangu) melalui jalur Nyi Ageng Serang bin Pangeran Noto Projo Sedo Jajar (Adipati
Serang) bin Pangeran Wijil II (Pengageng Perdikan Kadilangu IX) bin Pangeran
Wijil I (Pangageng Perdikan Kadilangu VIII) yang juga Kepala Kapujanggan Kesunanan
Kartosuro Hadiningrat. Beliau-lah penulis “Babat
Tanah Jawi-versi tua”, dan penyunting “Serat
Jongko Joyoboyo” yang termashur di kalangan masyarakat Jawa hingga sekarang.
