Rabu, 14 Mei 2025

MBAH KYAI NURWAHID: NASAB, KELUARGA DAN PUTRA WAYAHNYA

Gang Menuju Makam Mbah Kyai Nurwahid

MBAH KYAI NURWAHID:
Nasab, Keluarga, dan Putra-Wayahnya
Oleh: Ki Mas Ilyas Sunnah, Yogyakarta

 

Saya mengenal nama besar Mbah Kyai Nurwahid dari tetangga depan rumah sekaligus Pak RT saya, Pak Mat Ngalim yang berasal dari Desa Tulungrejo, Pare, Kediri. Dari Pak Lem (panggilan akrabnya), saya dapat cerita Mbah Kyai Nur Wahid adalah mantan Prajurit Diponegoro yang “laku silem” (bersembunyi) ke Bang Wetan (Jawa Timur). Beliaulah pembabat Desa Tulungrejo Pare Kediri. Menurut Pak Mat Ngalim pula, pada waktu membabat Desa Tulungrejo, Mbah Kyai Nurwahid “ditolong” dan dibantu oleh santri-santri prajurit Diponegoro yang lain. *_“Tulung soyo bareng-bareng mbabat alas, ben besok dadi rejo”._ Begitulah cerita Pak Mat Ngalem, sehingga desa hasil babatan mereka di kemudian hari, dinamai Desa Tulungrejo. Kini desa ini lebih dikenal sebagai kampung Inggris.

Menurut cerita masyarakat, daerah babatan Mbah Kyai Nurwahid sangat luas membentang dari (dulu) Alun-Alun Pare hingga sampai persawahan di barat dan selatan Masjid Agung An-Nuur Pare sekarang. Sebagaimana desa-desa atau kampung-kampung lain, batas luarnya biasanya penggunakan batas alam berupa rumpun bambu (barongan). Pada beberapa kurun waktu kemudian, lahan alun-alun Pare hasil babatan Beliau ini kini dijadikan Kompleks Pasar Baru, “Pasar Pamenang Pare” serta dijadikan “Lapangan Samsat Kabupaten Kediri di Pare”. Sedangkan lahan di persawahan sebelah barat (di sekitar Masjid Agung An-Nuur) kini menjadi lahan beberapa sekolah, Lapangan/Stadion Chanda Bhirawa Pare, dan lain-lain. Masjid Agung An-Nuur Pare sendiri dibangun di atas tanah waqaf Mbah Kyai Nurwahid seluas 40.000 M2.

Dari Pak Mat Ngalem pula, saya mendapat cerita bahwa Mbah Kyai Nurwahid di awal “laku silem”-nya, pernah dikejar-kejar Pasukan Belanda dan sempat bersembunyi di dalam perut kerbau hingga diselamatkan Allah dari pengejaran Pasukan Belanda tersebut. Mendengar cerita demikian, waktu itu saya terbengong-bengong, *_“Lha koq bisa? Piye carane?”_* Namun, setelah bacaan literasi saya lumayan banyak, saya baru tahu bahwa “ilmu seperti ini” juga dimiliki oleh R.M. Jaka Sangrib (KRT Arung Binang). Putra Paku Buwono I yang terkenal merakyat ini pernah berguru di Pesantren Al-Kahfi, Somolangu, Kebumen.

Pesantren Al-Kahfi, Somolangu dirintis dan diasuh Syekh Abdul Kahfi Al-Awwal dan para keturunannya. Di Pesantren ini selain diajarkan ilmu agama juga diajarkan ilmu kanuragen, di antaranya “ilmu” bisa bersembunyi di dalam perut kerbau, “ilmu” dapat memiliki kendaraan “jin macan putih”,  dan lain-lain. Ciri khas yang lain, pandangan fiqiyah Pesantren ini cenderung “menghindari” alat musik Jawa: gamelan, gong, kenong, dan sebagainya. Konon awal ceritanya, sebenarnya untuk proses edukasi ummat karena pengajaran di Pesantren tersebut sering “terganggu” atau “terkalahkan” oleh pertunjukan wayang dan bunyi-bunyi gamelan Jawa di tengah masyarakat.

Bisa jadi, kemungkinan Mbah Kyai Nurwahid pernah nyantri di Pesantren Al-Kahfi, Somolangu, Kebumen atau kemungkinan kedua, Mbah Kyai Nurwahid pernah berguru atau setidaknya berteman  seorang ulama alumni Pesantren tersebut. Jika demikian, dapatlah dipahami mengapa Mbah Kyai Nurwahid selama hidupnya cenderung “menghindari” alat musik Jawa/Gamelan Jawa. Bahkan, konon pandangan ini dilestarikan oleh sebagian keturunan dan menjadi “pantangan” bagi warga masyarakat Desa Tulungrejo, Pare.

Masih banyak kisah-kisah menarik yang diceritakan Pak Mat Ngalem kepada saya. Maklumlah, Pak Mat Ngalem ini seorang yang berprofesi “bakul jamu keliling”. Beliau terbiasa menjajakan “jamu”-nya dengan dialog yang dibumbui cerita-cerita untuk menarik para pelanggan jamunya. Sungguh, sepanjang kisah yang menyangkut Mbah Kyai Nurwahid waktu itu membuat saya tergagum-kagum terhadap sosok Mbah Kyai Pejuang ini. Apalagi setelah sekolah di SMPN I Pare (barat Chanda Bhirawa) dan SMA Negeri I Pare, saya hampir setiap hari sholat dhuhur di Masjid An-Nuur yang dibangun di atas tanah waqaf Mbah Kyai Nur Wahid tersebut.

Pada perkembangannya, berpuluh-puluh tahun kemudian nama Mbah Kyai Nurwahid seperti tenggelam jauh di luar dinamika kehidupan saya. Hingga saya menjelang memasuki masa pensiun, nama beliau muncul berkibar kembali di hati saya. Bahkan, kali ini jauh merasuk ke lubuk hati terdalam dan menggetarkan seluruh sendi-sendi kehidupan saya. Mbah Kyai yang dikenal bermakom “auliya” ini jebul bernama asli R.M. Ngabehi Joyo Hadiningrat. Nama leluhur dari jalur ayahanda saya yang selama ini saya cari-cari di berbagai referensi dan beberapa belahan lokasi.

Subhanallah.... setelah usia saya 58 tahun, (saat diri harus membatasi melakukan perjalanan fisik) baru ketemu nama simbah wareng saya ini terukir indah di webblog: http://tlrejo.blogspot.com/2012/04/blog-post.html setelah sebelumnya tergambar samar dalam tulisan Gus H.M. Ulin Nuha Azka “Profil dan Sejarah Ilmu Nogososro” di https://nogososro09.com/?PROFIL_DAN_SEJARAH_ILMU_NOGOSOSRO. Penemuan data info ini mendorong kami untuk lebih bertekun diri menelusuri lebih lanjut sedulur para leluhur kami. Alhamdulillah dalam proses ini kami dibersamai oleh teman-teman online yang luar biasa keren-keren: Gus Amin, Gus Boeang, Gus Mahbub Saifudin, Gus M. Soehatta, Mas Jae Wijayanto, Mas Arif Budi Triatmaji, Mas M. Abqori, Mas Irfan Widodo, dan lain-lain.  (Ki MIS).

NASAB MBAH KYAI NURWAHID

            Dari informasi lisan atau cerita keluarga, data-data manuskrip silsilah yang terkait, serta tulisan-tulisan di berbagai web dan webblog terkait yang berhasil kami kumpulkan dapat ditarik garis merah bahwa dalam diri Mbah Kyai Nurwahid mengalir deras darah biru para Raja-Raja/Kasultanan Demak, Pajang, dan Mataram, sekaligus darah putih beberapa anggota Wali Sango, terutama dari jalur putri/ibu.

            Menurut Gus Ulin Nuha Azka, Mbah Kyai Nurwahid (R.M. Ngabehi Joyo Hadiningrat) putra R.M. Hadi Jayengkusumo (Pasir, Mijen, Demak) bin Eyang Putri R.R. Condro Pustiposari yang menikah dengan Mbah Kyai Nur Syahid bin Mbah Kyai Nurhadi (Sunan Mupusan, Pati). Eyang Putri R.R. Condro Pustiposari di jamannya dikenal sebagai keturunan R.A. Retno Jinoli binti Raden Mas Jolang (Sultan Hadi Hanyokrowati, Raja Mataram Kedua: 1601-1613). R.A. Retno Jinoli menikah dengan Syekh Jangkung, R. Syarifuddin/R. Saridin bin Sunan Muria, R. Umar Syahid putra Sunan Kalijaga dengan Syarifah Dewi Sarah binti Sayyid Ali Murtadho (Kakak Sunan Ampel).

            Di sisi lain, Ibunda R.A. Retno Jinoli adalah GKR Dyah Banowati binti Pangeran Benowo (Sultan Prabuwijaya, Raja Pajang III: 1586-1587). Dalam buku-buku sejarah, disebutkan Pangeran Benowo merupakan putra Joko Tingkir (Sultan Hadi Wijaya, Raja Pajang I: 1568-1582) dengan Gusti Kanjeng Ratu Mas Cempoko. Sedang GKR Mas Cempoko adalah putri Sultan Trenggono (Raja Demak III: 1521-1546) dengan Gusti Kanjeng Ratu Pembayun putri Sunan Kalijaga dengan Dewi Sarakah (konon) binti Sunan Gunung Jati. Adapun Sultan Trenggono adalah putra Sultan Patah (Raja Demak I: 1475– 1518) dengan Syarifah Dewi Murthasimah binti Sunan Ampel, R. Rahmat, Surabaya.

         Jika dirunut lebih lanjut dari jalur eyang laki-lakinya, Mbah Kyai Nur Syahid ke atas silsilahnya tersambung hingga R. Bagus Mukmin (Sunan Prawoto) bin Sultan Trenggono sebagai berikut. Mbah KYAI NURWAHID (R.M. NGABEHI JOYO HADININGRAT) bin R.M. HADI JAYENGKUSUMO (Pasir, Mijen, Demak) bin KYAI NUR SYAHID (Pasir, Mijen, Demak) bin KYAI NURHADI (Sunan Mupusan, Pati) bin R. KARTI NOTO bin R. DANDANG KUMBANG bin P. JOYOPRONO bin P. HARYO MADI bin KI AGENG PERWITO NGARDIN (Klaten) bin SUNAN PRAWOTO/R. BAGUS MUKMIN bin R. TRENGGONO (Syah Alam Akbar) bin R. FATAH (Tajuddin Abdul Hamid) bin SUNAN LAWU (Brawijaya V).

            Rantai silsilah ini seiring dengan rantai Silsilah MBAH KYAI NURCHASAN (adik tunggal simbah Kyai Nurwahid) yang berasal dari Jebol (Jabal Khoir, Kudus, kini masuk Mayong, Jepara). Mbah Kyai Nurchasan menyusul hijrah Mbah Kyai Nurwahid dan membabat Kampung Tegalsari, Tulungrejo, Pare pada tahun 1835. KYAI NURCHASAN (Tegalsari, Tulungrejo) bin KYAI NURHAMID (Jebol, Kudus kini masuk Mayong, Jepara) bin KYAI NUR SYAHID (Pasir, Mijen, Demak) bin KYAI NURHADI (Sunan Mupusan, Pati) bin R. KARTI NOTO bin R. DANDANG KUMBANG bin P. JOYOPRONO bin P. HARYO MADI bin KI AGENG PERWITO NGARDIN (Klaten) bin SUNAN PRAWOTO/R. BAGUS MUKMIN bin R. TRENGGONO (Syah Alam Akbar) bin R. FATAH (Tajuddin Abdul Hamid) bin SUNAN LAWU (Brawijaya V).

            Rantai silsilah Mbah Kyai Nurwahid diatas juga bertemu dengan silsilah ibunda Mantan Presiden Gus Dur, IBU NYAI HJ. SHOLIHAH sebagai berikut. IBU NYAI HJ. SHOLIHAH binti KYAI BISRI SYAMSURI (Denayar, Jombang) bin KYAI SYAMSURI (Penagon), bin KYAI MUHAMMAD ROIS (Jebol) bin KYAI ABDUL GHANI (Jebol) bin KYAI HASAN BASRI (Jebol) bin KYAI MARCHUM bin KYAI YUNUS (Nglau) bin KYAI  NUR SYAHID (Pasir, Mijen, Demak) bin KYAI NUR HADI (Sunan Mupusan Pati) bin R. KARTI NOTO bin R. DANDANG KUMBANG bin P. JOYOPRONO bin P. HARYO MADI bin KI AGENG PERWITO NGARDIN (Klaten) bin SUNAN PRAWOTO/R. BAGUS MUKMIN bin R. TRENGGONO (Syah Alam Akbar) bin R. FATAH (Tajuddin Abdul Hamid) bin SUNAN LAWU (Brawijaya V).

 

*SILSILAH MBAH KYAI NURWAHID*
*(R.M. NGABEHI JOYO HADININGRAT)*
 *Pembabat Desa Tulungrejo, Pare, Kediri, Jatim.*
 
*MBAH R. SYAHID/Sunan Kalijaga*
Pengangeng Perdikan/Pesantren Kadilangu, Demak,
menikah dengan Syarifah Dewi Sarakah binti Sunan Gunung Jati       
berputra di antaranya:
 
*GUSTI KANJENG RATU PEMBAYUN*.
Permaisuri Sultan Trenggono bin Sultan R. Patah
(Sultan Demak III: 1521-1546)
berputra diantaranya:
 
*GUSTI KANJENG RATU MAS CEMPOKO*
Permaisuri Sultan Hadiwijaya/Joko Tingkir
(Sultan Pajang I: 1568-1582)
berputra diantaranya:
 
*PANGERAN BENOWO/SULTAN PRABUWIJAYA*
(Raja Pajang III: 1586-1587)
berputra di antaranya:
 
*GUSTI KAJENG RATU HADI/DYAH BANOWATI*
Permaisuri Sultan Hadi Hanyakrawati (Raden Mas Jolang)
(Raja Mataram II: 1601-1613) berputra diantaranya:
 
*R.A. RETNO JINOLI (KAKAK SULTAN AGUNG)*
Istri Keempat Syekh Jangkung R. Syarifudin/R. Saridin, Londoh, Kajen, Pati
(Putra Sunan Muria dengan Dewi Sujinah binti Sunan Ngudung, Kudus)
berketurunan di antaranya:*
 
*R.R. CONDRO PUSPITOSARI*
Menikah dengan Kyai Nur Syahid di Pasir, Mijen, Demak
(Putra Kyai Nurhadi, Sunan Mupusan, Pati)
berputra di antaranya:
 
*R.M. HADI JAYENGKUSUMO
Pengageng Desa Pasir, Mijen, Demak,
berputra di antaranya:
 
*R.M. NGABEHI JOYO HADININGRAT (MBAH KYAI NURWAHID)*
Pembabat Desa Tulungrejo, Pare, Kediri.

      Di Desa Pasir, Mijen, Demak, Mbah Kyai Nurwahid (R.M. Ngabehi Joyo Hadiningrat) memiliki seorang adik bernama (Mbah Buyut) Abdulloh Hasyim Bin Hadi Kusumo (Nama lengkapnya R.M. Hadi Jayeng Kusumo) bin Mbah Kyai Nur Syahid yang menikah dengan R.R. Condro Puspitosari  (Keturunan Mas Jolang, Raja Mataram). Keluarga bani keturunan Mbah Buyut Pasir ini, sebagian besar masih bermukim di Desa Pasir, Mijen, Demak dan sebagian lagi menyebar ke berbagai daerah untuk mengembangkan lahan kehidupan dan berdakwah menyebarkan agama Islam. 

KELUARGA MBAH KYAI NURWAHID

         Mbah Kyai Nurwahid alias R.M. Ngabehi Joyo Hadiningrat terlahir di Keluarga bangsawan (ningkrat) R.M. Hadi Jayengkusumo di daerah Pasir (Negarin), Mijen, Demak. Neneknya, R.R. Condro Puspitosari dikenal sebagai keturunan R.A. Retno Jinoli binti Raden Mas Jolang/Sultan Hadi Hanyokrowati (Raja Mataram II: 1601-1613) dengan permaisurinya GKR Hadi/Dyah Banowati binti Pangeran Benowo/Sultan Prabuwijaya (Raja Pajang III: 1586-1587).

Selain dikenal sebagai bangsawan keturunan Mataram, keluarga Mbah Kyai Nurwahid dihormati masyarakatnya juga karena keluarga ulama. Kakeknya, Kyai Nur Syahid dikenal sebagai seorang da`i penyebar dakwah Islam di Desa Pasir, Mijen, Demak dan sekitarnya. Beliau jugalah perintis pembukaan daerah pesisir (pantai berpasir) ini menjadi kampung hunian (Desa Pasir) dan pelopor pembuatan lahan persawahan dan pertanian di desa yang dibentengi oleh dua sungai: Kali Wulan di sisi utara dan Kali Dudukan di sisi selatan ini.

Masa kecil Mbah Kyai Nurwahid dihabiskan di kampung halamannya, Desa Pasir, Mijen, Demak. Belajar mengaji Al-Quran dan mendalami agama Islam dibimbing langsung oleh Kakek Beliau, Mbah Kyai Nur Syahid. Sedang “ilmu kanuragen” Beliau didapat dari neneknya, Eyang Putri R.R. Condro Puspitosari yang pernah nyantri di Perdikan/Pesantren Kadilangu, Demak serta secara laduni mewarisi “Ilmunya” Syekh Jangkung, R. Syarifuddin/R. Saridin bin Sunan Muria bin Sunan Kalijaga.

        Jika dianalisis, jumhur keturunan Mbah Raden Syahid/Sunan Kalijaga senantiasa akrab dengan kesenian, khususnya wayang dan musik Gamelan Jawa, karena Sunan Kalijaga dikenal sebagai seorang wali yang menekuni dakwah dengan pendekatan budaya, khususnya wayang, kidung, tembang macapat dan tembang dolanan.  Namun pandangan fiqih Mbah Kyai Nurwahid memilih “menjauhi” wayang dan musik gamelan Jawa. Oleh karena itu, diduga keras Mbah Kyai Nurwahid kemungkinan pernah nyantri di Pesantren Al-Kahfi, Somolangu, Kebumen atau kemungkinan kedua, Mbah Kyai Nurwahid pernah berguru atau setidaknya berteman  seorang ulama alumni Pesantren tersebut, mengingat pandangan fiqiyah Pesantren Al-Kahfi, Somolangu, Kebumen cenderung “menjauhi” alat musik Jawa, Gamelan dan pertunjukan wayang.

Lalu siapakah guru atau teman Beliau dalam hal ini? Analisis kemungkinan terdekat adalah Syekh Abdurrahman Al-Jaelani Al-Kahfi, pimpinan kesatuanan terkecil (Regu) Laskar Pengeran Diponegoro yang membabat Dusun Talun, Gedangsewu, Pare. Apalagi lokasi kampung ini berada di selatan persis Desa Tulungrejo, Pare. Antara kedua kampung ini hanya dipisahkan persawahan dan dibatasi rumpun bambu (barongan) di bantaran Kali Serinjing, yang berada di sisi selatan Kota Pare sekarang. Wallahu a`laam.

Pada kurun berikutnya, daerah Alas Kali Bening yang berada di selatan Kali Serinjing (Sisi Selatan Pare), biidznillah ditakdirkan dibabat dijadikan hunian baru oleh Mbah Kyai Munasib (dari Karang Nanding, Demak) dan Mbah Kasan Rejo (dari dari Kauman, Madiun). Keduanya santri dari Pesantren Gebang Tinalar, Tegalsari (Pesantrennya Kyai Kasan Besari), Ponorogo yang ditugasi Kyai-nya untuk berdakwah dan membuka daerah hunian baru di sekitar Alas Kali Bening.

Ketika hendak menunaikan tugasnya, kedua santri tersebut terlebih dahulu bersilaturrahim ke kakak seniornya sesama santri Tegalsari, yakni Kyai Yusuf Sholeh, di Pondok Pesantren Salafiyah Al-Ishlah, Banaran, Tungklur. Di pesantren inilah keduanya bertemu Mbah Sri (Mbah Sambung Putri), Mbah (Lurah) Muntari, Mbah Marjuki, Mbah Nur Salam, dan Mbah Hambali yang sedang bersembunyi dari incaran Pemerintah Hindia Belanda. Kelima nama terakhir ini adalah putra-putri Kyai Thohir (Mbah Payak Sanggrok), Rejoagung, Ngoro, Jombang. Kyai Thohir (Mbah Payak Sanggrok) ini putra Mbah Kyai Nurwahid dengan istri keduanya dari Banaran, Tungklur. Mereka akhirnya ikut bergabung membabat bersama Alas Kali Bening menjadi hunian baru yang kemudian dikenal dengan nama Dusun/Desa Gedangsewu.   


PARA PUTRA-WAYAH MBAH KYAI NURWAHID

            Sepanjang kehidupan Mbah Kyai Nurwahid (R.M. Ngabehi Joyo Hadiningrat), Pembabat Desa Tulungrejo, Pare, pinaringan menikah dengan tiga istri. Dalam tulisan “Sejarah Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri”, Minggu,  15 April 2012, via Webblog: http://tlrejo.blogspot.com/2012/04/blog-post.html, keluarga inti Mbah Kyai Nurwahid digambarkan sebagai berikut.  

1. Dengan istri pertama, MBAH KYAI NURWAHID berputra MBAH KYAI IMAM PURO, Lurah Pertama Desa Tulungrejo, Pare. Menikah dengan Mbah Nyai Imam Puro, tinggal di Tulungrejo, Pare, berputra:
1.1 MBAH K.H. IMAM AHMAD, Tulungrejo, Pare;
1.2 MBAH K.H. IMAM AFRANJI, Tulungrejo, Pare;
1.3 MBAH K.H. IMAM ACHYAR, Tulungrejo, Pare;
1.4 MBAH K.H. IMAM SALMAN, Tulungrejo, Pare. 


2. Dengan istri Kedua, Putri Mbah Nur Shodiq bin Mbah Bei Hasan Besari, pembabat Dusun Banaran, Tungklur, Badas berputra MBAH KYAI THOHIR (MBAH PAYAK SANGGROK), Rejo Agung, Ngoro; Jombang. Menikah dengan Nyai Zubaidah dari Keluarga Pesantren Josermo, Surabaya berputra:
2.1 MBAH K.H. SULAIMAN, Sindon, Trimulyo, Guntur, Demak, Jawa Tengah;
2.2 MBAH SRI (MBAH SAMBUNG PUTRI), Gedangsewu, Pare;
2.3 MBAH H. MUNTARI, (Lurah Pertama) Desa Gedangsewu, Pare;
2.4 MBAH H. MARZUKI, Gedangsewu, Pare;
2.5 MBAH H. NUR SALAM, Gedangsewu, Pare;
2.6 MBAH H. HAMBALI, Gedangsewu, Pare. Kemudian hijrah ke daerah yang lebih timur membabat Desa Krai, Yosowilangun, Lumajang, Jawa Timur. Setelah beberapa kurun waktu, salah satu cucunya bernama MBAH SLAMET pulang kampung ke Payak Sanggrok, Rejoagung, Ngoro, Jombang. MBAH SLAMET berputra MBAH PAIMIN SLAMET  (MBAH MIN) yang menjadi Juru Kunci Makam Keluarga  Mbah Payak Sanggrok hingga wafatnya. 


3. Dengan istri ketiga, Mbah Nyai Markhonah berputra MBAH NYAI ZAENAB. Mbah Nyai Zaenab menikah dengan Kyai M. Sholeh, asal Carangwulung, dan tinggal di Carangwulung, Wonosalam, Jombang. Putra-putri beliau sebagai berikut.
3.1 Mbah Niti Muso, Carangwulung, Wonosalam, Jombang. Menikah dengan belum diketahui namanya.
3.2  Mbah Irsyad, Carangwulung, Wonosalam, Jombang. Menikah dengan Mbah Murlin, berputra:
        3.2.1  Kasmirah, Carangwulung, Wonosalam, Jombang
        3.2.2  Kardi, Carangwulung, Wonosalam, Jombang;
        3.2.3  Karmin, Carangwulung, Wonosalam, Jombang;
        3.2.4  Kasri, Carangwulung, Wonosalam, Jombang
3.3 Mbah Mustajab, Carangwulung, Wonosalam, Jombang. Menikah dengan nama istri dan keturunannya belum terdata.

Para cucu-buyut-canggah keturunan dari ketiga putra-putri Mbah Kyai Nurwahid hingga generasi keempat tidak sempat saling berkomunikasi secara terbuka, karena diduga keras hubungan kekerabatan ini pada awalnya sengaja disembunyikan demi keamanan di masa penjajahan. Alhamdulillah, pada generasi kelima jalinan ukhuwwah-merajut kembali balong pisah tersebut kini sudah mulai dirintis, meski pada saat ini baru sebatas komunikasi online. Semoga ke depan biidznillah wabirahmatillah Allah SWT berkehendak mengumpulkan seluruh cabang keluarga besar trah Mbah Kyai Nurwahid dalam reuni bersama di Masjid Agung An-Nuur Pare yang luas, megah, dan damai dinaugi harmoni gaya arsitektur tradisional dan arsitektur modernis tersebut. Aamiiin.

Satu hal yang tidak terlewatkan, pada umumnya para putra-wayah keturunan Mbah Kyai Nurwahid berikhtiar melanjutkan visi misi Beliau untuk “laku silem, nandur sawo kecik” (Diam-diam tetap berjuang menanam dan menebarkan kebaikan di tengah masyarakatnya).  Apapun profesi para keturunan Beliau biasanya tidak lupa selalu berjuang “mangku Masjid” (turut mengurus Masjid) atau “mangku Pesantren” (menjadi pengelola pondok pesantren). Atau setidak-tidaknya ikut berpartisipasi “mangku TPA” (mengelola Taman Pendidikan Al-Qur`an) di kampung masing-masing. Wallahu a`laam.


     Yogyakarta, Rabu Legi, 16 Dzilqo`dah 1446 H

                                              14 Mei 2025 M 

Sumber Referensi:


1.   “Sejarah Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri”, Minggu, 15 April 2012, via Webblog: http://tlrejo.blogspot.com/2012/04/blog-post.html.

 

2.    “Profil dan Sejarah Ilmu Nogososro”, Gus H.M. Ulin Nuha Azka (HP 0815-6636-622) bin K.H. Asnawi, bin Hj. Nikmah (istri K. Abdul Kariem) binti K.H. Sholeh bin K. Sulaiman-Sindon, Trimulyo, Guntur, Demak bin K. Thohir (Mbah Payak Sanggrok)-Rejoagung, Ngoro, Jombang bin K. Nurwahid-Tulungrejo, Pare, Kediri, Jawa Timur. (Sumber: https//nogososro09.com/?PROFIL_DAN_SEJARAH_ILMU_NOGOSOSRO)

 

3.  “Cerita Lisan” Almarhum Kyai Amrin-Wonosalam-Demak bin K.H. Sholeh Sindon, bin K.H. Sulaiman-Sindon, Trimulyo, Guntur, Demak bin K. Thohir (Mbah Payak Sanggrok)-Rejoagung, Ngoro, Jombang bin K. Nurwahid-Tulungrejo, Pare, Kediri di rumah H. Nurhamid, Gedangsewu pada Kamis, 26 Desember 1985.


4.    “Silsilah Kerabat Bani Sulaiman”, disusun oleh Gus Ahmad Soenhaji bin Kyai Amrin bin K.H. Sholeh bin K. Sulaiman-Sindon, Trimulyo, Guntur, Demak bin K. Thohir (Mbah Payak Sanggrok)-Rejoagung, Ngoro, Jombang bin K. Nurwahid-Tulungrejo, Pare, Kediri. Kini Gus Soenhaji carik (sekretaris desa) Desa Kalianyar, Wonosalam, Demak.

 

5. “Melacak Sedulur Para Leluhur Jogja”, (https://babadkalasuba.blogspot.com/ 2025/04/melacak-sedulur-para-lelehur.html) Ki Mas Ilyas Sunnah (HP 0831-2825-7618) bin H. Nurhamid bin Hj. Samidah, binti H. Nur Salam-Gedangsewu, Pare, Kediri bin Kyai Thohir (Mbah Payak Sanggrok)-Rejoagung, Ngoro, Jombang bin Kyai Nur Wahid-Tulungrejo, Pare, Kediri.


6. *Asy-Syayid Thoyyib Thohir & K.H. Syamsuri",* Oleh Nur Amin bin Abdurrahman via  http://nuraminweb.blogspot.com/2012/07/sejarah-penagon-nalumsari-jepara.html dan tulisan Admin Dawuh Guru, *"Biografi Lengkap KH Bisri Syansuri Beserta Ajarannya"* Dawuh Guru, Maret 24, 2022 (via https://dawuhguru.co.id/biografi-lengkap-kh-bisri-syansuri-beserta-ajarannya/)

 


Rabu, 09 April 2025

MELACAK SEDULUR PARA LELUHUR JOGJA

Oleh: Ki MIS Mangkudiningrat

Di Antara Leluhur Keluarga Besar Kami
 

         Menjelang akhir hayat Kanjeng Emak Hj. Sulasmini Binti Wongso Saini-Siti Kasiyah, ketika berbaring lemah di kamar depan, dalam kondisi “krengosan” menahan cengkraman asma akut dan pembengkakan jantungnya yang makin parah, terdengar wasiyat terakhirnya, “Le tutukno cita-citamu dadi sarjana Le. Golekono dulur-dulurmu ning Jogja ya Le.” “Insya Allah Mak...”, jawab saya untuk menenangkan Beliau yang sudah tak berdaya itu.

 Setelah sampai di RSUD Kabupaten Kediri di Pelem, Pare, praktis tak terdengar lagi kalimat yang jelas dari lesan Beliau. Hanya “racauannya” yang sering tergumamkan karena suhu badannya makin meninggi. Pada masa kritis Beliau itu, ketika nafasnya agak reda, Alhamdulillah saya sempat mendengar beliau melafatkan kalimah syahadah lengkap, “La ilaha illa Allah, Muhammadar Rasulullah....” beberapa kali. Hingga akhirnya menjelang subuh dinihari, beliau kapundut Gusti Allah, kondur sowan ke keharibaan Rabb Yang Maha Penyayang.

            Maka bertahun-tahun, saya bertekat mengumpulkan data nama-nama Saudara, baik dari jalur Ayahanda, maupun dari jalur ibunda saya. Ketika mahasiswa pun saya sangat hobbi menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan seharian penuh mendekam di dalam Perpus Kampus Fakultas Sastra UGM untuk membaca berbagai referensi sekaligus melacak jejak para leluhur kami. Alhamdulillah, berbekal cerita keluarga yang sering didongengkan ibunda saya dan referensi sejarah yang berhasil saya kumpulkan semakin tergambar peta keturunan siapakah sebenarnya ibunda saya tercinta ini.

         Di Kampus Bulaksumur, berbagai dinamika, kubangan aktivitas, ujian, dan kendala menghiasi kehidupan sekaligus menempa kepribadian saya. Hingga dengan susah payah lagi berkepanjangan, pada tahun 1994 Alhamdulillah... wasiat ibunda yang pertama menjadi Sarjana Sastra Indonesia akhirnya tergapai juga. Namun, kesibukan saya sebagai aktivis sosial dan karyawan administratif membuat  tak sempat menuntaskan hasil pelacakan sedulur para leluhur seperti yang diwasiatkan Beliau. Hingga menjelang masa pensiun, pada 2023, ketika usia saya sudah mencapai 58 tahun, seperti ada api energi yang menyala kembali untuk berikhtiar menunaikan wasiyat ibunda saya yang kedua, “Melacak Sedulur Para Leluhur” di Jogja.               

Alhamdulillah, biidznillah lumantar bantuan Mbah Google, akhirnya saya temukan potongan tulisan Petter Kerry, tentang putra-putri KGPA Mangkudiningrat bin Sultan Hamengku Buwono II. Tertulis juga dalam web: https://id.rodovid.org/wk/Orang:363305 dengan keterangan edited by: RE. Suhendar Indonesia http://www.royalark.net/Indonesia/yogya5.htm.  Informasi inilah yang menjadi referensi pemandu utama, sehingga semakin jelas keturunan siapakah Almarhumah ibunda saya tercinta itu. Namun, untuk mengklarifikasi ke pihak-pihak yang berkait rasanya butuh nyali dan keteguhan diri, mengingat jebule menyangkut nama tokoh-tokoh besar yang melahirkan keturunan beberapa pahlawan nasional.

          Jika dikroscek dengan cerita-cerita keluarga yang saya peroleh, maka dapat dirangkai silsilah yang dulu sengaja disembunyikan di masa Penjajahan. Ibunda: Hj. Sulasmini (dan saudara-saudaranya) putri Mbah Siti Kasiyah (yang menikah dengan Mbah Wongso Saini). Mbah Siti Kasiyah putri Mbah R. Ngt. Sarikem (yang menikah dengan Demang Krusukan [Ploso Kerep], Janti, Papar, Kediri). Mbah R. Ngt. Sarikem putri Eyang Pangeran Papak Putri, R.A. Ratna Sukinah (yang menikah dengan Ki Greneng, Keludan, Barat Papar). Eyang Putri R.A. Ratna Sukinah putri KGPA Mangkudiningrat bin Sultan Hamengku Buwono II. Sedangkan Ibunda Eyang Putri, R.A. Ratna Sukinah adalah R.A. Kustinah (B.R.Ay. Jaya Kusuma) binti R.A. Kustilah Wulaningsih Retno Edi alias Nyi Ageng Serang yang dikenal masih keturunan Sunan Kalijaga, Kadilangu itu.

Alkisah saat gencar-gencarnya Perang Diponegoro berkecamuk, tepatnya setelah peristiwa Pasukan Diponegoro di Markaz Pertahanan Bekas Keraton Pleret diserang Koalisi Besar Pasukan Belanda, Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Pura Mangkunegaran sehingga pasukan Diponegoro tinggal glanggang kocar-kacir. Mensikapi peristiwa ini, di kalangan prajurit dan di kalangan Ulama pendukung Pangeran Diponegoro muncul perbedaan pendapat. Kyai Mojo, dkk menghendaki perang sabil tetap harus dilanjutkan, sedang Kyai Kasan Besari, dkk dengan ilmu khasaf yang dimilikinya,  menganjurkan agar para prajurit pasukan Diponegoro melakukan strategi “laku silem, nandur sawo kecik” (bersembunyi secara diam-diam berdakwah dan membina kader ummat) ke berbagai daerah untuk beberapa kurun waktu.

Pada waktu itu, muncul stategi licik Kompeni Belanda, memanggil Sultan Sepuh, Hamengku Buwono II dari pengasingan untuk dinaikkan kembali menjadi Sultan Yogyakarta. Hal ini membuat para pengikut Pangeran Diponegoro, khususnya cucu-curu Beliau berfikir ulang, karena berarti harus memerangi simbahnya sendiri. Maka menurut Petter Kerry, pada tanggal 12 Juni 1827, Basah R.M. Papak Notoprojo bin KGPA Mangkudiningrat bin Hamengku Buwono II dan beberapa saudaranya memilih menyerah bersama ratusan pasukannya. 

Sementara menurut cerita keluarga, tiga orang adik beliau, yakni R.A. Ratna Sukinah (saudara seayah-seibu), R.M. Arya Pakuningprang dan R.M. Arya Papak (saudara seayah-lain ibu), beserta serombongan pasukannya memilih ora sudi (tidak mau) menyerah, serta menjalani “laku silem, nandur sawo kecik” ke wilayah Bang Wetan. Pasukan Belanda pun mengejar mereka hingga  sampai daerah Keludan (Barat Kali Brantas, Papar, kini masuk Kecamatan Ngronggot, Nganjuk). Di sini, mereka menggunakan strategi Nyi Ageng Serang: para prajurit Diponegoro itu menutupi diri dengan daun lumbu (talas hijau), sehingga tak kelihatan sosok-sosok mereka. Akhirnya pasukan pengejarnya memutuskan pulang kembali ke Yogyakarta karena mengira rombongan prajurit Diponegoro itu sudah menghilang tak bisa dilacak lagi.

           Setelah keadaan dipandang aman dari pengejaran pasukan Belanda tersebut, ringkas ceritanya:

(1) R.A. Sukinah Binti KGPA Mangkudiningrat dinikah oleh Ki Greneng (belum diketahui nama aslinya), anak Demang Keludan (Barat Kali Brantas Papar). Beliau menurunkan seorang putri bernama R. Ngt. Sarikem yang dinikah oleh Demang Krusukan (Ploso Kerep), Janti, Papar (Timur Kali Brantas). Dari pernikahan ini menurunkan: (1) Mbah Saminah (Parerejo, Gedangsewu), (2) Mbah Samirah (Duluran, Gedangsewu), (3) Mbah Samidah (Krusukan—Plososkerep), Mbah Marto Kliwon (Kamitua Krusukan-Plosokerep), Mbah Karsijah (Krusukan—Plososkerep), Mbah Siti Kasiyah (Duluran, Gedangsewu), dan Mbah Padi (Krusukan-Plosokerap, Janti, Papar).  Eyang Putri R.A. Ratna Sukinah merupakan leluhur keluarga besar kami semua.

(2) R.M. Arya Pakuningprang bin KGPA Mangkudiningrat akhirnya hijrah ke Wirosari, Grobogan, Jawa Tengah kemudian menikah dengan putri R.M. Somowijoyo (Pangeran Serang II) berganti nama R.M. Danoewikrama hingga meninggal dimakamkan di Desa Kunden, Wirosari, Grobogan. R.M. Danuwikromo berputra di antaranya R.M. Harjodikromo yang menikah dengan R. Ngt. Harjodikromo binti R.M. Haryokusumo, Wedono Wirosari. R.M. Harjodikromo berputra di antaranya R. Soekemi Sastrodiharjo. Beliau ayahanda Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Dari sini terkuak keluarga besar Bung Karno jebule saudara kami semua.

(3) R.M. Arya Papak bin KGPA Mangkudiningrat setelah mengubur pakaian kebangsawanannya di Dusun Balai Kambang, Tanjung, Pagu, Beliau melanjutkan “laku silem” ke Dusun Mbrebesmili Santren, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar diambil anak angkat oleh guru tarekat, Sayyid Bukhori Mukmin atau yang lebih dikenal dengan nama Kiai Ageng Ponco Suwiryo. Di masa sepuhnya, Beliau hijrah ke Tojo Kidul, Temuguruh, Sempu, Banyuwangi menjadi tokoh spiritual dan mendirikan PAMU (Pirukunan Purwa Ayu Marga Utama) serta beralih nama Ki Ageng R.M. Djoyo Poernomo hingga meninggal dimakamkan di sana. Sampai akhir hayatnya, Beliau tidak pinaringan keturunan.

        Adapun serombongan  Pasukan pangeran Diponegoro  yang ora sudi (tidak mau) menyerah dan memilih “laku silem” itu akhirnya membuka hunian baru, membabat dusun dan desa-desa antara Papar-Pare-Kediri dan daerah-daerah sekitarnya. Dalam membuka hunian baru ini adakalanya dilakukan secara bersama dalam satuan-satuan terkecil Pasukan Diponegoro (setingkat Regu/Peleton) yang dipimpin oleh seorang yang berpangkat “Seh" (Syekh)”. Namun ada kalanya dibabat sendirian, karena sang prajurit tersebut memiliki “kesaktian” yang linuwih. Di duga keras termasuk rombongan pasukan yang “laku silem” ini, di antaranya:

(1)  Syekh Hasan Muladi, dkk, membabat Dusun Janti, Janti, Papar, Kediri;  
(2)  Syekh Zainal Abidin, dkk (9 orang) membabat Dusun Balai Kambang, Desa Tanjung
       Pagu, Kediri;
(3)  Syekh Imam Sampurno, dkk (7 orang) membabat Dusun Nggamol, Langenharjo,
       Plemanan, Kediri;
(4)  Syekh Abdurrahman Al-Jaelani, dkk (9 orang) membabat Dusun Talun, Gedangsewu
       Pare, Kediri;
(5)  Syekh Kyai Nur Wahid, dkk membabat Desa Tulungrejo ("Kampung Inggris"), Pare,
       Kediri;
(6)  Mbah Kyai Nur Irsyad, membabat Desa Bringin, Badas, Kediri;
(7)  Mbah Kyai Nur Shodiq, membabat Dusun Banaran, Tungklur, Badas, Kediri;
(8)  Mbah Kyai Nur Aliman, membabat sendirian Dusun Sumbersari, Desa Kencong,
       Kepung, Kediri, dan lain-lain.                                                                                                              
         Dusun Gedangsewu, Pare, Kediri (kampung halaman kami) yang sebelumnya dikenal sebagai “Alas Kali Bening” baru dibabat pada kurun  berikutnya oleh  Mbah Kyai Munasib dan Mbah Kasan Rejo (Keduanya santri Pesantren "Gebang Tinalar" Tegalsari) serta rombongan Mbah Sri (Mbah Sambung Putri), Mbah Muntari, Mbah Marjuki, Mbah Nur Salam, dan Mbah Hambali. Lima nama terakhir adalah cucu-cucu Mbah Kyai Nur Wahid (prajurit Diponegoro/pembabat Desa Tulungrejo, [kampung Inggris], Pare, Kediri). Mereka putra-putri Mbah Kyai Thohir (=Mbah Payak Sanggrok), yang tinggal, berdakwah, dan membina masyarakat Payak Sanggrok hingga meninggal dimakamkan di Dusun Payak Sanggrok, Rejoagung, Ngoro, Jombang. Mbah Payak Sanggrok ini putra Mbah Kyai Nur Wahid dengan istri keduanya dari Banaran, Tungklur (Badas, Kediri).

Dari rangkaian silsilah dan potongan kisah di atas, jebul keluarga besar kami satu sisi keturunan Eyang Sultan Sepuh, Hamengku Buwono II bin Eyang Swargi Sri Sultan Hamengku Buwono I  (Pendiri Kasultanan Nyayogyakarto Hadiningrat).  Di sisi yang lain, juga merupakan keturunan Mbah R. Syahid, Sunan Kalijaga (Kadilangu) melalui jalur Nyi Ageng Serang bin Pangeran Noto Projo Sedo Jajar (Adipati Serang) bin Pangeran Wijil II (Pengageng Perdikan Kadilangu IX) bin Pangeran Wijil I (Pangageng Perdikan Kadilangu VIII) yang juga Kepala Kapujanggan Kesunanan Kartosuro Hadiningrat. Beliau-lah penulis “Babat Tanah Jawi-versi tua”, dan penyunting “Serat Jongko Joyoboyo” yang termashur di kalangan masyarakat Jawa hingga sekarang.

 Subhanallah.... ternyata leluhur kami orang-orang shaleh yang hebat-hebat. Beliau-Beliau Alhamdulillah  telah berjuang dan berperan besar dalam mengukir sejarah bangsa di jamannya masing-masing. Sedangkan kami.... hanyalah sekumpulan wong ndeso yang biasa-biasa saja.... Semoga Allah SWT mengampuni anak-cucu keturunan Beliau-Beliau ini dan membimbing kami semua istiqamah menapaki bingkai kepribadian dan garis perjuangan luhur para tokoh-tokoh leluhur kami tersebut.  

 Allahumma rahmataka arju. Walaa takilna `ala nafsina thorfata aina. Wa aslihlana sya`ni kullah. La ilaha illa Anta.  “Ya Allah rahmat-Mu senantiasa kami harapkan. Dan jangan Engkau serahkan urusan kami pada diri kami sendiri meski sekejab mata. Dan perbaikilah kami dalam segala sisi. (Sungguh) Tiada sesembahan yang patut disembah selain Engkau.” Ya Rahman... Ya Rahiiim.... Allahumma Aamiiin. (Ki MIS)