Rabu, 23 Oktober 2024

PRINSIP-PRINSIP DALAM MENELUSUR SEDULUR PARA LELUHUR

Dirangkum Oleh: Ki MIS
Ilustrasi: Diantara Para Leluhur (Sumber: Google)


I.      PANDUAN NORMATIF
 
    Allah berfirman:
 
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
 
“Yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ'ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr”
 
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (Q.S. Al-Hujuraat: 13).

Allah juga berfirman:
 
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
 
 
“Fastajāba lahum rabbuhum annī lā uḍī'u 'amala 'āmilim mingkum min żakarin au unṡā, ba'ḍukum mim ba'ḍ, fallażīna hājarụ wa ukhrijụ min diyārihim wa ụżụ fī sabīlī wa qātalụ wa qutilụ la`ukaffiranna 'an-hum sayyi`ātihim wa la`udkhilannahum jannātin tajrī min taḥtihal-an-hār, ṡawābam min 'indillāh, wallāhu 'indahụ ḥusnuṡ-ṡawāb”.
 
“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, *(karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lain.* Maka orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti akan “Aku (Allah) hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah.” Dan di sisi Allah ada pahala yang baik." (Q.S. Ali Imran: 195)
 
    Allah juga berfirman:
 
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
 
 
“Tilka ummatung qad khalat, lahā mā kasabat wa lakum mā kasabtum, wa lā tus`alụna 'ammā kānụ ya'malụn.”
 
“Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah: 134).
 
II.       PRINSIP-PRINSIP DALAM MENELUSUR SEDULUR PARA LELUHUR
 
Setidak-tidaknya ayat-ayat di atas dapat dijadikan prinsip dalam proses “menelusur sedulur para leluhur”.  Maka seyogyakanya kita  berikhtiar menelusur sedulur para leluhur itu dengan prinsip-prinsip yang dilandasi ayat-ayat qauli di tersebut.
 
(1)  Allah menciptakan manusia, lalu menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, ber-keluarga-keluarga itu li-ta`arufu (untuk saling mengenal). Buah ta`aruf (saling mengenal) diharapkan bisa muncul sikap tafahum, saling memahami (atas kondisi dan perbedaan hamba-hamba Allah), serta tumbuh rasa persaudaraan dan kekerabatan di antara mereka. Olehkarena itu, tujuan menelusur sedulur para leluhur harus diarahkan dalam rangka saling mengenal, dan mengeratkan kembali rasa persaudaraan di antara sesama sedulur dan antara orang-orang yang sebenarnya berkerabat itu. Sama sekali, bukan untuk membangga-banggakan diri dan membangga-banggakan leluhur, apalagi sampai mengkultuskan atau “menyembah” mereka. Na`udzubillahi min Dzaalik. Kami berlindung kepada Allah dari hal-hal semacam itu.
 
(2)  Biasanya,  jika leluhur kita seorang ulama, da`i, tokoh pejuang Islam, maka seharusnyalah anak keturunannya juga ada yang menjadi ulama, da`i, dan tokoh pejuang Islam juga. Ibarat pepatah Jawa, “kacang ora bakal ninggal lanjaranne (karakter dan sepak terjang anak cucu mesti seiring dengan karakter dan sepak perjuangan orang tua/leluhurnya. Maka, setelah mengetahui leluhur dan kerabat-kerabatnya, seyogyanya kita meneladani sifat baik dan melanjutkan perjuangan mulia para leluhur kita.
 
(3)  Dalam proses menelusur sedulur para leluhur, dapat menggunakan metode studi pustaka dan arsip: meneliti tulisan tangan (manuskrip), atau ketikan silsilah, tulisan-tulisan di web/webblog, buku cerita-cerita rakyat yang relevan, dan tulisan-tulisan sejarah yang berkaitan. Dapat pula, menggunakan metode lisan: cerita-cerita lisan (khususnya yang berkembang di keluarga-keluarga bani) yang bersangkutan, wawancara tokoh yang mengerti, atau croscek langsung ke tempat-tempat yang berkaitan. Atau cara-cara lain yang lazim diakui kesahihannya.
 
(4)  Dalam proses menelusur sedulur para leluhur, sebaiknyalah kita menahan diri melakukan kritik individu terhadap pribadi leluhur dan sedulur-sedulurnya, karena Allah mengingatkan “Baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan dimintai pertanggungan jawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan”. Olehkarena itu, kita seharusnya lebih menfocuskan pencermatan pada data-data nama, rantai nasab/alur silsilah yang ada serta keterangan-keterangan yang terkait dengan hal-hal tersebut.
 
Begitulah seharusnya sikap kita semua. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk, bimbingan, kesehatan, dan kemudahan dalam ikhtiar mulia “menelusur sedulur para leluhur” kita. Allahumma Aamiiin. (Ki MIS).

Minggu, 20 Oktober 2024

OKTOBER, 59 TAHUN YANG LALU


Ilustrasi: Mbokdhe Tomblok-kurang "susurnya"

OKTOBER, 59 TAHUN YANG LALU

  

Bulan Oktober 59 tahun yang lalu, desaku, Gedangsewu, di Pare, Kediri bagai “udun” yang “jebrot”. Para santri, khususnya para pemuda yang tergabung dalam Banser/GP Anshor Gedangsewu siaga penuh. Semangat dan ghiroh perjuangannya untuk bergerak memuncak. Bagi mereka, saat itulah waktu yang ditunggu-tunggu untuk melakukan pembalasan atas kebiadaban aksi-aksi PKI yang licik, kejam, dan tak berperikemanusiaan. Sebelumnya, Jawa Timur telah diguyur darah ratusan para Kyai dan santri yang disiksa dan dibantai PKI dalam Peristiwa Madiun. Peristiwa 62 Pemuda Anshor yang diracuni oleh Gerwani dan dibunuh secara sadis oleh PKI,, serta dimasukan 3 sumur di Cluring, Banyuwangi turut menggumpalkan “kobaran perlawanan” mereka. 

Sebelum G-30 S/PKI meletus, faktanya sudah didahului dengan provokasi dan aksi-aksi pelecehan dan penodaan agama melalui jaringan kesenian Lekra/PKI. Ludruk Lekra keliling mementaskan “Matine Gusti Allah” di Ngronggo, Kediri, 1964. “Gusti Allah Dadi Manten, di Prambon, 1965. “Rabine Gusti Allah” di Kecamatan Kampak, Trenggalek.  “Gusti Allah Mantu” di Papar, Kediri. “Rabinya Malaikat”, “Gusti Allah Bingung” dan lain-lain. Maka  wajar saja, jika di bulan Oktober 1965 itu suara adzan bergema di jalan-jalan seantero desa. Tanda ada aktivis PKI, manusia tak berketuhanan itu tertangkap dan diakhiri hidupnya.

Waktu itu Ketua/Komandan Banser dijabat oleh Lik Tris (Khoiruddin Sutrisno), adik ibundaku. Algojo Banser yang paling ditakuti orangnya gagah gedhe duwur bernama Kang Atrum, putra Pakdhe H. Thohir, kakak ayahandaku. Sedang Posko Banser berada di rumah bapak/ibuku di barat Masjid Nurus salam, Gedangsewu, karena Lik Tris sejak remaja ikut tinggal di rumah yang penuh koleksi senjata ayahandaku itu.

Ketika terdengar takbir adzan bersautan di berbagi lokasi, di rumah sekaligus Posko Banser/GP Anshor Gedangsewu, lahirlah seorang jabang bayi mungil putra keempat Pak Abdul Hamid dan Ibu Sulasmini. Mbokde Tomblok, sang dukun bayi legendaris Desa Gedangsewu-yang merupakan keturunan Mbah Kyai Nur Wahid, Tulungrejo itu pun beraksi. Dengan cekatan bayi imut itu dibersihkan, lalu dipupus tali ari-arinya, dimandikan pakai air hangat, dan di-“gedong” rapi pakai pakaian khusus bayi.  Bayi yang tadinya nangis kepiyer-piyer itu pun jadi diam tenang. Lalu sang bayi diserahkan kepada ayahandanya untuk dibacai doa. Konon, sang bayi laki-laki ini semakin nyaman ketika diperdengarkan adzan di telinga kanannya dan diperdengarkan iqomah di telinga kirinya. Inilah kearifan simbolis para leluhur, agar sejak hari kelahirannya sang anak sudah mengenal Allah Rabb-nya, Muhammad Rasul-Nya dan terbiasa mendengar panggilan dan perintah-perintah-Nya.

Setelah bayi mungil itu cukup dewasa, baru ibundanya bercerita kepadanya. Pada hari ketiga, ayahandanya dulu membawa sang bayi mungil itu sowan ke Mbah Kyai Kasan Rokhmat, seorang Kyai sufi, Imam Besar Masjid Nurussalam Gedangsewu yang dikenal memiliki “ilmu sabdo dadi” tingkat tinggi. Maka, Mbah Kyai yang juga dikenal sebagai wali’ullah itu pun dengan bismillah memberi nama sang jabang bayi itu: MOHAMMAD ILYAS SUNNAH. “Alhamdulillah..... artosipun pripun Mbah?’’ tanya ayahanda Sang Bayi. “Yo besok ben dadi wong sing ngamalke sunnahe Nabi Ilyas Ngger....” jawab sang Kyai yang menurut santrinya, Kyai Nur Salim Al-Hafidz konon sudah berusia 250 tahun. Subhanallah....

Sampai tuwek seperti sekarang ini, saya merasa belum bisa mengamalkan pesan mulia di balik nama indah pemberian Mbah Kyai Kasan Rakhmat itu. Jika mengikuti “sunnah”, jejak perjuangan Nabi Ilyas A.S. berarti sang bayi yang kini sudah berjenggot tipis ini harus mengajak kaumnya kembali menyembah Allah, tidak lagi menyembah patung Ba`al, atau “tuhan-tuhan” buatan manusia lainnya. Nabi Ilyas juga nabi yang berhasil mengkader Nabi Ilyasa` untuk melanjutkan estafita perjuangannya. Astaghfirullah..... Astaghfirullah..... Astaghfirullah.... Lha haula wala quwwata illa billah.... Semoga Allah SWT senantiasa memberi petunjuk, bimbingan, dan ampunan kepada hamba-Nya yang lemah dan sering mengkis-mengkis ini. Aamiiin.

Ngono kui lho Rek...ceritane proses kelahiranku.... Maulid Mohammad Ilyas Sunnah. Nek ora konco lan dulur, ora dak critani lho iki.... Ha ha ha.... Semoga bermanfaat. (MIS).