أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Rabu, 23 Oktober 2024
PRINSIP-PRINSIP DALAM MENELUSUR SEDULUR PARA LELUHUR
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Minggu, 20 Oktober 2024
OKTOBER, 59 TAHUN YANG LALU
![]() |
| Ilustrasi: Mbokdhe Tomblok-kurang "susurnya" |
OKTOBER,
59 TAHUN YANG LALU
Bulan Oktober 59 tahun yang lalu, desaku, Gedangsewu, di Pare, Kediri
bagai “udun” yang “jebrot”. Para santri, khususnya para pemuda yang tergabung
dalam Banser/GP Anshor Gedangsewu siaga penuh. Semangat dan ghiroh
perjuangannya untuk bergerak memuncak. Bagi mereka, saat itulah waktu yang
ditunggu-tunggu untuk melakukan pembalasan atas kebiadaban aksi-aksi PKI yang licik,
kejam, dan tak berperikemanusiaan. Sebelumnya, Jawa Timur telah diguyur darah
ratusan para Kyai dan santri yang disiksa dan dibantai PKI dalam Peristiwa Madiun.
Peristiwa 62 Pemuda Anshor yang diracuni oleh Gerwani dan dibunuh secara sadis oleh
PKI,, serta dimasukan 3 sumur di Cluring, Banyuwangi turut menggumpalkan “kobaran
perlawanan” mereka.
Sebelum G-30 S/PKI meletus, faktanya sudah didahului dengan provokasi dan aksi-aksi pelecehan dan penodaan agama melalui jaringan kesenian Lekra/PKI. Ludruk Lekra keliling mementaskan “Matine Gusti Allah” di Ngronggo, Kediri, 1964. “Gusti Allah Dadi Manten, di Prambon, 1965. “Rabine Gusti Allah” di Kecamatan Kampak, Trenggalek. “Gusti Allah Mantu” di Papar, Kediri. “Rabinya Malaikat”, “Gusti Allah Bingung” dan lain-lain. Maka wajar saja, jika di bulan Oktober 1965 itu suara adzan bergema di jalan-jalan seantero desa. Tanda ada aktivis PKI, manusia tak berketuhanan itu tertangkap dan diakhiri hidupnya.
Waktu itu Ketua/Komandan Banser dijabat oleh Lik Tris (Khoiruddin Sutrisno), adik ibundaku. Algojo Banser yang paling ditakuti orangnya gagah gedhe duwur bernama Kang Atrum, putra Pakdhe H. Thohir, kakak ayahandaku. Sedang Posko Banser berada di rumah bapak/ibuku di barat Masjid Nurus salam, Gedangsewu, karena Lik Tris sejak remaja ikut tinggal di rumah yang penuh koleksi senjata ayahandaku itu.
Ketika terdengar takbir adzan bersautan di berbagi lokasi, di rumah sekaligus Posko Banser/GP Anshor Gedangsewu, lahirlah seorang jabang bayi mungil putra keempat Pak Abdul Hamid dan Ibu Sulasmini. Mbokde Tomblok, sang dukun bayi legendaris Desa Gedangsewu-yang merupakan keturunan Mbah Kyai Nur Wahid, Tulungrejo itu pun beraksi. Dengan cekatan bayi imut itu dibersihkan, lalu dipupus tali ari-arinya, dimandikan pakai air hangat, dan di-“gedong” rapi pakai pakaian khusus bayi. Bayi yang tadinya nangis kepiyer-piyer itu pun jadi diam tenang. Lalu sang bayi diserahkan kepada ayahandanya untuk dibacai doa. Konon, sang bayi laki-laki ini semakin nyaman ketika diperdengarkan adzan di telinga kanannya dan diperdengarkan iqomah di telinga kirinya. Inilah kearifan simbolis para leluhur, agar sejak hari kelahirannya sang anak sudah mengenal Allah Rabb-nya, Muhammad Rasul-Nya dan terbiasa mendengar panggilan dan perintah-perintah-Nya.
Setelah bayi mungil itu cukup dewasa, baru ibundanya bercerita kepadanya. Pada hari ketiga, ayahandanya dulu membawa sang bayi mungil itu sowan ke Mbah Kyai Kasan Rokhmat, seorang Kyai sufi, Imam Besar Masjid Nurussalam Gedangsewu yang dikenal memiliki “ilmu sabdo dadi” tingkat tinggi. Maka, Mbah Kyai yang juga dikenal sebagai wali’ullah itu pun dengan bismillah memberi nama sang jabang bayi itu: MOHAMMAD ILYAS SUNNAH. “Alhamdulillah..... artosipun pripun Mbah?’’ tanya ayahanda Sang Bayi. “Yo besok ben dadi wong sing ngamalke sunnahe Nabi Ilyas Ngger....” jawab sang Kyai yang menurut santrinya, Kyai Nur Salim Al-Hafidz konon sudah berusia 250 tahun. Subhanallah....
Sampai tuwek seperti sekarang ini, saya merasa belum bisa mengamalkan pesan mulia di balik nama indah pemberian Mbah Kyai Kasan Rakhmat itu. Jika mengikuti “sunnah”, jejak perjuangan Nabi Ilyas A.S. berarti sang bayi yang kini sudah berjenggot tipis ini harus mengajak kaumnya kembali menyembah Allah, tidak lagi menyembah patung Ba`al, atau “tuhan-tuhan” buatan manusia lainnya. Nabi Ilyas juga nabi yang berhasil mengkader Nabi Ilyasa` untuk melanjutkan estafita perjuangannya. Astaghfirullah..... Astaghfirullah..... Astaghfirullah.... Lha haula wala quwwata illa billah.... Semoga Allah SWT senantiasa memberi petunjuk, bimbingan, dan ampunan kepada hamba-Nya yang lemah dan sering mengkis-mengkis ini. Aamiiin.
Ngono kui lho Rek...ceritane proses
kelahiranku.... Maulid Mohammad Ilyas Sunnah. Nek ora konco lan dulur, ora dak
critani lho iki.... Ha ha ha.... Semoga bermanfaat. (MIS).
-
Gang Menuju Makam Mbah Kyai Nurwahid MBAH KYAI NURWAHID: Nasab, Keluarga, dan Putra-Wayahnya Oleh: Ki Mas Ilyas Sunnah, Yogyakarta Saya me...
-
Oleh: Ki MIS Mangkudiningrat Di Antara Leluhur Keluarga Besar Kami Menjelang akhir hayat Kanjeng Emak Hj. Sulasmini Binti Wong...
-
Dirangkum Oleh: Ki MIS Ilustrasi: Diantara Para Leluhur (Sumber: Google ) I. PANDUAN NORMATIF Allah berfirman: أَعُوذُ بِاللَ...

